Tuesday, November 15, 2011

Jalan bersama mama bokik*

Mama di Kupang, saat menghadiri pernikahan Mori
Aku ingat berpuluh tahun lalu
aku jalan bersamamu
Dari Lalao ke Oeulu
Langkahmu pendek seperti langkahku
Namun engkau tak berkata “ayo cepat jalan”
Engkau selalu bersabar

Baru sekarang aku berpikir
Engkau telah cukup tua waktu itu
Namun engkau memberi kaki-kaki kecilku tumpangan
Aku di atas kuda, kau berjalan kaki menarik kudanya

Pelangi yang engkau lihat tergantung dari mana engkau memandangnya

Seorang teman, Papy Zina, bertanya: "Apakah kalau hujan buatan bisa kita melihat pelangi?" ingatan kepada pelajaran SD membuat saya menjawab: "tergantung di mana engkau berdiri akan menentukan apakah engkau melihat pelangi atau tidak."
Ternyata ingatan saya masih cukup lumayan. Kemudian saya mencari informasi tentang pelangi, dan ternyata ada benarnya: kalau engkau menghadap matahari engkau tak akan melihat pelangi. Hanya ketika engkau membelakangi matahari dan di depanmu ada titik-titik air maka engkau melihat matahari. [How rainbow are formed?][Rainbow]
Hidup tak jauh berbeda. Keindahan hidup bisa engkau lihat tergantung sudut pandangmu.  Selamat menikmati pelangi...

Sunday, November 06, 2011

Nyanyian dari sebuah gubuk kardus

KUSUSURI trotoar di tengah rintik malam ini, terdengar olehku sebuah lagu mendayu. Semakin melangkah semakin jelas dari mana arah suara itu. Sebuah gubuk kardus di sebrang jalan, nampak sayup cahaya lilin dari dalam. Alunan nada yang mendayu membuatku terpaksa menyebrang jalan untuk sekedar menengok ke dalam gubuk itu.

Seorang ayah memeluk anak laki-lakinya tidur berselimutkan kain kumal di atas tumpukan koran sambil meninabobokan anaknya. Beginilah kira-kira syair yang dinyanyikan sang ayah:


Tidurlah anakku sayang
malam telah menjemput kita
biarlah beristirahat tubuh kecilmu
maafkan ayah yang cuma sebentar bersamamu

karena hidup merampas waktuku darimunamun ketahuilah, cintaku tak pernah berkurang padamu
janganlah lagi menangis ketika aku berangkat kerja
karena aku akan selalu kembali ke rumah kita ini

tidurlah anakku sayang
cukuplah bermain hari ini
Jika engkau besar nanti
tak perlu menjadi orang besar dan dihormati
cukuplah bagimu menjadi orang baik
dan berguna bagi keluargamu
tumbuhkah menjadi besar dan bawalah cinta dalam hatimu
pikulah salibmu di jalan yang ditentukan bagimu
Jikalau hatimu susah
ingatlah cinta aku dan ibumu kepadamu
jangalah pernah lupakan darimana engkau berasal
janganlah lupakan Allahmu
dan cerita tentang sobat dari Galilea
yang sering kuceritakan kepadamu
Dialah yang menghapus airmatamu
Dialah yang membalut luka-lukamu

tidurlah anakku sayang
karena hari punya batas
dan cakrawala punya tepian
Jika engkau besar nanti
Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu
jangan pernah mengambil hak orang lain
jangan pernah iri akan keberhasilan orang lain
ingatlah cerita keadilan
yang selalu dipesankan oleh kakek nenekmu

Tidurlah putraku sayang
ayah selalu bersamamu di sini
Satu saat nanti aku dan ibumu akan pergi
Namun doa kami akan selalu bersama engkau dan adikmu
Kiranya Tuhan selalu menjaga kalian
cukuplah itu bagi kami untuk pulang dengan tenang
Jika engkau menemukan jodohmu
kasihilah dia sepenuh hatimu
jangan pernah sakiti hatinya
seperti aku tak pernah menyakiti hati ibumu
bantulah dia sepenuh hatimu
ingatlah betapa ibumu tak pernah mengeluh bersamaku
seakan tak pernah lelah merawat engkau dan adikmu


Tanpa kusadari aku telah berhenti beberapa saat untuk mendengarkan nyanyian ninabobo ini. Bahkan telah beberapa kali aku mendengarkan lagu itu. Kakiku seakan tak mau melangkah pergi. Aku terduduk merenungkan nyanyian itu di tengah rintik hujan yang belum juga berhenti. Di jalan, kendaraan terus menderu seakan tak akan peduli pada duka hati seorang anak manusia. Tak sadar butiran hangat meleleh di pipiku dan sebelum beranjak sebuah doa kuucapkan: "Tuhan, jaga keluarga ini. Amin".

Serpong, 5 November, 2011

Wednesday, September 28, 2011

Ke Lospalos Ku Kan Kembali



KAMI berhenti untuk makan siang di sebuah kampung kecil di tepi jalan di sub-district Vemasse, Baucau. Carabela nama kampung itu.

Ikan bakar, dan sambal Timor yang terbuat dari ai manas dan jeruk [1] telah menanti perut yang sejak pagi telah keroncongan. Sebuah rumah beratap daun sederhana, beberapa orang anak-anak bermain di sekitarnya dan juga sejumlah babi berkeliaran..bukan hal yang luar biasa bagiku. Duduk di atas sebuah bangku bambu sambil mengangkat kaki ke atas, menambah lezatnya ikan-ikan bakar itu. Tak seperti biasanya, aku makan banyak kali ini. Aquino makan tiga potong, aku juga. Di luar anak berebut es potong, babi-babi berebut sisa makanan.

Sehabis makan, perjalanan dilanjutkan kembali dengan malas-malas. Luis dan Vonya duduk di depan, aku dan Aquino di belakang. Suzuki Vitara bernomor polisi 15.661 itu seakan tak mau beranjak. Kami memang bukan sedang berwisata, kami sedang dalam perjalanan untuk melayat. Kakek Aquino, Pedro do Carmo Vieira, seorang Liurai [2] di Pairara meninggal seminggu sebelumnya.

Kami melewati Bucoli, kampung halaman pahlawan pembebasan Timor, Vicente dos Reis yang lebih dikenal dengan nama Sahe.[3] Mirip kampung-kampung di Timor Barat, mamar, sawah, pohon sukun, beringin, ternak. Saya membayangkan, betapa progresifnya wawasan Sahe saat itu. Anak Liurai yang baru pulang dari Lisboa itu, pulang ke kampung halamannya, memilih memakai nama asli Timornya, Sahe daripada nama sarani [4]-nya, Vincente dos Reis. Ia menjalankan program yang disebut alphabetisasi kepada orang-orang sekampungnya. Bersama-sama saudara-saudara yang bekerja sebagai guru di sekolah setempat, ia mendirikan berbagai kelompok di desa. Kelompok-kelompok ini membahas situasi politik terbaru, menjalankan koperasi pertanian, menghidupkan budaya lokal termasuk tarian-tarian dan lagu-lagu, organisasi pemuda dan organisasi perempuan. Kelompok-kelompok ini adalah pelopor yang melakukan kegiatan yang kemudian dijalankan oleh anggota Front Revolusioner Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin) di desa asal masing-masing.



