Wednesday, December 19, 2012

Cerita Lagu Ofa Langga

Setiap orang Rote pasti mengenal lagu Ofa langga. Tapi tentang apa sebenarnya lagu itu? Sekilas dilihat dari liriknya lagu itu seakan berkisah soal suka duka orang Rote dalam pelayaran melewati selat antara pulau Timor, pulau Semau dan Pulau Rote, yaitu selat Pukuafu, atau juga sering disebut Lolok oleh sebagian orang Rote. Bahkan ada yang menyebut selat berbahaya itu sebagai "kuburan orang Rote". Namun sebenarnya lagu itu punya konteks personal dan politis yang membuatnya menarik.

Konon lagu ini berkisah tentang dilema sepasang  muda-mudi Rote di masa pendudukan Jepang. Penulis populer masyarakat Rote, Paul A Haning, menyebut konteks penciptaan lagu ini sekitar tahun 1943, dimana banyak pemuda Rote, oleh Jepang dikirim secara paksa (forced migration) ke Kupang dan beberapa tempat lain untuk kepentingan romusha. Jarak Kupang dan Rote seorang mungkin bukanlah sebuah jarak bagi bagi orang dengan kemudahan transportasi yang nama, namun Kupang dan Rote di tahun 1940-an tentu berbeda, apalagi kepergian sang pemuda bukalah untuk wisata atau mengunjungi keluarga, melainkan untuk kerja paksa bagi kepetingan balatentara Jepang.

Menurut Paul A. Haning, sebuah kapal pengangkut menunggu di Pelabuhan Pantai Baru untuk mengangkut romongan romusha ke Kupang. Para romusha datang dari berbagai wilayah di Rote. Bisa anda tebak sendiri bagaimana kisah perpisahan antara sang pemuda dan tunangannya. Dalam rombongan romusha itu ada seorang pemuda lain yang pandai menyanyi dan mencipta lagu. Kisah sepasang muda-mudi ini kemudian dituliskan dalam lagu Ofa Langga Soba-soba atau sering disingkat Ofa Langga.

Sangat menarik jika bisa kita dapatkan dokumentasi (deskripsi dan statistik) pengangkutan romusha dari Rote ke Kupang pada masa pendudukan Jepang. Ini akan memberi sedikit gambaran yang lebih jelas soal konteks lagu ini.

Dari segi syair, ada sejumlah hal yang bisa diinterpretasi. Walaupun ada berbagai versi dengan perbedaan di sana sini, saya mengutip versi yang dituliskan oleh Paul A. Haning bersama Ena Hayer Pah.

Ofa langga adinda soba-soba                  Haluan perahu mencoba-coba
Ofa langga adinda soba-soba                  Haluan perahu mencoba-coba
Soba nita adinda tasi anin                        Mencoba akan laut dan angin
Soba nita adinda tasi anin                        Mencoba akan laut dan angin
Soba sayang kasian susi ana                   Mencoba sayang, kasihan susi ana
Lu reme adinda susi matan                      Airmata menetes dari mata susi
Se tanggon pinu rembe                            Siapa yang menanggung ingus dan airmata
bu bo'i susa hati                                       Bu sayang bersusah hati


Ref: Se nae dae ki, dae ki tua meko        Konon di negeri (sebelah) utara, sebelah utara tua meko
Se nae dae kona, kola de'a Pante Baru   Konon di negeri selatan, merangkai kata, Pantai Baru
Nae lena seri tadadi lena seri                   Ingin menyebrang tak bisa menyebrang
Nae nasafali tadadi nasafali.                    Ingin berbalik tak bisa berbalik



Kata adinda yang dipakai adalah kata bahasa Melayu adinda yang sangat mungkin menunjuk kepada sang gadis. Pemakaiannya di tengah kalimat jika diterjemahkan akan mengganggu pengertian syairnya, namun harus dipahami kata ini dipakai sebagai rhima dalam lagu ini.

Kata bu adalah sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Rote yang sangat mungkin adalah pengaruh dari kata bung dalam bahasa Melayu. Sedangkan kata susi adalah sebutan untuk kakak atau saudara perempuan dalam bahasa Rote yang sangat mungkin dipengaruhi oleh kata bahasa Belanda zusje artinya saudara perempuan.

Pulau Rote adalah pulau yang membujur timur barat sehingga dae ki menunjuk kepada pantai utara Rote yang biasanya banyak digunakan sebagai jalur pelayaran ke Kupang, juga di mana sepanjang pantai utara ini terdapat sejumlah pelabuhan seperti Oelua di nusak Dengka (sekarang Kecamatan Rote Barat Laut), pelabuhan Baa di Nusak Baa (sekarang masuk ke dalam Kecamatan Lobalain), pelabuhan Pantai Baru di Nusak Korbafo (sekarang termasuk dalam kecamatan Pantai Baru), dan pelabuhan Papela di Nusak Ronggou (sekarang bagian dari kecamatan Rote Timur).

