Thursday, June 28, 2012

Tujuh koran terakhir dari Palmerah

Kubawa pulang tujuh edisi terakhir koran yang kami hasilkan di malam-malam Palmerah. Akan kusimpan baik-baik dan suatu saat akan kutunjukkan kepada anakku bahwa aku memang diharapkan kakek mereka menjadi pendeta tetapi aku memilih menjadi wartawan.

Namun dewa Hermes tetap berpihak padaku sejak aku belajar Hermeneutika di sekolah Theology sampai menjadi pemimpin koran kampus, koran LSM dan akhirnya wartawan THE JAKARTA POST. Dewa pembawa pesan itu berkata kepadaku bahwa yang penting bukanlah medium dari pesan namun bagaimana agar pesanmu sampai. Di situ kamu dihitung telah menjalankan tugasmu.

Terlalu berlebihan jika aku mengatakan aku terlahir sebagai wartawan, namun aku harus akui bahwa jalan hidup yang kupilih membentuk aku sebagai wartawan dan aku akan tetap sebagai pembawa berita di manapun aku berada. Terima kasih kawan-kawan Palmerah yang tak mungkin kusebutkan satu persatu. Terima kasih juga kepada semua teman wartawan yang telah menjalani hari bersama-sama sebagai wartawan. 

Tidak akan ada lagi moment kita disibukkan dengan mencari kutipan segar, nyeletuk atau aneh yang membuat sebuah karakter hidup di halaman koran, mencari color dan detail yang membuat story menjadi lebih real. Tidak akan ada lagi keharusan mendiskripsikan events secara elegan untuk membuat pembaca ikut tertawa, menangis atau marah. Tidak akan ada lagi keharusan untuk menghibur dan memberi informasi, untuk menggambarkan bagaimana rasanya di lapangan, arena pertandingan, atau di locker room. Tidak akan ada lagi keharusan memberi makna sebuah story dan menempatkannya dalam perspektif. Dan oh, tidak akan ada lagi deadline dalam waktu 15 menit.

Tidak akan ada lagi hari-hari di jurang di pertandingan paragliding, di pantai di pertandingan jetsky atau selancar, di pinggir lapangan volley pantai, dekat dengan pemain sepakbola ternama, mengetik dengan kaki celana digulung di atas meja karena kebanjiran. Tidak akan ada lagi kesulitan menemukan LEAD, kesulitan mengambarkan magnitude dari sebuah event, menempatkan dalam konteks historis.

Tidak akan ada lagi keharusan menahan diri bertingkah seperti fans walaupun hati tak dapat ditahan untuk meminta tandatangan olahragawan favorit. Kita punya akses yang dimimpikan oleh semua fans, namun kita tak bisa bertingkah seperti fans memakai jersey dan nomor punggung pemain favorit kita.

Tidak akan ada lagi jalan kaki sepanjang lintasan atau mengintari stadion karena angkutan umum tak diperbolehkan di kompleks olahraga. Tidak akan ada lagi kutipan-kutipan yang klise dan menyebalkan tentang  "penyelesain akhir" atau bagaimana menjadi focus agar bisa menang.Tidak akan ada lagi rapat-rapat yang kadang cerdas kadang dull, kadang membuat tertawa terpingkal, kadang menyebalkan. Tidak akan ada lagi MUNTABER (muntah-muntah tanpa berita). Tidak akan ada lagi martabak, pizza atau kue dan makanan gratis saat ada yang berulang tahun atau resign. Tidak akan ada lagi berantem karena tampilan dan isi halaman dianggap kurang bagus atau tak sesuai hasil rapat. Tidak akan ada lagi kunjungan pejabat dan celebrity.

Itulah hari-hari kita. Hari-hari di mana kita dibentuk, karena tak ada wartawan olahraga yang langsung dari bangku kuliah langsung menuju Wimbledon atau Piala Eropa. Tidak ada wartawan lepas dari bangku kuliah langsung mewawancarai Fabregas atau LeBron James. Tidak ada yang langsung mewancarai pemegang Nobel Perdamaian atau seorang  Presiden. Semua dimulai dari reporter. Lebih tepat masa uji coba menjadi reporter. Kurang tidur namun tetap harus bangun pagi menjadi kebiasaan. Lupa makan sampe kena maag adalah langganan. Pulang malam bukan cuma urusan pekerja klub hiburan malam. Dan ohhh Roker malam adalah kami. Kami adalah wartawan merangkap ROKER MALAM (Rombongan Kereta Malam).