Lamunan saya buyar oleh teriakan Vonya. “Camarada!” begitu sapanya kepada perempuan-perempuan yang sedang duduk di sebuah kiosk di tepi jalan. Mereka adalah ‘orang-orang Sahe’ (Sahe sira), begitu penjelasan Vonya dalam bahasa Tetum yang saya mengerti seadanya. Namun bukan itu minat saya, saya malah memikirkan mengapa mereka menyapa satu sama lain dengan camarada.[5] Alangkah asingnya, di abad duapuluh satu ini, sebuah kampung di pulau yang saya diami, kampung yang mirip kampung-kampung lain yang pernah saya lalui di pulau ini, orang saling menyapa dengan camarada. Apakah ini pertanda sosialisme belum mati, ataukah cuma roh sosialisme bergentayangan di siang hari? Jawabannya mungkin membutuhkan sebuah diskusi panjang.

Tak lama berselang kami masuk kota Baucau. Mirip Kampung Airmata di Kupang. Hotel Flamboyan [6], nampak berwajah baru. Hotel yang pada jaman Indonesia digunakan sebagai tempat penyiksaan itu, dicat merah lylac, tak nampak lagi wajah penyiksaan di luarnya. Walau, mungkin di dalamnya masih tersimpan perih sejarah.

Di tengah kota berdiri tegak sebuah gedung pasar tua yang lebih mirip gereja tua. Pasar Municipal, begitulah biasa disebut orang. Ide lama yang terpendam soal dokumentasi gedung bersejarah muncul kembali di kepala. Tepat di depan pasar itu, sejumlah toko berjajar. Western Union juga ada di sana, kalau-kalau ada yang mau mengirim uang atau mengambil kiriman. Tak ketinggalan Timor Telcom. Signal hand phone memang mulai jelas di sini. Sebuah sms masuk. Mana Karen pamit karena akan pulang minggu besok.

Arah timur luar kota Baucau, lebih mirip Nurobo di Timor Barat. Sawah luas dan ternak. Sekali dua muncul para gembala domba, mirip ba’i-ba’i [7] di Rote.

Kami berhenti sejenak di tempat dimana para suster, dan wartawan Agus Mulyawan dibunuh oleh Joni Marques. Sedikit ke arah timur, sebuah benteng Portugis tua masih nampak menyindir zaman.

Sebelum masuk Lospalos, kami masuk sebuah jalan kecil. Jalan ke Pairara. Vonya mulai menyambil satu dua shot dengan arahan dari Luis, reporter Telivicao Timor Leste (TVTL). Pagar batu, dan topografi mengingatkan aku akan kampung-kampung di Kupang Barat, tempat ayahku mengabdi selama kurang lebih 12 tahun. Tak terasa sampai sudah kami ke Pairara. Nampak beberapa tenda daun dan meja bambu. Seekor kerbau besar tertambat di bawah pohon.

Kami langsung menuju rumah tempat jenazah disemayamkan. Kami hening sejenak di depan peti jenazah. Kakek tua berhidung mancung itu nampak mengenakan dua bintang jasa di dadanya. Dari motif dan jenisnya, nampak bukan dari jaman Indonesia. Lagipula otoritas Indonesia mana yang rela memberi bintang sebagus itu kepada seorang kakek tua di sebuah negeri kering seperti ini. Sejauh perkiraan saya, bintang sejenis itu hanya milik mereka di Jakarta. Dari Aquino saya tahu bahwa orang tua yang meninggal dalam usia 90 tahun itu adalah adik kandung dari kakek Aquino. Dia lah yang membesarkan ayah Aquino saat kakek Aquino dibuang oleh pemerintah Portugis ke pulau Atauro.

Jenazah sang liurai ini telah disemayamkan selama seminggu. Penguburan belum juga dilaksanakan. Sesuai adat, sebuah upacara penguburan yang besar harus dilaksanakan, semua anak cucu dan sanak keluarga akan hadir. Jenazah akan dikuburkan dini hari saat sebuah bintang yang disebut No Ipi [8] muncul. Selama disemahyamkan, tarian dan nyanyian adat terus dilantunkan.

Sore itu, setelah beristirahat sebentar kami ke kota Lospalos. Kami tiba di kota sekitar pukul enam sore. Kota itu mungkin sedikit lebih besar dari Papela atau Ba’a di Rote. Aquino menunjukkan rumah mereka yang kini ditinggalkan. Sebuah rumah tua yang bagus. Toko-toko yang berjejer di pusat kota punya cerita sendiri. Pada jaman Portugis, toko-toko milik orang Cina itu punya nama, namun tentara pendudukan Indonesia tidak menyukai nama-nama Cina itu. Komunis katanya. Para tentara kemudian mengganti nama toko-toko itu dengan nomor. Ada sembilan toko diberi nama Toko 1, Toko 2 dan seterusnya.

Hari menjelang gelap ketika kami masuk rumah tante Aquino. Seorang gadis manis sedang menyapu di halaman. Aquino langsung menonton TV bagaikan telah seabad tak menonton TV. Aku memperkenalkan diri lalu bergabung dengan Aquino. Penghuni yang ada saat itu adalah tiga orang gadis cantik. Tak heran, rumah itu tampak rapi. Sebelum makan malam, aku mandi sebentar. Kami makan malam sambil menonton TV. Aku ingin berita, Aquino ingin film. Sang ayah, seorang anggota PNTL (Kepolisian Nasional Timor-Leste) tiba saat kami sedang makan.

Cuma sebentar kami di kota Lospalos. Setelah makan malam, kami kembali ke Pairara. Semua anggota keluarga mengantar ke depan. Mungkin sudah lama Aquino dan Vonya tidak berkunjung. Ada rasa yang lain di hati; aku ingin lebih lama di Lospalos. Di tengah jalan, telpon genggam yang dipegang Vonya sebentar-sebentar berdering. Rupanya itu adalah telpon Pedro, kakaknya yang terlanjur dibawa. Pedro tak sabar menanti telponnya.

Kembali di Pairara, kami langsung ke tenda-tenda itu. Banyak orang telah hadir. Makan malam sedang berlangsung. Menurut sopan-santun, kami harus makan lagi. Setelah membaur di tengah orang-orang selama beberapa saat, kami dipersilahkan makan lagi. Vonya dan Luis entah ke mana. Aquino menemani aku makan malam, sementara di kejauhan, suara-suara nyanyian adat terus melantun.

Sehabis makan, diskusi spontan berlangsung. Mulai dari tradisi penguburan sampai mitos asali orang Pairara, mulai dari korupsi sampai publik service, mulai dari Xanana sampai SBY dan TNI. Menjelang pukul dua dihinari, aku pamit untuk tidur. Aquino dan yang lain melanjutkan diskusi. Entah sampai jam berapa.

Aku bangun sekitar pukul 11. Ajakan Vonya untuk bersama ke Com terpaksa kutolak. Belum mandi dan sikat gigi. Vonya dan Luis berangkat sendiri ke Com. Mengundang orang-orang katanya.[9] Aquino belum juga bangun saat itu. Beberapa saat kemudian, seorang pamannya datang membangunkan. Ia mungkin tak akan bangun jika pamannya tidak berkata bahwa ia harus menemani aku sarapan. Daging lagi. Sejak kemarin memang. Aku teringat pesta-pesta di pedalaman Rote.

Sehabis makan, satu dua pembicaraan menyangkut tradisi penguburan berlangsung. Menjelang siang, seorang bocah mestizo [10] muncul. Kerinduanku pada anak kecil sedikit terobati. Dia anak yang cerdas dan berani. Steven namanya. Ibunya Australian dan ayahnya Flores, namun dia hanya bisa berbicara bahasa Tetum dan bahasa Indonesia.