Sebaliknya, dae kona menunjuk kepada wilayah dan pantai selatan pulau Rote. Nusak Thie yang berada di bagian selatan, dikenal dengan nama lain Rene Kona yang berarti sawah (di sebelah) selatan. Jadi si pencipta lagu kemungkinan berusaha mengungkapkan luasnya dampak atau jangkauan rekruitmen untuk romusha yang meliputi berbagai nusak/kerajaan di Rote. Sang penyair juga berusaha mengambarkan dilema sepasang muda-mudi ini dengan gambaran "maju tak maju, mundur tak mundur" bagaikan kapal yang terombang ambing. Dan dalam kenyataannya sang pemuda berangkat dalam kapal serupa. Kalimat "kola de'a, Pantai Baru" menunjukkan terjadinya sebuah pembicaraan yang maju dan mundur seakan tak kunjung selesai di (pelabuhan) Pantai Baru.

Makna dan perlambangan dimainkan dengan cantik di sini. Bukan hanya hati kedua insan yang terombang ambing, tetapi sang kapal pun akan terombang ambing menghadang angin dan gelombang. Sekarang ini, dengan ada moda transportasi modern seperti ferry, jarak Kupang dan Rote hanya ditempuh dalam waktu dua sampai empat jam. Bukan jarak yang luar biasa. Juga terpaaan gelombang relatif lebih ringan jika dibanding menggunakan perahu layar. Walaupun ferry pun pernah tenggelam di selat yang bernama Pukuafu itu. Apalagi dulu, dimana perlayaran Rote-Kupang dapat ditempuh lebih dari sehari, bahkan bisa berminggu jika berhadapan dengan angin dan gelombang. Pada saat itu Kupang dan Rote bukanlah jarak yang dekat. Itulah sebabnya dalam lagu yang lain dengan judul yang sama, Fridel Eduard Lango memasukan dalam syairnya: "Kota nai kota de, Lote nai Lote de" (Kupang adalah di Kupang dan Rote adalah di Rote).

Walaupun pencipta lagu ini tidak dikenal, Paul A Haning menyatakan bahwa bagian ini sedikit mengungkapkan identitas sang penyair. Haning (dalam bukunya Sasando, alat Musik Tradisional Masyarakat Rote Ndao, 2009) menyatakan bahwa penulis lagu ini adalah orang Thie dengan mengacu kepada pengunaan kata bo'i yang menurutnya di masa lalu hanya terdapat dalam dialek Thie, walaupun kita telah dipakai dalam beberapa dialek Rote yang lain.

Bo'i dalam dialek Thie adalah bentuk pendek dari kata bonggi yang berarti beranak atau kandung. Ungkapan ini biasa dipakai untuk mengungkapkan kedekatan hubungan atau afeksi dan penghormatan kepada seseorang, dalam pengertian persaudaraan. Jika seorang Rote menyebut anda sebagai mama bo'i atau papa bo'i, tidak dimaksudkan secara harfiah bahwa anda adalah ibu kandung/ibu yang mengandung atau ayah kandungnya, melainkan ia sedang mengungkapkan afeksi dan kedekatan hubungan personal dengan anda, seakan menyatakan bahwa kasih sayangnya kepada anda adalah sama dengan kasih sayangnya kepada ayah atau ibu kandungnya sendiri.

Memang di Rote bagian timur, antara lain di Landu dan Ringgou, kata bo'i juga eksis namun mempunyai arti yang lain yaitu payudara. Jadi kesimpulan tentang identitas pencipta lagu ini bisa mendekati kebenaran jika dilihat dari penggunaan kata ini.

Sebagai lagu rakyat, lagu ini punya beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Ada sebuah versi mempunyai judul yang sama namun berbeda dalam irama dan syair yaitu versi penyair kenamaan Rote, Fridel Eduard Lango. Versi F.E. Lango adalah sebagai berikut:

Ofa langga soba-soba
Soba nita tasi anin
Soba sayang kasian
Lu leme susi matan

Nae lena seli tadadi lena seli
Nae nasafali tadadi nasafali
Adu kasian, adu kasian mama boi ee
Rote nai Rote dei
Kota nai Kota dei
Mama boi ee, Dandi daen tou daen
Sopa oen tou oen
Lamatuak ifa au

  (bersambung)

Rumah di Nemberala, Rote

Mau bikin rumah di Kupang atau di Rote, boleh juga seperti ini....pingin punya rumah seperti ini di tepi pantai..
Rote Island Images
This photo of Rote Island is courtesy of TripAdvisor

Rote Island Pictures
This photo of Rote Island is courtesy of TripAdvisor

Sunday, December 16, 2012

“Aku seorang penjual Alkitab”: Ryan Gosling dalam Gangster Squad


Minggu lalu, saya menemukan sebuah trailer “Gangster Squad” film baru yang diperankan Sean Penn (Mickey Cohen) yang baru akan diluncurkan tahun depan. Dalam film yang dasarkan pada buku dengan judul yang sama karya Paul Lieberman, Sersan Jerry Wooters (Ryan Gosling) mengucapkan satu kalimat yang menarik. Wooters berkata “I am a Bible salesman” ketika ditanya Grace Faraday (Emma Stone) tentang apa pekerjaannya.  Saya suka jawaban itu dan kalimat itu saya posting di status facebook saya. Ternyata statemen itu menarik perhatian beberapa teman.

Film yang diinspirasi oleh kisah nyata ini, adalah kisah dua orang detektif LAPD yang berusaha membebaskan LA dari gangster di tahun 1940an and 1950an. LA waktu itu dikuasai raja bandit Mickey Cohen yang menguasai semua penghasilan dunia kejahatan mulai dari drugs, senjata, dan prostitusi. Ia tidak hanya menguasai orang-orangnya tetapi para polisi dan politisi dibawah kontrolnya. Semua orang takut, kecuali agen LAPD dipimpin oleh sersan John O'Mara (Josh Brolin) dan Jerry Wooters (Ryan Gosling), yang bersatu untuk melawan Cohen.

Film ini direncanakan untuk diluncurkan pada 7 September 7, 2012, tetapi terjadi bebeapa penundaan dan karena terjadi Aurora shooting, oleh Warner Bros. Pictures peluncurannya dimundurkan ke 11 January 2013.


Penasaran dengan asal usul statement itu, saya menelusuri dunia maya. Akhirnya saya sampai kepada sebuah novel karya Clyde Edgerton berjudul “The Bible Salesman”. Novel yang diterbitkan tahun 2008 itu menceritakan tentang Henry Dampier, pemuda berusia 20 tahun yang bergumul dengan dilema moral dan pekerjaannya.

Diceritakan bahwa saat dia sedang berkeliling menjual Alkitab yang semula ia maksudkan untuk dibagikan secara gratis, Henry bertemu seorang penipu: Preston Clearwater. Kalau Henry adalah penipu bernuansa religius dengan menjual Alkitab, Clearwater adalah penipu yang sekuler. Clearwater mengaku bahwa ia adalah seorang agen FBI padahal ia adalah anggota sindikat pencuri mobil. Ia mengaku kepada Henry bahwa sebagai agen FBI ia sedang mencoba menyusup ke jaringan pencuri mobil dan membutuhkan seorang rekan. Henry bisa menjual Alkitabnya kapan saja ketika ia tidak sedang membantu Clearwater (and FBI) mencuri mobil sebagai bagian dari aksi penyusupan, kata Clearwater.


Dalam bab-bab yang berjudul “Genesis” dan “Exodus”, dan kemudian“Revelation”, Henry bergumul dengan kesimpulan-kesimpulan theologis sementara kejahatan Clearwater, yang tidak diketahui olehnya, makin menjadi-jadi. Alkitab dan hormone adalah dua kekuatan yang luar biasa namun Henry berhasil untuk tidak memperdayai keduanya. Sebagai seorang penganut Baptist yang teguh, ia tidak menyesal menipu dalam menjual Alkitab, namun ia berat menerima inkonsistensi dalam Injil. Misalnya: Kalau Allah itu berkuasa, mengapa ia perlu beristirahat pada hari ketujuh?

Sebaiknya Clearwater adalah seorang penggoda, yang percaya bahwa dunia tak lebih hanyalah sebuah tempat bagi terjadinya sesuatu. Bahkan sebelum Henry bertemu Marleen Green, seorang gadis yang kemudian mengambil keperjakaan Henry, Clearwater telah merasionalisasi seruan Alkitab yang mengutuk sex di luar perkawinan. Jika orang seperti Abraham “si orang baik” melakukannya tanpa ganjaran, mengapa saya tidak”, kata Henry kepada dirinya kemudian.

Alegory menjadi dewasa yang sangat longgar dari Henry, dari Taman Eden milik Marleen ke konfrontasinya dengan iblis, membuatnya berhenti dari kelas-kelas Sekolah Minggu (dalam tradisi gereja Baptis di Amerika selain kebaktian minggu, ada juga kelas-kelas untuk pendalaman Alkitab yang disebut Sunday Schools) ke ambiguitas moral Alkitab.“I’ve changed my ideas about a lot of things,” Henry berkata kepada sepupunya setelah janji untuk menjaga keperjakaannya luluh di hadapan Marleen Green. Sang sepupu menanyakan apa yang terjadi. “I started reading the Bible,” katanya. Ia baru benar-benar membaca Alkitab ketika diperhadapkan dengan pergumulan eksistensial. 


Bukankah hidup kita seringkali seperti Henry Dampier?

Kita menyangka kita telah berada di jalan yang benar, kita telah bekerja pada orang yang benar, kita telah membela orang yang benar, kita telah memegang ideologi yang benar, kita telah melakukan yang benar, tetapi sebenarnya kita bersandar pada tiang yang salah. Banyak kali tanpa kita sadari kita sebenarnya sedang membela para penjahat, dan penipu, dan pembunuh dan kita menyangka kita sedang melayani Tuhan lewat apa yang kita lakukan.

Seperti Henry kita menyangka kita sedang bekerja sebagai abdi negara, yang membolehkan kita untuk melanggarkan sejumlah prinsip moral dan etis, tetapi sesungguhnya kita sedang mengabdi pada para penipu yang memperalat kita untuk kepentingan mereka saja. Kita begitu naive untuk tidak mengetahui ke mana, dari mana dan untuk apa kerja yang kita lakukan.  Ada juga yang sadar namun tidak berdaya untuk melepaskan diri, atau sudah merasa nyaman dalam kejahatan sehingga dan berusaha merasionalisasi apa yang sedang dijalani.