Sore harinya, sebelum pulang ke Dili, kami kembali ke Lospalos. Menengok kuburan ibu Aquino dan mengisi bensin. Steven ikut. Kali ini aku di depan. Sesampai di pekuburan, Aquino meminta aku menebak kuburan ibunya. Tepat tebakanku. Kami memasang lilin di kuburan ibu, adik dan nenek Aquino. Aku ingin bertanya berapa usia Vonya saat ibunya meninggal, tapi aku urungkan. Mungkin, bukan saat yang tepat. Aku perhatikan, beberapa kali mereka menyentuh kuburan sebelum membentuk tanda salib. Suatu tradisi Katholik yang tak kumengerti maknanya. Aku sedikit merasa bersalah tak melakukannya.

Setelah kuburan, kami mengisi bensin. Aquino, Steven dan aku sempat mengambil foto di jalan yang bernama Rua Maluk Korea yang berarti Jalan Teman Korea. Nama itu adalah tribute kepada pasukan PBB asal Korea Selatan yang bertugas di Lospalos selama masa transisi PBB. Kami sempat melewati lapangan merdeka. Anak-anak dan para pemuda sedang ramai berolahraga. Ada juga yang cuma nongkrong di sekitar lapangan. Sedikit mengintari kota, kami tiba di sawah milik keluarga Aquino. Tak ada yang mengolahnya kini karena sang ayah menetap di Kupang. “Saya yang akan pulang untuk mengerjakannya” kata Aquino tak serius.

Mentari mulai condong ketika kami, keluar dari kota Lospalos. Anak-anak kampung masih bermain di luar rumah. Rumah putih di tengah padang berdiri tegak mengantar matahari pergi. Mengingatkan aku pada padang-padang Batilangak, Lalao. Selamat tinggal Lospalos, selamat tinggal Pairara. Selamat tinggal sawah, ternak dan laut. Selamat tinggal pohon sukun, tambal ban dan magrib di Lospalos. Awan putih berjejer indah. Senja di padang-padang Lospalos seakan menahan hatiku untuk tinggal. Aku akan merindukanmu Lospalos. Ke Lospalos ku kan kembali.

Catatan Kaki
[1] Sambal jeruk dan cabe khas Timor. Di Timor Barat, sambal ini disebut Lu’at.

[2] Liurai yang secara literer berarti ‘yang mengatasi segala sesuatu yang diatas tanah’ adalah gelar bangsawan di Timor Leste. Di daerah-daerah bagian timur Timor Leste yang menggunakan bahasa Fataluku, Liurai disebut Chau Hafa Malai yang secara harafiah berarti tengkorak yang berasal dari atas.

[3] Vicente dos Reis lebih dikenal dengan nama Sahe. Ia adalah salah satu dari para pemimpin tertinggi dan pendiri Fretilin. Sepuluh orang yang sering disebut menurut ketersediaan informasi tentang Fretilin antara lain: Francisco Xavier do Amaral, Alarico Jorge Fernandes, Nicolau dos Reis Lobato, Mari Alkatiri, Rogério Tiago de Fátima Lobato, José Manuel Ramos Horta, Abilio Araújo, Francisco Borja da Costa, António Carvarino (Mau Lear) dan Vicente dos Reis (Sahe). Sahe menyelesaikan pendidikannya di Liceu Dili. Pada tahun 1972 ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan bidang teknik di Lisboa. Saat Revolusi Angkatan Bersenjata 25 April 1974 yang mengantarkan Jenderal Antonio de Spinola ke tampuk kekuasaan, ia berada di Lisboa. Ia tidak menyelesaikan pendidikannya tetapi kembali ke Dili bersama Antonio Carvarinho, Maria Pereira dan lainnya. Merekalah bekas mahasiswa Lisboa yang oleh pers Indonesia dilaporkan sebagai sayap “Komunis” Fretilin. Setelah Timor-Leste memperoleh kembali kemerdekaannya, sekelompok anak muda Timor-Leste mencoba menghidupkan kembali ide-ide dan semangat yang dirintis Sahe dengan membentuk sebuah kelompok diskusi yang disebut Sahe Institute of Liberation.

[4] Sarani berasal dari kata Nazarene (orang dari Nazaret). Nazarene adalah ejekan untuk Yesus Kristus. Saat Yesus disalibkan, di atas kepalaNya tertulis, IRNI yang merupakan singkatan dari Iesus Nazarenus, Rex Ieudoreum, yang berarti ‘Yesus orang Nazaret, raja orang Yahudi.’ Ini sebenarnya adalah sebuah ejekan jika mengingat konteks politik pada saat itu. Kampung Nazaret adalah kampung terbelakang dan miskin serta tidak diperhitungkan sama sekali. Sangat ironis jika seorang dari Nazaret bisa menjadi seorang raja untuk kaum Yahudi. Menjadi raja orang Yahudi saja sudah merupakan suatu ironi, mengingat kaum Yahudi/Yehuda pada saat itu sedang dijajah Romawi. Apalagi yang menjadi raja adalah seorang dari kampung yang dianggap terbelakang. Kata Nazarene kemudian menjadi sebutan untuk para pengikut Kristus. Dalam bahasa Indonesia, orang Kristen disebut kaum Nasrani. Dalam bahasa Melayu tua dan dalam sejumlah bahasa yang mempunyai akar melayu (Ambon, Manado, Kupang) atau pun bahasa yang mendapat pengaruh melayu (Tetun), kata ini bermetamorfosis menjadi ‘Sarani’.

[5] Camarada adalah versi Timor dari kata Camerad. Sejak tahun 1974, Fretilin mempopulerkan kata ini di kalangan mereka untuk menunjukkan egalitarisme.

[6] Sebuah tempat penyiksaan pada zaman pendudukan Indonesia. [more explanation]

[7] Sebutan untuk kakek dalam bahasa Rote.

[8] Menurut mitos asali (myth of origin) orang Fataluku berasal dari bintang. [untuk penjelasan selanjutnya lihat tulisan "Matinya Seorang Chau Hafa Malai"]

[9] Menurut adat klan Cailoro, klan lain hanya boleh datang melayat setelah ada undangan resmi. Tanpa undangan, mereka tak boleh datang walau telah mendengar tentang kematian.

[10] Bahasa Portugis untuk keturunan campuran Eurasia atau Euroafro.

Misery of the ‘oldest profession’


Nottingham

PROSTITUTE Sam was just 15 when she walked the streets for the first time. She had been beaten several times by punters and spent two years in jail after she tried to rob a bank. But she doesn’t have any desire to get out of the game. Matheos Messakh reports…

BORN in Glasgow, Sam now knows Nottingham’s streets like the back of her hand. After all, she was worked as a prostitute on Mappeley Road, Cranmers Street, Villa Road, and Paddington Street for the last 13 years.

Now she mainly works St Ann’s Hill Road, in the up hill part of the city which is home to drugs pushers and hookers desperate to earn enough for their next hit on smack.

Kuta di saat bulan maduku


Perdana Mentri belanja bawa keranjang

Bagaimana jika anda bertemu seorang PM berbelanja kebutuhan rumah tangga di supermarket bawa-bawa keranjang belanja? Itu mungkin seharusnya bukan kejadian langka, tapi itu langka bagi saya sebagai orang Indonesia. Ayahku sendiri jarang melakukan hal serupa. Dan entah di bagian dunia mana ada kejadian seperti itu. Oh, Menlu Swedia, Anna Lindt[1] ditikam mati saat berbelanja dengan seorang teman di sebuah supermarket.

Minggu siang, 2 oktober 2005 dalam perjalanan ke Pasir Putih, Cristo Rei, aku mampir di Lita Supermarket.