Ketika kita tidak sadar akan apa yang kita lakukan kita akan berkata “kita hanyalah penjual Alkitab”, Cuma sebuah buku, sebuah barang yang sedang kita jual, seperti halnya barang-barang dan buku lainnya. Tetapi ketika kita diperhadapkan dengan dilema-dilema moral dan etis dalam pekerjaan kita maka kita, seperti Henry, akan bilang “saya mulai membaca Alkitab”. Bukan sebuah buku lagi yang sedang kita perjualbelikan namun sebuah kuasa yang sedang kita hadapi, kuasa yang menggoncang iman kita, yang mengganggu kesadaran dan nurani kita. Sebelumnya kita hanya “menjual Alkitab”, kini kita mulai “membaca Alkitab”.

Kembali ke film Gangster Squad, kita mengerti sekarang mengapa sersan Jerry Wooters (Ryan Gosling) mengaku kepada Grace Faraday (Emma Stone) bahwa ia adalah seorang penjual Alkitab. Para polisi sedang melakukan sesuatu yang mereka tahu salah: main hakim sendiri melawan para bandit, membantai para bandit tanpa jalur hukum. Sersan John O'Mara bahkan berkata: “We are not solved any case here, we are going to war!”. 

Mereka tahu tugas mereka sebagai polisi adalah melindungi tetapi karena para gangster sudah tak bisa diatasi lagi, mereka mengatasinya dengan cara mereka sendiri. Dan mereka sadar itu salah tapi mereka tak punya pilihan. Jerry Wooters saat hendak menembak seorang musuh yang terjatuh, sang musuh berkata: “kamu tak mungkin melakukan ini, kamu seorang polisi.” Wooters berkata: “tidak lagi,” lalu menembak orang itu.  Tulisan dalam trailer itu berbunyi: “To save the law, break it!”

Itulah para penjual Alkitab yang merasa tak ada hubungan antara apa yang mereka lakukan dan apa yang tertulis dalam Alkitab. Menjual Alkitab adalah satu hal, membaca dan menaati Alkitab adalah hal yang berbeda. 

Saturday, December 08, 2012

River of Dream




SAYA lupa kapan saya pertama kali mendengarkan lagu ini, yang jelas saya familiar dengan iramanya. Selain itu saya menyukai refreinnya: “in the middle of the night” terutama dengan backing vocal yang mendayu. Entah mengapa saya tidak menaruh perhatian kepada lagu ini sejak dulu. Mungkin karena ketika saya pertama kali mendengarkannya, bahasa Inggris saya baru sepatah dua kata sehingga saya tidak menyimak.  

Baru beberapa minggu lagu, saya menemukan lagu ini lagi, terima kasih kepada YouTube. Saya mendengarkannya sekali, dua kali dan berkali-kali. Saya mengerti sekarang arti syairnya dan mengerti setiap kata. Saya suka pausing-nya dan kesunyian sebelum Billy Joel melanjutkan: ... in the middle of the night". Saya suka athmosfir lagunya. Sedikit hitam dan misterius tetapi sekaligus kudus.

In the middle of the night
I go walking in my sleep
From the mountains of faith
To the river so deep
I must be lookin' for something
Something sacred i lost
But the river is wide
And it's too hard to cross
even though I know the river is wide
I walk down every evening and stand on the shore
I try to cross to the opposite side
So I can finally find what I've been looking for.

In the middle of the night
I go walking in my sleep
Through the valley of fear
To a river so deep
I've been searching for something
Taken out of my soul
Something I'd never lose
Something somebody stole

I don't know why I go walking at night
But now I'm tired and I don't want to walk anymore
I hope it doesn't take the rest of my life
Until I find what it is I've been looking for
(Three beat Pause)
In the middle of the night
I go walking in my sleep
Through the jungle of doubt
To the river so deep
I know I'm searching for something
Something so undefined
That it can only be seen
By the eyes of the blind
In the middle of the night
(break)

I’m not sure about a life after this
God knows I've never been a spiritual man
Baptized by the fire, I wade into the river
That is runnin' through the promised land
(Long Five beat Pause)

In the middle of the night
I go walking in my sleep
Through the desert of truth
To the river so deep
We all end in the ocean
We all start in the streams
We're all carried along
By the river of dreams
In the middle of the night




Hidup kadang merupakan satu mistery. Existensi kita adalah sebuah tanda tanya besar. Kenapa kita di sini? Apa tujuan hidup kita? Kita lahir, hidup dalam jangka waktu tertentu di alam raya ini, lalu kita mati. Lalu orang lain lagi lahir dan memulai lingkaran kehidupan yang sama, begitu seterusnya.

Banyak yang tak peduli, tetapi banyak yang juga yang bertanya mengapa kita di sini? Banyak yang mencari jawaban ke mana-mana tapi tak menemukan apa-apa. Ada yang merasa menemukan jawaban tetapi pada saat yang sama masih ragu. Ada yang menipu diri dan merasa telah menemukan semua jawaban.
Ya, bagaikan berbicara kepada diri kita sendiri dalam moment-moment yang menentukan dalam hidup kita, siapakah sebenarnya diri kita di dunia yang tak berakhir dan berkesudahan ini.