Baru saja dua botol Gatorade kuambil dari lemari pendingin, tiba-tiba ke arahku sedang berjalan seorang tua yang sedang memegang kerangjang, menunduk-nunduk mungkin memeriksa nota belanja. Sekarang ia berada tepat di depanku nampak bingung mau ke kiri atau ke kanan. Tak lain ialah Mari Alkatiri, sang PM yang terkenal ketat dalam penganggaran itu, dan teguh dalam prinsip.[2] Aku ingin segera menyapanya, namun niat itu kuurungkan. Aku pura-pura cuek tak mengenal orang ini.

Aku ingin memperlakukan dia sebagai orang biasa saja. Aku pikir itulah yang dia inginkan ketika memilih untuk berbelanja layaknya orang kebanyakan. So, sang PM melenggang di depanku bagaikan seorang tua yang tak pernah dikenal siapa-siapa.

Aku tak tahu mengapa aku menuliskan diari ini. Mungkin karena aku terbiasa menganggap pejabat sebagai manusia yang luar biasa yang WAJIB mendapatkan penghormatan dan penghargaan. Aku jadi ingat saat PM Tony Blair datang ke Nottingham saat terjadi penembakan di Arnold, Nottingham. Orang-orang biasa saja, bahkan mungkin bisa dikatakan tak peduli. Sang PM berjalan santai bersama kepala polisi setempat, sementara orang-orang lalu lalang biasa saja. Waktu itu, aku sempat mengingat sebuah kontras belasan tahun sebelumnya saat Harmoko dan Soeharto berkunjung ke Kupang. Memang para pembesar LAYAK mendapatkan penghormatan tapi bukan pendewaan. Penghormatan yang berlebihan akan membuat mereka lupa diri, penghormatan selayaknya akan membuat orang menjadi tahu diri.

Saya teringat sebuah pengalaman yang boleh dikata memalukan. Saat itu saya sedang melakukan praktek lapangan di sebuah desa di kecamatan Molo Utara, kab. TTS, Nusa Tenggara Timur. Apalagi jaman Orde Baru waktu itu. Seorang bupati dijadwalkan mengunjungi sebuah Sidang Klasis. Ya ampun kami menunggunya dari subuh dan dia baru tiba siangnya. Padahal desa itu cukup dingin dan bangun pada pagi hari membawa penderitaan tersendiri.

Dia disambut bak raja. Dia begitu menjadikan forum sidang gerejawi itu miliknya dan orang-orang begitu terkesima. Sebentar2 bertepuk tangan. Saat dia masuk ruangan, semua orang diharuskan berdiri. saya tidak berdiri dan beberapa orang peserta sidang melirik ke saya, saya acuhkan saja. Waktu dia bicara, semua waktunya dia habiskan untuk mempromosikan dirinya dan keberhasilannya. Saya sebenarnya muak mendegarnya tapi apa boleh buat, semua orang begitu memujanya. Itulah kenangan yang masih saya ingat sampai sekarang.

Footnote:

[1] Anna Lindt adalah seorang pendukung pro-Euro. Dalam minggu yang sama setelah Lindt terbunuh, Swedia menolak Euro melalui sebuah referendum. Dalam minggu yang sama juga reporter BBC Andrew Gilligan memberikan bukti-bukti kepada Hutton Inquiry yang meneliti penyebab bunuh diri Dr David Kelly ditengah tuduhan akan apa yang disebut "sexed up" Gulf War dossier. Gilligan dand BBC mengaku bersalah bahwa telah salah mengutip pernyataan Kelly, dan dalam minggu itu juga Partai Buruh dikalahkan Partai Liberal Demokrat di daerah pemilihan Brent dalam pemilu di London Utara dengan pengalihan suara pemilih yang luar biasa yaitu 29%, sebuah kekalahan yang katanya diakibatkan oleh merosot kepercayaan kepada PM, Tony Blair.

[2] Ada banyak cerita tentang kebersahajaan para anggota Komite Central Fretilin generasi tahun 1975 termasuk yang masih hidup sampai sekarang seperti Roque Rodriguez (Menteri Pertahanan) dan Mari Alkatiri. Seorang pengawal pribadi Mari Alkatiri menceritakan bagaimana Alkatiri selalu mencuci dan menyetrika sendiri di rumah. Sebuah kebiasaan yang telah dilakoni sejak lama. Jika anda bertamu ke rumah Roque Rodriguez misalnya, anda tidak akan menemui pembantu. Roque sendiri yang akan membuatkan teh dan melayani anda. Istrinya pun tidak akan melakukan hal itu. Roque juga adalah mentri yang lebih suka membawa-bawa ransel kayak mahasiswa.

Saturday, August 06, 2011

Barcelona expands academy for youth players

Joseph Wilson
Associated Press/Barcelona, Spain


Barcelona has risen to the top of European football on the strength of its highly productive academy. Now, it's looking to expand its stock of homegrown talent through an expanded school facility to develop even more young players.

The new building was presented to the media on Friday and bears the name of the Catalan club's emblematic old residence, La Masia. By increasing its capacity from 60 to 83 players, Barca hopes to produce more stars like Lionel Messi, Andres Iniesta and Cesc Fabregas.

Tuesday, June 14, 2011

Aku merindu

Kerinduanku kepada heningmu
Membuatku terbawa ke padang-padang
dan semak seakan tak berpenghuni itu
Kota-kotamu dan temboknya bagaikan mati
Tapi ada kehidupan di sana
Damai
Nyata, tanpa pergolakan

Sunday, June 12, 2011

Francesc Fabregas i Soler: Size doesn’t matter

Matheos Viktor Messakh, The Jakarta Post, London | Sun, 06/12/2011 8:00 AM

For Francesc Fabregas i Soler, or “Cesc” as he prefers to be known, size doesn’t matter. Instead, commitment to and enjoyment of the game of soccer is the crucial factor for greatness.


“I think the best player in the world … is Lionel Messi,” the 1.75-meter-tall S
paniard said to his former teammates at FC Barcelona’s youth academy when Indonesian children asked him a question during a visit to London recently.

“So, sometimes you just have to believe in yourself and don’t think that just because you are too big or too small, or physically not strong enough. You can always improve, and if you train hard and practice in a positive way, you can always try to achieve your targets,” he told The Jakarta Post.

The Spanish midfielder is known as a captain that lets nobody down. His work ethic, vision and canny knack for making the right decision when in possession, Cesc slotted in seamlessly with Arsenal’s fluent style of play.

When Fabregas became a goal keeper

Matheos Viktor Messakh, The Jakarta Post, Jakarta | Sat, 06/11/2011 10:29 PM

Not very often does Arsenal captain and midfielder Cesc Fabregas wants to be goal keeper. Perhaps even if he is asked by Arsene Wenger. But this time the Spaniard willingly offered himself to be one.


He did it recently for a bunch of nine children from Indonesia who met him at a soccer center in London.

Thursday, June 02, 2011

Mi'raj Yesus dan murid-murid yang ternganga

Saat mi'raj-nya Yesus, murid-murid menyaksikan. [Kisah Para Rasul 1. 9]. Ketika mereka sedang menatap ke langit kosong itu, mungkin masih belum bisa mengerti apa yang terjadi, ada dua messengers [bukan dari yahoo bukan juga juga dari yang lain] berdiri di dekat mereka dan berkata: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." [ayat 10-11]

Kalau dibahasakan dalam bahasa Kupang, begini kira-kira perkataan kedua massenger berpakaian putih-putih itui:"We ba'i ngao dari Galilea dong, kanapa ko bosong badiri tanganga pi langit sa?! Itu Yesus yang naik pi langit itu nanti turun juga sama ke bosong liat sang dia naik."