Kadang kita merasa ada yang hilang dari diri kita dan kita tidak tahu apakah yang hilang itu. Kita mulai mencari tapi tak tahu apa yang kita cari. Seperti kata Billy Joel, kita mencari dari gunung-gunung iman yang tinggi ke sungai yang begitu dalam dan gelap. Sesuatu yang sakral yang telah hilang dari diri kita. Tapi sungai itu terlalu luas dan arusnya terlalu keras untuk disebrangi.
Walau kita tahu sungai itu dalam dan deras, kita tetap ingin mencari juga. Setiap malam kita turun ke sungai, berdiri di pinggir sungai. Mencoba mencari jalan untuk menyebrang.

Kadang di tengah malam, kita berjalan dalam tidur kita. Meliwati lembah ketakutan, ke sungai yang sangat dalam itu. Kita terus mencari sesuatu yang diambil dari jiwa kita itu. Sesuatu yang tak pernah hilang sebelumnya namun sekarang telah dicuri orang. Kita tidak tahu mengapa kita selalu berjalan di tengah malam.

Kadang kita merasa sudah terlalu lelah untuk mencari dan tak mau berjalan lagi. Kita berharap agar pencarian kita itu tidak berlangsung sepanjang sisa hidup kita. Malam-malam panjang di mana  kita berjalan dalam tidur kita kiranya segera berakhir. Agar kita tidak selalu melewati rimba keraguan, menuju sungai yang begitu dalam. Terus mencari sesuatu, sesuatu yang tak bisa didefinisikan. Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh mata orang buta.

***

Walaupun beberapa kali Billy Joel mengatakan dirinya atheis, latar belakang Yahudinya membuat ia mampu menggunakan symbolisme Yahudi dan Alkitab dalam lagu-lagunya, termasuk lagu ini. Misalnya ketika ia bilang bahwa ia semakin tidak yakin dengan kehidupannya, lalu ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Tuhan tahu ia bukan orang yang spiritual, yang dibaptis oleh api, berjalan ke dalam sungai yang mengalir meliwati tanah perjanjian.

Namun saya lebih setuju bahwa apapun konteks terciptanya sebuah lagu, kadang lagu itu mempunyai arti yang berbeda bagi setiap orang yang punya pengalaman hidup yang berbeda. Interpretasi dari sebuah lagu harus dimulai dan diakhiri pada diri setiap pendengar.

Karena itu lebih baik kita tidak menghancurkan makna lagu ini dengan cepat-cepat memberi makna religius bagi lagu ini. Sebab walupun lagu ini kaya dengan symbolisme dan mystisism Yahudi, kehebatan lagu ini justru terletak pada terbukanya kemungkinan interpretasi kepada makna universal dari pergumulan batin manusia. Seluas sungai yang dalam dan gelap, demikianlah luasnya dan dalamnya percarian, ketakutan dan pergumulan kita. Banyak orang pernah merasakan malam-malam kelam tiada berkesudahan, malam-malam dimana mata tak bisa dipejamkan. Malam-malam penuh mimpi-mimpi yang kelam dan gelap. Malam-malam itu adalah malam semua orang. Kita semua berjalan meliwati gurun-gurun kebenaran, gunung-gunung iman namun sama-sama berakhir di samudra.

We all end in the ocean, we all start in the streams
We're all carried along, by the river of dreams. In the middle of the night

Terima kasih Joey untuk lagu yang begitu indah dan penuh pergumulan. 

Friday, December 07, 2012

Pacquiao-Marquez IV



It’s absolutely true that if Joe Cortez had called the fight off after the third knock down, nobody would have criticized him and the idea that we would have the subsequent fight between these two great fighters would be far-fetched. Probably we wouldn’t have had Paquiao-Marquez two, three, and now four. But life is funny and so many things that happened in sports could go either way at a given time.

Three bouts, 36 rounds, 108 minutes of fighting have left these two men very much still in dispute. And in a cord on just one matter. Another meeting in the ring was required to settle the tale of Pacquiao and Marquez. A fourth collision is the only solution that remain.

Sunday, December 02, 2012

"Hidup pasti sangat murah di sana!": Multatuli tentang Pulau Rote

Tahukah anda bahwa Eduard Douwes Dekker alias Multatuli pernah menulis tentang Rote dalam novelnya Max Havelaar? 


Dalam novel abad 19 yang berpengaruh tentang Hindia Belanda itu, sebuah bagian yang mencurigakan muncul. Seorang tokoh dalam novel itu, Batavus Drystubble, seorang broker kopi dari Amsterdam, mendapat sebundel koleksi aneh manuscript dari seorang bernama Scraftman (lihat Max Havelaar, Bab IV ). Scraftman menggambarkan dirinya sebagai seorang pujangga dan penulis yang telah banyak berpikir, bekerja dan melihat.