Hei orang-orang yang mengaku pengikut Yesus, masih bingung ko? jangan 'tanganga' talalu lama. Atau masih mau menunggu panggilan angkat senjata dukung mesias-mesias baru yang muncul untuk lawan 'Roma' seperti yang ditanyakan murid-murid beberapa saat sebelumnya? [ayat 6]
This is no time to stand and stare. It was time for us to recognize that one day He would return in the same way as they had seen Him go (personally), and that He would then expect them/us to have completed the task that He had given. He would come personally to call them/us to account and He would not want to come and find them/us either sleeping or staring upwards. God’s prime concern was now that they take out to all the world their witness about Him.

Selamat memperingati kenaikan 'Yesus itu'...

Wednesday, June 01, 2011

Tak kutahu kan hari esok

Minggu lalu saya terlambat ke gereja.
Khotbah hampir berakhir ketika saya mulai masuk aula basketball di sebuah sekolah Kristen di BSD di mana kami menggunakannya sebagai tempat ibadah.

Tentu saja saya tidak tahu lagi dari mana dan kemana thema khotbah hari itu. Liturgi kebaktianpun tidak saya pegang jadi saya hanya mengikuti saja apa yang dilakukan orang lain. [mungkin anda ingat salah satu film Mr. Bean, tapi saya tidak seusil comedian itu].

Namun ada satu lagu di akhir kebaktian yang mengusik saya. Saya familiar dengan solmisasinya namun tidak menghafal liriknya. Bisa ditebak, saya pasti hanya lancar menyanyikan pada bagian reffrainnya, seperti Mr. Bean. Sehabis kebaktian saya mencari liturgi yang ditinggalkan jemaat lain di kursi-kursi untuk melihat lagu itu. Tenyata Nyanyian Kidung Baru No. 49 “Tuhan Yang Pegang”.

Saya terus menyinkan lagu itu sepanjang jalan ke rumah dan hampir sepanjang hari minggu itu. Di status facebook saya pun saya tuliskan beberapa penggal syair lagu itu. Sesampai di rumah saya membuka buku Nyanyian Kidung Baru dan mencari tahu isinya. Di buku nyanyian itu tertulis bahwa lirik dan syair asli lagu itu di tulis oleh Ira F. Stanphill (1914- ) dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh K.P. Nugroho (1928-1994). Perhatikan bahwa NKB sengaja mengosongkan tahun kematian Stanphill, mungkin penerbitnya bahkan tidak tahu apakah Stanphill masih hidup atau sudah meninggal.

Browsing di internet menunjukkan bahwa lagu yang berjudul asli "I Know Who Holds Tomorrow"  itu pernah dinyanyikan oleh beberapa penyanyi modern seperti Leann Rimes, Alison Krauss, dan Kelly Price. Dari pencarian di internet saya kemudian tahu bahwa lagu yang sama juga ada dalam Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) 241 namun diberi judul “Tak Kutahu kan Hari esok”.

Tapi siapakah Ira F. Stanphill?

Di Wikipedia disebutkan bahwa Ira Forest Stanphill (14 February 1914-30 December 1993) adalah seorang penulis lagu American gospel terkenal . Sumber lain menyebutkan ia telah menulis lebih dari 600 lagu dan 400 diantaranya telah diterbitkan dalam buku-buku nyanyian.

Ia lahir di Belleview, New Mexico. Pada usia 10 tahun, Stanphill sudah menjadi musisi berpengaruh yang mahir memainkan piano, organ, ukulele dan accordion. Pada usia 17 tahun ia telah menuliskan lagu-lagunya sendiri dan mementaskannya untuk pelayanan gereja, kebangunan-kebangunan rohani dan pertemuan-pertemuan doa.

Stanphill mengenyam pendidikan di Junior College di Chillocothe, Missouri dan kemudian ia menerima PhD honorary dari Hyles-Anderson College di Hammond, Indiana.

Sebagai penyanyi lagu-lagu evangelis, Stanphill banyak melakukan perjalanan di US dan Canada dan telah mengelilingi lebih dari 40 negara di dunia sepanjang karirnya untuk mengajar dan mementaskan musiknya. Banyak penyanyi terkenal menyanyikan lagu-lagunya yang kemudian mendapat pujian dan tetap terkenal sampai saat ini seperti Elvis Presley yang menyanyikan “Mansion Over the Hilltop” dan Johnny Cash yang menyanyikan “Suppertime”. Lagu-lagu lainnya yang tetap dikenal sampai saat ini dan masih tetap dinyanyikan antara lain: "I Know Who Holds Tomorrow", "I Walk with His Hand in Mine", and "We'll Talk It Over". Salah satu versi  "I Know Who Holds Tomorrow" yang saya sukai adalah yang dinyanyikan Lynda Randle seperti berikut ini:



Stanphill meninggal kurang dari dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke 80 di Overland Park, Kansas dan dimakamkan di County Memorial Gardens, Johnson County, Kansas.

Syair asli dari lagu “I know Who Holds Tomorrow” ternyata sangatlah menyentuh. Ternjemahannya juga bagus, namun mungkin karena persoalan tehnis solmisasi syairnya tidak bisa diterjemahkan secara lurus saja tanpa improvisasi.

Berikut ini adalah terjemahan saya atas lagu ini. Saya berusaha menerjemahkan agak bebas tetapi tidak sebebas yang diterjemahkan dengan memikirkan teknis solmisasi.

Tak ku tahu kan hari esok
Aku hanya hidup dari hari ke hari
[tapi] aku tak pernah meminjam dari sinar mentari
Karena langitnya bisa saja menjadi gelap.
Tak ku kuatir akan masa depan
Karena kutahu yang Yesus katakan
Dan hari ini aku akan berjalan bersamaNya
Karena Ia tahu yang terbentang di depan

Banyak hal tentang hari esok
yang tak kutahu
Tapi kutahu siapa yang memegang hari esok
Dan kutahu siapa yang memegang tanganku

Setiap langkahku menjadi lebih terang
Ke tangga keemasan aku melangkah
Setiap beban menjadi ringan
Setiap mendung menjadi berkilauan.
Di sanalah matahari selalu bersinar,
Takkan ada tangis di mataku;
Di sanalah di ujung pelangi
Di mana gunung-gunung menyentuh langit


Tak kutahu kan hari esok
Mungkin ku kan ditimpa kekurangan.
Tapi Ia yang memberi makan burung pipit
Ia jualah yang berdiri di sampingku.
Tapak-tapak yang menjadi bagianku
Mungkin saja melewati api dan banjir
Tapi Ia ada di sana sebelum aku
Dan kudiselimuti oleh darahNya…

Dan inilah syair aslinya:

I don't know about tomorrow;
I just live from day to day.
I don't borrow from its sunshine
For its skies may turn to grey.
I don't worry o'er the future,
For I know what Jesus said.
And today I'll walk beside Him,
For He knows what lies ahead.

Many things about tomorrow
I don't seem to understand
But I know who holds tomorrow
And I know who holds my hand.

Every step is getting brighter
As the golden stairs I climb;
Every burden's getting lighter,
Every cloud is silver-lined.
There the sun is always shining,
There no tear will dim the eye;
At the ending of the rainbow
Where the mountains touch the sky.

I don't know about tomorrow;
It may bring me poverty.
But the one who feeds the sparrow,
Is the one who stands by me.
And the path that is my portion
May be through the flame or flood;
But His presence goes before me
And I'm covered with His blood.

-- Awal Maret 2011

Mengapa Orang Menjadi Fundamentalis? [revised]


Kata 'fundamentalisme' aslinya digunakan untuk sebuah trend khusus dalam Protestantisme Amerika yang di dalam berhadapan dengan segala adaptasi-adaptasi modern dan liberal dari gereja, mencoba kembali ke dasar-dasar (fundamentals) alkitabiah dari iman Kristen:yaitu kepada dasar-dasar iman yang diinterpretasikan dalam cara yang sangat lepas atau sewenang-wenang.

Dalam perkembangan selanjutnya, sympton fundamentalis ini dan perkembangan -perkembangan yang mirip-mirip seperti gerakan di dalam Protestantisme ini kemudian dapat ditemukan juga di dalam gereja Katholik dan Ortodox Timur. Kemudian kata ini juga telah ditransfer ke dalam kecendrungan-kecendrungan reaksioner dalam Islam dan Yudaisme.

Menurut theolog Protestant dan Katholik asal Jerman, Jurgen Moltman dan Hans Kung, meluasnya fundamentalisme dalam berbagai agama ini menjadi alasan yang cukup untuk melihat dimensi ekumenikal dari masalah ini secara lebih serius dan mendalam. (Moltman dan Kung, Fundamentalism as an Ecumenical Challenge,SCM London, 1992, hl.vii, 106-115).

Fundamentalisme bisa dipandang dari berbagai segi: theologis, psikologi sosial, psikiatrik, sosial. Fundamentalisme dalam setiap agama juga punya karakterisitik tersendiri sesuai dengan perkembangan sejarah dan unsur-unsur yang mempertautkannya. Fundamentalisme Kristen protestan tidak bisa dibahas sama dengan fundamentalisme katholik,Islam atau Yahudi.

Yang menarik adalah bahwa dari segi psikologi sosial fundamentalisme dilihat sebagai konsekwensi dari alienasi atau keterasingan [C.Jaggi and D Krieger, Fundamentalism: A Phenomenon of the Present, Zurich, 1991]. Buku ini membicarakan antara yang dimaksudkan dengan alienasi adalah 'isolasi personal', 'marjinalisasi sosial', 'kehilangan akar etis dan kultural' atau bahkan secara lebih umum kehilangan keberlanjutan historis.


Pengalaman-pengalaman ini kemudian bertemu atau bertabrakan dengan hasrat akan kepastian, dengan hasrat akan kebenaran 'yang sejati', dengan hasrat akan gambaran yang lebih stabil tentang dunia. Dengan hasrat-hasrat ini orang merindukan figur-figur pemimpin yang mengetahui jalan yang benar dan dengan demikian mempunyai hak penuh untuk memerintahkan penolakan total.

Jadi fundamentalisme dimengerti sebagai usaha untuk mengatasi sebuah kegelisahan existensial yang mendalam dan sebuah "kekuatiran akan konflik". Di sini kategori psikologis sperti "regresi" atau konseptualitas 'Ego/Superego' nya kaum Freudian berlaku.

Jika kita ingin melihat fundamentalisme secara lebih kritis, kita tidak bisa menghindar untuk menekankan pentingnya dasar-dasar untuk kehidupan manusia. Kita membutuhkan dasar-dasar untuk bisa hidup secara lebih kreatif. Tanpa keamanan dan perlindungan dari orang tua dan rumah, perkembangan yang sehat dari emosi-emosi dan kapasitas kita menjadi terhambat. Kekuatan fisik, intelektual dan emosional kita didasarkan pada dasar-dasar cinta, perhatian dan kepercayaan (trust).

Hal ini juga berlaku dalam sebuah pengertian yang lebih trans-personal. Komunitas-komunitas, klan-klan dan masyarakat membutuhkan sejarah mereka - dalam hal ini tradisi-tradisi, ritus, pemujaan-pemujaan,- agar dapat exist secara lebih creative dan lebih kondisi yang lebih berimbang dan untuk melihat ke masa depan.

Ada satu dimensi yang lebih jauh yaitu kemampuan atau kepercayaan diri manusia untuk berhadapan dengan ketidakekalan dunia. Ada sebuah peribahasa China berbunyi: "negara dan pemerintahan datang dan pergi tetapi gunung-gunung tetap". Ini adalah sebuah expresi keyakinan akan stabilitas bumi dan waktu. Ekspresi ini juga terdapat dalam Kitab Kejadian 8: 22 : "Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam".

Keyakinan mendasar ini adalah cara paling alami darai manusia untuk berhadapan dengan masalah yang paling menggelisahkan dari keberadaan manusia, yaitu kematian.

Hidup yang kreatif dalam segala bentuknya dikembangkan di atas dasar keyakinan akan bumi dan waktu ini. Kreatifitas adalah identitas dalam transisi, sebuah pemberian masa lalu dan transfomasinya ke dalam sesuatu yang baru. Masyarakat-masyarakat, kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama dan singkatnya semua sistem yang hidup, menunjukkan kehidupan mereka dengan cara memampukan diri untuk penerimaan dan transformasi ini.

Tapi apa jadinya jika kepercayaan fundamental terhadap bumi dan waktu menjadi hilang? Apa jadinya jika sebuah proses traumatik mengaburkan penerimaan kreatif akan masa lalu dan menghalangi transformasi atas apa yang telah diwarisi ke dalam sebuah masa depan yang terbuka?

Bilamana kehancuran dalam penerimaan dan transformasi terjadi, di mana seakan 'dunia telah berakhir' tanpa ada tatanan baru yang muncul -maka reaksi-reaksi fundamentalisme akan bermunculan. Dengan demikian kita memahami fundamentalisme sebagai sebuah reaksi pathologis terhadap pengalaman berakhirnya dunia.

Butuh contoh?

Fundamentalisme Islam di Indonesia adalah contoh yang bagus untuk dibahas dalam kerangka psikologi sosial di atas.

Kita ambil saja contoh FPI atau kelompok-kelompok fundamentalisme Islam yang seakan telah menjadi polisi moral dan mau memaksakan segala aturan menurut ukuran mereka di negara ini. Coba teliti ke dalam organisais mereka, anda akan mendapatkan hard core mereka sebagai orang-orang yang gelisah akan masa depan tetapi sekaligus tidak bisa melihat keberlajutan masa lalu mereka ke masa sekarang. Di alam bawah sadar mereka, mereka merasa Islam sudah gagal, nilai-nilai Islam sedang diserbu oleh nilai modern dan Barat yang mereka anggap kafir sementara mereka tidak bisa menawarkan nilai-nilai Islam untuk diterima secara sukarela oleh semua orang bahkan oleh orang Islam sendiri.Ini konflik yang luar biasa, dan reaksi mereka adalah adalah berusaha menghilangkan konflik itu.

Itulah jawabannya mengapa mereka begitu aggresive dalam tindakan mereka, dan memaksakan nilai-nilai mereka sendiri. Itu jugalah mengapa mereka membentengi diri mereka dengan cara-cara yang artifisial seperti pakaian dan aturan-aturan.

Kalau dilihat komposisi FPI di Jakarta misalnya, kebanyakan adalah kelas bawah dan sedikit kelas menengah. Ada juga sejumlah kalangan atas tapi biasanya special case. Apa artinya ini? artinya memang kelompok inilah yang paling dipinggirkan dalam semua proses modernisasi dan pembangunan yang timpang. Itu jugalah yang menjawab pertanyaan mengapa kelompok fundamentalis ini umumnya muncul dan berkembang pesat di daerah perkotaan. Karena memang isolasi personal, marjinalisasi sosial, kehilangan akar-akar etis dan kultural itu lebih dirasakan dan nampak diperkotaan atau bahkan lebih sering terjadi di perkotaan. Itu juga menjawab pertanyaan mengapa figur prominen dalam FPI adalah Arab [kehilangan ke-Arab-an nya setelah sekian lama di Indonesia], Betawi [mearasa pemilik Jakarta tetapi termajinalisasi dari pembangunan dan modernisasi Jakarta; jadi ingat "Si Doel Anak sekolahan"], preman, tukang parkir, pengangguran dsb.