Walaupun Drystubble yang aslinya seorang bisnisman dan pedagang kopi tidak tertarik dengan pemberian ini namun ia mau juga menelusuri halaman-halaman koleksi ini. Seperti disertasi dari sebuah universitas modern, koleksi itu memuat essay dari berbagai topik: Asal-usul aristokrasi, asal usul negara Russia, tentang mithologi Icelandia, tentang penemuan baju zirah, tentang arsitektur orang Moor, tentang wayang China, tentang theori populasi Malthus dalam hubungannya dengan subsistensi dst. Si Drystubble selalu memberi komentar atas list ini, antara lain misalnya dia menulis: "sudah kubilang kan bahwa daftar ini aneh".

Di antara daftar panjang itu ada satu entri yang menarik perhatian Drystubble: "tentang orang-orang yang tidak makan di pulau Rote dekat Timor." Bagi mereka yang tahu tentang Rote, judul ini tentu mengacu kepada kenyataan bahwa orang Rote meminum kebanyakan dari makanan mereka daripada memakannya. Pagi-pagi anak gembala misalnya, bawa gula aer untuk sarapan siangnya, minum tuak waktu pagi dan sore, minum susu kerbau atau kambing, makan lawar dengan minum gula, minum laru obat, atau kebiasan rebus-rebus ala pesta orang Rote.

Namun Drystubble menerjemahkannya secara berbeda. Menurutnya, orang-orang Rote adalah orang-orang yang bisa menghindari kemahalan dan masalah makan. Dengan coretan pensilnya dia menambahkan ke daftar itu: "Hidup pasti murah di sini."

Antropolog terkenal James J. Fox kemudian mengangkat thema ini sebagai pembukaan dari bukunya yang terkenal "Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia." (Harvard, 1977). Fox menyebut bukunya itu sebagai semacam pengganti dari imaginasi Scrafman tentang manuscript-manuscript itu.
Kalau Scrafman cuma bisa berimajinasi, Fox datang sendiri ke Rote bersama istrinya dan tinggal di Rote tahun 1965-1966, tepatnya di rumah Mias Kiuk di Ufa Len, Termanu selama beberapa tahun. Fox diangkat anak oleh daelangak Stephanus Adulanu, dan Raja Ernst Amalo menyebutnya sebagai anak dari saudara perempuannya. Jadi Fox menganggap Raja Ernst-- yang kemudian menjadi Camat Rote Tengah-- sebagai to'o nya. (Fox, 1989).

Stephanus Adulanu, yang biasa dipanggil Meno Tua, karena dia adalah daelangak dari klan Meno, meninggal 30 Maret 1970, dan Fox kembali ke Rote pada bulan September 1972. Setelah disetujui oleh 'saudara tua'nya Ayub Adulanu, atas usulan Fox didirikanlah sebuah tutus untuk mengenang ayah angkatnya itu. Saat itu ritual pendirian tutus sudah ditinggalkan oleh orang Rote karena dianggap kafir oleh gereja tetapi Fox berhasil meyakinkan pihak keluarganya dan pihak keluarga  to'o huk-nya Ernst Amalo untuk mendirikan tutus  itu.

Ritual pendirian tutus adalah pendirian monumen yang terbuat dari kayu dengan landasan batu yang diperuntukkan untuk mengenang tokoh penting yang telah meninggal. Fox (1971) menjelaskan , bahwa:


"All Rotinese rituals of the life-cycle are explicitly phrased in a botanie idiom that draws multiple metaphoric analogies between human life and the growth of specific plants. Thus a single idiom encompasses both human and agricultural rituals."

Akhirnya setelah meliwati persiapan yang panjang, bahkan melalui perdebatan dalam sidang gereja, akhirnya tutus itu didirikan dan diberi nama Dale Sue (Hati Sayang) pada 30 Juni 1973. Pada Hari yang sama, saya dilahirkan di Metina, Baa, beberapa kilometer dari tempat tutus itu didirikan.

Kita kembali sejenak ke reaksi Fox soal imajinasi Scrafman bahwa "orang Rote yang meminum makanannya".  Bagi Fox, kenyataan bahwa orang-orang di pulau di sudut bagian timur Indonesia itu kebanyakan meminum makanannya daripada memakannya adalah fakta sosial yang tidak biasa dan menarik. Tetapi bahkan jauh lebih menarik lagi bahwa orang Rote -- dan tetangga mereka orang Sabu, harus memperoleh keunggulan ekonomi mereka dari kondisi subsisten yang tidak biasa. (Fox, 1977: 3).


Sebagai orang Rote, kita mungkin tidak melihat keunggulan ekonomi (dalam bahasa Fox "economic advantage") yang telah dicapai orang Rote itu karena kita lahir dan besar di pulau itu, lahir dengan gula aer, gula nira, makan rumput laut, makan ikan panah langsing di laut, minum laru, makan pagi kering dan padi basah, piara sapi, kambing dan domba, punya sawah dan mamar.

Tapi bagi bagi orang yang mempunyai sedikit pengetahuan yang luas tentang sejarah sosial orang Rote - dan Sabu, akan cukup terpesona bagaimana orang-orang dari dua pulau kecil dan kering itu bukan hanya survive tetapi mampu membawa diri mereka sebagai pemain utama sejarah sosial di Timor dan sekitarnya. Kalau sekarang banyak yang melihat penurunan dalam partisipasi dan peran orang Rote, itu lain cerita. Tapi kalau mau lihat sejarah secara utuh, bagi saya sungguh luar biasa peran orang Rote dan ini saya sadar bukan sekedar romantisme untuk memuji-muji orang Rote!.

Bibliography

Fox, James, Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia." Harvard, 1977.
Fox, James, "The Aroma of the Name, The Celebration of A Rotinese Ritual of Rock and Tree", dalam Rituals and Socio-Cosmic Order in Eastern Indonesian Societies; Part I Nusa Tenggara Timur 145 (1989), no: 4, KITLV Leiden, hal. 520-522.
Fox, James, 'Sister's child as plant: Metaphors in an idiom of consanguinity', in: R. Needham (ed.), Rethinking kinship and marriage, pp.219-52. London, 1971: Tavistock.
Multatuli [Eduard Douwes Dekker], Max Havelaar, Rotterdam: Elsevier, 1881.


Saturday, November 24, 2012

Why I love Leonard Cohen



Leonard Cohen - Old Ideas (2012)
Track Listing
01 00:00 "Going Home"
02 03:48 "Amen"
03 11:22 "Show Me the Place"
04 15:30 "Darkness"
05 19:59 "Anyhow"
06 23:06 "Crazy to Love You"
07 26:10 "Come Healing"
08 29:00 "Banjo"
09 32:20 "Lullaby"
10 37:01 "Different Sides"


"Going Home"

I love to speak with Leonard
He’s a sportsman and a shepherd
He’s a lazy bastard
Living in a suit


But he does say what I tell him
Even though it isn’t welcome
He just doesn't have the freedom
To refuse

He will speak these words of wisdom
Like a sage, a man of vision
Though he knows he’s really nothing
But the brief elaboration of a tube

Going home
Without my sorrow
Going home
Sometime tomorrow
Going home
To where it’s better
Than before

Going home
Without my burden
Going home
Behind the curtain
Going home
Without the costume
That I wore

He wants to write a love song
An anthem of forgiving
A manual for living with defeat

A cry above the suffering
A sacrifice recovering
But that isn’t what I need him
To complete

I want him to be certain
That he doesn’t have a burden
That he doesn’t need a vision
That he only has permission
To do my instant bidding
Which is to say what I have told him
To repeat

Going home
Without my sorrow
Going home
Sometime tomorrow
Going home
To where it’s better

Than before
Going home
Without my burden
Going home
Behind the curtain
Going home
Without this costume
That I wore

Going home
Without the sorrow
Going home
Sometime tomorrow
Going home
To where it’s better
Than before

Going home
Without the burden
Going home
Behind the curtain
Going home
Without this costume
That I wore

I love to speak with Leonard
He’s a sportsman and a shepherd
He’s a lazy bastardLiving in a suit

"Amen"

Tell me again
When I’ve been to the river
And I’ve taken the edge off my thirst
Tell me again
We’re alone and I’m listening
I’m listening so hard that it hurts
Tell me again
When I’m clean and I’m sober
Tell me again
When I’ve seen through the horror
Tell me again
Tell me over and over
Tell me that you want me then
Amen…

Tell me again
When the victims are singing
And the Laws of Remorse are restored
Tell me again
That you know what I’m thinking
But vengeance belongs to the Lord
Tell me again
When I’m clean and I’m sober
Tell me again
When I’ve seen through the horror
Tell me again
Tell me over and over
Tell me that you love me then
Amen…

Tell me again
When the day has been ransomed
And the night has no right to begin
Try me again
When the angels are panting
And scratching at the door to come in
Tell me again
When I’m clean and I’m sober
Tell me again
When I’ve seen through the horror
Tell me again
Tell me over and over
Tell me that you need me then
Amen…

Tell me again
When the filth of the butcher
Is washed in the blood of the lamb
Tell me again
When the rest of the culture
Has passed through the Eye of the Camp
Tell me again
When I’m clean and I’m sober
Tell me again
When I’ve seen through the horror
Tell me again
Tell me over and over
Tell me that you love me then
Amen…

"Crazy to Love You"

I had to go crazy to love you
Had to go down to the pit
Had to do time in the tower
Begging like crazy to quit

I had to go crazy to love you
You who were never the one
Whom I chased through the souvenir heartache
Her braids and her blouse all undone

Sometimes I'd head for the highway
I'm old and the mirrors don't lie
But crazy has places to hide in
That are deeper than any goodbye
[ Lyrics from: http://www.lyricsty.com/leonard-cohen-crazy-to-love-you-lyrics.html ]
I had to go crazy to love you
Had to let everything fall
Had to be people I hated
Had to be no one at all

I'm tired of choosing desire
I've been saved by a blessed fatigue
The gates of commitment unwired
And nobody trying to leave

Sometimes I'd head for the highway
I'm old and the mirrors don't lie
But crazy has places to hide in
That are deeper than any goodbye

Had to go crazy to love you
You who were never the one
Whom I chased through the souvenir heartache
Her braids and her blouse all undone 

"Banjo"

There’s something that I’m watching
Means a lot to me
It’s a broken banjo bobbing
On the dark infested sea

Don’t know how it got there
Maybe taken by the wave
Off of someone’s shoulder
Or out of someone’s grave

It’s coming for me darling
No matter where I go
Its duty is to harm me
My duty is to know

There’s something that I’m watching
Means a lot to me
It’s a broken banjo bobbing
On the dark infested sea


"Lullaby"

Sleep baby sleep, 
The days on the run 
The wind in the trees is talking in tones 
Lullaby 

If your heart is torn 
I don't wonder why 
If the night is gone 
Is my lover there 
Is my lover there 

Well the mouse eats the crumb, 
Then the cat eats the crumb. 
Now they've fallen in love, 
Then they're talking in tones 

If your heart is torn 
I don't wonder why 
If the night is gone 
Is my lover there 
Is my lover there 

Sleep baby sleep, 
There's the morning to come, 
The winds in the trees, 
They're talking in tones.