Tentu ada variabel-variabel lain yang kait mengait dalam menciptakan atau membuat orang menjadi begitu fundamentalis seperti pendidikan, indoktrinasi agama, kekecewaan akan tatanan sosial yang tidak adil dsb. Itu sebabnya tidak semua preman, tukang parkir, penggangguran, Betawi, Arab di Jakarta adalah fundamentalis. Tetapi pada dasarnya fundamentalisme muncul dari perasaan keterasingan dan alienasi, terputusnya akar-akar historis dan ketidakpastian masa depan. Ini lahan yang paling subur untuk para opportunis untuk menyuburkan fundamentalisme.

Orang-orang ini -para fundamentalis - sebenarnya adalah orang-orang yang rindu akan kepastian karean hidup mereka sendiri dipenuhi dengan ketidakpastian. Ada satu dua (mungkin die hard-nya) adalah orang-orang yang punya hasrat untuk 'kebenaran sejati'. Dan biasanya orang-orang ini akan berbalik 360 derajat kalau mereka menemukan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran yang bertentangan dengan apa yang mereka pegang sekarang. Orang-orang seperti ini biasanya akan membelakangi atau bahkan melawan orang-orang dan organisasi mereka sendiri. Dalam sejarah salah satu contoh orang seperti ini adalah Rasul Paulus. Dia bukan orang jahat pada dasarnya, dia hanya rang yang ingin menegakkan apa yang dia anggap benar tanpa pengetahuan akann sisi lain dari kebenaran. Dan karena iru begitu ia melihat sisi lain, ia berpaling. Contoh lain dalam sejarah gereja di Indonesia adalah KAM Jusuf Roni yang mirip Paulus juga sngat membencio Kristen tapi kemudian berbalik menjadi Kristen.

Karena perasaan ketidakpastian yang mendalam, orang-orang ini juga sangat mengaungkan figur pemimpin yang kuat dan mereka anggap punya klaim kebenaran. Itu sebabnya mereka tak akan melihat sisi buruk dari apa yang dilakukan pemimpin mereka. Mereka akan menjustifikasi apapun yang dilakukannya dalam kerangka pengetahuan kebenaran yang mereka miliki. Mereka akan sangat gampang memaki, menuduh dan menyalahkan orang lain yang menghalangi jalan mereka untuk memaksakan nilai-nilai mereka.

Sebagai bagian dari masayarakat yang teralienasi, prasangka sosial mereka juga sangat tinggi. Tetapi biasanya unsur agamanya lebih menonjol. Itulah sebabnya mengapa FPI dan kelompok-kelompok fundamentalis selalu menciptakan musuh bersama; kalau bukan Amerika, pasti Barat, atau Kristen atau China .

(to be continued)

Photo Caption:“Live respected or die as a martyr” reads the red-letter motto on the hoods of Front Pembela Islam members. Each year these self-appointed enforcers rally in Jakarta neighborhoods before and during the holy month of Ramadan, intimidating “purveyors of vice” such as bar owners and prostitutes. Last year their leader was jailed for inciting violence.
©2009 James Nachtwey/National Geographic

Domba Sabu, Gula Sabu dan Kapten Cook


Tahukah anda bahwa Kapten Cook yang terkenal itu pernah meminta bekal kepada orang Sabu, dan kalau bukan karena gula Sabu belum tentu ia selamat sampai Batavia kemudian melanjutkan sejumlah expedisi yang membuatnya terkenal itu?

Ini cerita tentang bagaimana Kapten Cook dan awak kapal Endeavor singgah di Sabu pada September 1770 dan kemungkinan asal-usul domba Sabu.

Kalau anda pernah melihat domba di Sabu [still looking for the latin name] dan membandingkannya dengan domba di pulau lain di Nusa Tenggara Timur, seperti domba dari Rote misalnya, anda akan tahu bahwa domba Sabu berbeda ciri fisiknya dari domba-domba dari daerah lain di sekitarnya. Perawakannya lebih besar, bulu-bulunya lebih lebat dan terutama ekornya lebih gempal mirip domba dari Eropa. Pernahkah anda bertanya mengapa demikian?

Secara penamaan bisa dipastikan bahwa domba di Sabu adalah ternak yang hadir kemudian dari manusia di Sabu sebab nama yang digunakan untuk domba adalah kii jawa yang secara harfiah berarti ‘kambing asing’ atau ‘kambing dari luar’. Kecendrungan untuk memberi atribut ‘asing’ kepada entitas yang baru diperkenalkan dari luar memang umum di kalangan kebudayaan timur, misalnya artibut ‘kase’ di Timor. Sehingga di Timor misalnya, anda akan mengenal nama-nama seperti bijae kase [kerbau asing] untuk sapi, fua kase [kacang asing] untuk…, pen kase [jagung], dst. Bahkan nama klan pun ada yang bernama Kase.

Kembali ke domba sabu berekor gempal, kita patut bertanya kira-kira dari manakah asal domba-domba ini. Sementara domba di Rote disebut bibi lopo/bibi lombo, mengartikulasikan nuansa keaslian asal domba-domba itu atau paling tidak memgimplisitkan kehadiran mereka yang telah cukup lama sehingga tidak diberi atribusi ‘asing’ lagi. Sebaliknya, domba di Sabu dikategorikan ‘asing’ oleh orang Sabu.

Dugaan saya akan asal-usul domba Sabu ini seakan terjawab sedikit ketika saya menemukan sebuah buku kumpulan tulisan tua berjudul: To the Spices Islands and Beyond – Travels in Eastern Indonesia, sebuah kumpulan tulisan yang dikompilasi dan diberi pengantar oleh George Miller. [Oxford, Kuala Lumpur, 1996].

Dalam buku itu terdapat sebuah tulisan menyangkut Sabu yang berjudul “Sustenance from dry, isolated Savu”[i] karya Joseph Banks, seorang botanist muda yang turut dalam pelayaran kapal Endeavor yang dinakhodai Kapten Cook. Tulisan itu sebenarnya adalah catatan harian Banks tentang pulau Sabu yang mereka singgahi pada bulan September 1770 karena kehabisan bekal.

Setelah saya melakukan pencarian lewat mesin pencari, ternyata perjalanan ini merupakan pelayaran Kapten James yang pertama yang kemudian dikenal dengan Pejalanan Perdana James Cook (1768-1771) [lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/First_voyage_of_James_Cook]. Memang dalam banyak literature tentang perjalanan itu lebih sering disebut Batavia sebagai salah satu tempat singgah dan Sabu sering dilupakan, -mungkin karena dianggap kecil signifikansi sejarahnya- namun fakta sejarah menyatakan bahwa Endeavor pernah singgah di Sabu karena lasan hidup dan mati: mencari perbekalan.

Dalam pencarian saya selanjutnya saya menemukan bahwa ternyata Banks dan Kapten Cook mempunyai catatan khusus dan lumayan lengkap tentang pulau Sabu. Catatan-catatan Banks itu bisa anda baca di link wikipedia berikut ini: [http://en.wikisource.org/wiki/The_Endeavour_Journal_of_Sir_Joseph_Banks/September_1770] atau di

[http://en.wikisource.org/wiki/The_Endeavour_Journal_of_Sir_Joseph_Banks/Accounts_of_Savu_and_islands_near_Savu]

Joseph Bank yang saat itu baru berusia 27 tahun kemudian menjadi terkenal dan lama menjabat sebagai President of the Royal Society dan pejabat Inggris di Australia. [lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Banks]

Namanya bahkan diabadikan sebagai nama sebuah jenis tanaman bunga yang disebut banksia. [lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Banksia]. Dia pulalah yang memperkenalkan acasia, eucalyptus dan putri malu ke Eropa.