"Different Sides"

We find ourselves on different sides 
Of a line nobody drew 
Though it all may be one in the higher eye 
Down here where we live it is two 

I to my side call the meek and the mild 
You to your side call the Word 
By virtue of suffering I claim to have won 
You claim to have never been heard 

Both of us say there are laws to obey 
Yeah, but frankly I don't like your tone 
You want to change the way I make love 
(But) I want to leave it alone 

The pull of the moon, the thrust of the sun 
Thus the ocean is crossed 
The waters are blessed while a shadowy guest 
Kindles a light for the lost 

Both of us say there are laws to obey 
But frankly I don't like your tone 
You want to change the way I make love 
(But) I want to leave it alone 

Down in the valley the famine goes on 
The famine up on the hill 
I say that you shouldn't, you couldn't, you can't 
You say that you must and you will 

You want to live where the suffering is 
I want to get out of town 
Come on, baby, give me a kiss 
Stop writing everything down 

Both of us say there are laws to obey 
Yeah, but frankly I don't like your tone 
You want to change the way I make love 
(But) I want to leave it alone 

Both of us say there are laws to obey 
Yeah, but frankly I don't like your tone 
You want to change the way I make love 
(But) I want to leave it alone...





Monday, November 19, 2012

Suu Kyi: I never felt that I was not free

Mendengar pidato Aun San Suu Kyi di  Sorbonne pada 28 Juni 2012 ini tiba-tiba membuat saya berpikir tentang video game, calculator, komputer and segala kemudahan yang dimiliki kita dan anak-anak jaman sekarang. Kadang saya membayangkan kalau tidak ada calculator dan saya harus menghitung sesuatu dalam waktu yang sangat singkat dalam situasi yang sangat genting dengan konsekwensi nyawa saya, apakah saya akan survive? Kemudahan jaman modern dengan segala fasilitas dan kemudaan telah membua banyak di antara kehilangan apa yang disebut Suu Kyi dengan "inner resources".

Pidato ini mengingatkan kita akan esensi pendidikan yang sebernarnya yaitu mengasah inner resources kita agar dalam kondisi yang sulit kita tidak hanya survive tetapi terus bertumbuh. Terlalu banyak pendidikan yang menghasilkan banyak mediocre karena kemudahan yang tersedia. Saya teringat seorang kepala sekolah pendidikan pertanian di Naibonat, Kupang yang pernah dengan sangat sinis mengatakan: "kerbau pun kalau disekolahkah akan mendapat ijazah."

Berikut ini adalah transkrip dari pidato Aung San Suu Kyi pada bagian awal video ini:

"..One of the things that help me to pass these years with equanimity was my curiosity. I was always wanting to know more, about what was happening to the world around me and to myself as well. And however small the world may be, even if its confined to one house or even to one room, there is always something of interest could going on. And because of these interests I never felt that I was not free. I have sometimes felt somewhat unreal, because I was not in contact with the rest of the world, but I never felt that I was not free because my mind was free to think. And to think about new things. Everyday day it seems to me that there were new things to think about.

I practice meditation during those years, and this teaches you a lot about yourself. You should try to sitting very quietly for about 20 minutes and not thinking, it very difficult not to think. And then you realized what your mind is really like. And little by little, because you know more about yourself,  you are more sensitive to what is going on around you. And of course I was lucky enough to have a radio to listen to, and books to read.
All of us need inner resources at some time or the other. If you are lucky you may not have to depend on them too much. But circumstances around you are such that your life is restricted in certain ways then you have to fall back on your inner resources. And I think that's what education should be about: to built up your inner resources so that whatever circumstances you may find yourself, you will be able, not just to survive but to grow. Because life is about growing. Its not about remaining static. Its about learning new things every day, even if just something about yourself, or something about the room in which you are forced to be.

So I hope that all of you today will help me to learn new things in the next hour and a half, or perhaps less. And that the questions that you ask me will help me to ask questions about our situation in Burma. Because question lead to other question. Some have asked me: "Aren't you bored with people asking the same question again and again?" Its not quite like that, people put their questions in different ways. And sometimes, even the same questions can provoke new insides into the issue that they are addressing. I look very much forward to the questions that you will put to me. And I hope that they will as interesting for you as I am sure you questions will be to me, that my answer should be as interesting as your question will be to me. Thank you." 


Pidato ini sangat menarik dan sangat asli, dan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaanpun sangat bagus. Selain itu, ia sangat sangat eloquent dalam bahasa Inggris dan juga sangat influence dalam bahasa Prancis.