Sebagai bontanist, Banks punya perhatian khusus terhadap tetumbuhan dan binatang namun catatannya selama di Sabu memberikan detail dan deskripsi yang akurat tentang situasi ekonomi, sosial dan politik di Sabu pada saat itu.

Baik Cook maupun Banks begitu terpesona dengan keindahan Sabu, terutama detail dari pulau itu yang jarang diperhatikan oleh pengamat yang lain. Kesan ini sangat luar biasa mengingat bahwa mereka tiba di sana pada akhir dari musim kemarau yang panjang.

Banks juga menyebutkan kehadiran seorang Eropa sebelum mereka yaitu Johan Christopr Lange, yang ia sebut sebagai “satu-satunya orang kulit putih yang tinggal di pulau itu”. Banks menyebutkan bahwa Portugislah yang pertama datang ke Sabu namun mereka lebih sering hanya mengirimkan kapal-kapal kecil untuk berdagang dengan pribumi,dan tidak menetap di Sabu. Mereka lebih sering menipu orang Sabu daripada berdagang secara fair dengan mereka.

Belanda kemudian menggantikan Portugis dan Banks menyebut bahwa sekitar sepuluh tahun sebelum kedatangan Endeavor di Sabu, sebuah perjanjian aliansi telah ditandatangani oleh lima orang raja Sabu dan VOC. Konsekwensinya adalah VOC mensuplay raja-raja ini dengan linen dan sutra, peralatan makan, dan segala benda-benda yang mereka inginkan. Semuanya disajikan dalam bentuk hadiah yang dilengkapi dengan guci-guci dan rak-rak minuman keras.

Sebagai balasannya para raja-raja ini hanya melakukan perdagangan dengan VOC. Setiap tahun mensuply beras, jagung, dan calevanses[?] yang dikirim dengan sekoci-sekoci ke Timor. Sebagai akibat dari kesepakatan antara raja-raja Sabu dan VOC tsb, Mr Lange, seorang Portugis India yang nampaknya merupakan wakil dari Lange, dan seorang Belanda India yang bertugas sebagai kepala sekolah dijinkan tinggal di antara orang Sabu. “Mynheer Lange”, begitu sebutan Banks, adalah pejabat VOC di Sabu, yang mempunyai 50 budak berkuda yang setiap dua bulan melakukan tour ke seluruh pulau, mengunjungi para raja-raja dan mensurvei tanaman-tanaman yang mereka peruntukkan bagi VOC.

Banks juga menyebutkan bahwa dalam 3 hari kehadiran mereka di Sabu, mereka bertemu “the Radja A Madocho Lomi Djara”. Menurut James Fox, nama A Madoko Lomi Djara [Ma Doko Lomi Djara] muncul dua kali dalam geneologi kerajaan Seba, namun sangat mungkin ia adalah anak dari Djara Wadu yang menandatangi Kontrak dengan Belanda tahun 1756.

Banks menggambarkan bagaimana A Madocho menjamu mereka dengan “36 jenis makanan atau keranjang-keranjang penuh nasi dan daging babi rebus, 3 mangkuk besar penuh kuah/kaldu daging yang disajikan di atas tikar.”

Mereka dipersilahkan membasuh tangan dalam basket water [haik] yang dipikul seseorang kemudian duduk dalam bentuk linkaran dan makan. Banks menyatakan bahwa kebiasaan di Sabu, yang menjamu makanan tidak akan makan bersama-sama dengan yang dijamu namun jika dicurigai bahwa makanan tersebut telah diracuni maka yang menjamu akan makan terlebih dahulu.

“Kami tidak mencurigai apapun” kata Banks, lalu mereka duduk dan makan dengan lahapnya dan perdana mentri dan Mr Lange pun makan bersama mereka. Anggur yang dibawa orang-orang Inggris pun diedarkan namun sang raja pun menolak minum bersama mereka dengan mengatakan bahwa tuan pesta tak boleh mabuk bersama tamu-tamunya. Mereka makan dengan lahapnya hingga yang tersisa cuma remah-remah yang tak menimbulkan selera lagi.

Banks secara khusus tertarik kepada lontar yang ia sebutkan sebagai penyedia makanan pokok bagi orang Sabu dan untuk dipertukarkan. Banks menyebut lontar dengan nama latin borassus flabellifer namun sekarang disebut sebagai borassus sundaicus.

Antroplog James Fox, di kemudian hari menyebutkan bahwa tanpa catatan dari Banks dan Cook ini, pengetahuan akan Sabu akan sangat sedikit dan terbatas selama hampir seabad setelahnya. [lihat James J. Fox, Harvest of the Palm: ecological change in Eastern Indonesia, Harvard University Press, Cambridge, Mass, 1977. P. 126].

Para awak Endeavor berhasil mendapatkan bekal baru di Sabu dan ketika mereka bertolak ke Batavia mereka membawa bekal berupa sembilan ekor kerbau, enam ekor domba, tiga ekor babi, tiga puluh lusin ayam, beberapa buah limau, beberapa buah kelapa, lusinan telur, sedikit bawang dan ratusan gallon ‘palm syrup’. Bank menyebut bekal itu “cukup untuk membawa kami ke Batavia” dan bahkan syrop itu bahkan bisa untuk jangka waktu yang lebih lama lagi.

Yang menarik adalah sebuah bagian dalam jurnal Banks yang menyatakan bahwa Raja Madocho Lomi Djara meminta seekor domba Inggris yang katanya tinggal satu-satunya dan domba itu diberikan kepada sang raja:

“..The king express a desire of having an English sheep, we had one left which was presented to him. An English dog was the asked for and my greyhound presented to him. Mynheer Lange then hinted that a spying glass would be acceptable and was immediately presented with one.”

Dari sini kita tahu bahwa seekor domba dari Inggris dan seekor anjing greyhound jelas pernah ada di Sabu sejak bulan September 1770. Bukan tak mungkin domba terakhir di kapal Endeavor yang dihadiahkan kepada Raja Madocho Lomi Djara itu kemudian dikawinkan dengan domba yang sudah ada di Sabu dan hasilnya adalah domba Sabu sekarang yang berekor gempal dan berbulu lebih lebat dari domba-domba yang ada di Rote atau di Timor.

Di Sabu sendiri sudah ada domba, sebegaimana disebutkan dalam catatan Banks bahwa mereka mendapat bekal enam ekor domba lagi, namun kenyataan bahwa sang raja tertarik dengan domba Inggris ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lain yang pada domba itu. Mungkin saja domba itu kemudian dikawinkan dengan domba Sabu yang lain yang keturunannya bisa kita lihat sekarang. Mungkin saja. [***]

Photo Caption: Rumah di Sabu pada saat kedatangan Endeavor. Gambar ini dibuat oleh Sydney Parkinson, juru gambar Joseph Banks, yang sekarang merupakan koleksi dari British Library.Gambar ini juga dipakai James Fox dalam bukunya Harvest of the Palm. Fox mengkritik ketidakakuratan penggambaran di mana orang memanjat lontar dengan memikul haik di pundak yang menurutnya tak mungkin terjadi. Biasanya orang membawa haik tapi diikat di pinggang.