Malam-malam Palmerah akan berakhir bagiku...Aku datang ke Palmerah dengan sebuah koper dan 'one way ticket' hasil pinjaman family. The Jakarta Post menjanjikan akan membayar ticket pulangku jika aku tidak diterima. Ternyata tidak ada ticket pulang bagiku, sampai enam tahun kemudian, sampai kedua anakku lahir di Jakarta. Dua hari lagi aku akan pulang dengan tiket yang kubeli sendiri. Doakan aku di jalan yang baru..tetap sebagai pembawa pesan....

Palmerah, 28 Juni 2012
Dua hari menjelang

Thursday, June 07, 2012

Anak dalam kandungan ibu yang setia itu, pagi tadi diwisuda di UPH


Dua puluh dua tahun lalu aku sedang rajin-rajinnya mengikuti paduan suara gereja. Bukan sepenuhnya karena aku senang menyanyi, tetapi sebagian karena aku sedang naksir seorang gadis yang sekarang menjadi istriku. Namun  bukan kisah cintaku yang akan kuceritakan dari kisah paduan suara ini, melainkan kisah seorang seorang ibu yang setia dan rajin.

Ibu  itu, aku biasa memanggilnya tante Lin, adalah anggota paduan suara Ebenhaezar di mana aku bergabung. Dia sangat setia dan hampir tak pernah alpa mengikuti latihan paduan suara setiap  malam Kamis, Jumad dan Sabtu. Selalu datang lebih awal bersama temannya, tante Eti, walaupun semua anggota paduan suara datang terlambat dan banyak yang lebih sering tidak datang.

Ibu itu adalah seorang binatu yang juga biasa menjadi bidan melahirkan dan tukang pijat di kampungku. Suaminya, om Nadus begitulah kami memanggilnya, adalah pekerja serabutan mulai dari menggali sumur, menggali kuburan dan kadangkala menjadi tukang kayu dan batu. Manakala ada yang membutuhkan, mereka mendapat pekerjaan. Begitulah kehidupan mereka dan setahu aku tidak ada anak-anaknya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Dua puluh dua tahun lalu, ya aku ingat benar karena waktu itu aku kelas tiga SMA menjelang lulus dan aku dikeluarkan dari sekolahku karena sering bolos. Dan aku ingat benar, tante Lin sedang hamil waktu itu. Namun dia tetap setia dan rajin seperti biasa. Tidak banyak bicara dalam paduan suara namun selalu datang tepat pada waktunya. Selalu hadir walau anggota paduan suara lain mulai kehilangan semangat untuk berlatih. Dalam bayanganku,  orang pertama yang selalu aku temui di bangku-bangku kosong gereja atau bangku kosong tempat latihan paduan suara adalah Tante Lin.

Waktu berlalu begitu saja dan aku menamatkan SMA lalu melanjutkan kuliah dan harus tinggal di asrama sebuah perguruan tinggi. Aku tak bisa mengikuti latihan paduan suara lagi. Aku pun sudah melupakan anak dalam kandungan itu entah kapan lahirnya. Walaupun rumah kami berdekatan, dan aku masih sering pulang, aku tak lagi bisa merasionalisasi yang manakah anak yang dulu dikandung itu, karena keluarga itu punya beberapa anak. Lagipula aku jarang berkunjung ke rumah mereka dan kalau pulang ke rumah hanya sebentar.

Di tahun 2008 saat aku telah bekerja di Jakarta, facebook mempertemukan aku dan seorang anak yang aku tahu adalah anak dari ibu itu. Dia telah bersekolah di perguruan tinggi swasta terkemuka di Karawaci, Univeritas Pelita Harapan.  Aku mengundang ke rumah dan kami tahu beberapa hal darinya.  Iya bercerita dengan bangga dan polos bahwa ia bisa melanjutkan pendidikan ke UPH. Awalnya ia bahkan tak tahu kalau UPH itu salah satu univeritas pretigious, universitas tempat Agnes Monica mengenyam pendidikan.

Undangan wisuda, kepada siapa harus dikirimkan?
Dari cara berceritanya, saya bisa menangkap wawasan anak ini dan saya tahu otak anak ini lumayan encer. Setelah dia pulang saya dan istri saya sepakat dalam kesan bahwa anak ini berbeda dari mahasiswa-mahasiswa lain yang pernah kami temui. Polos, cenderung lucu tapi berani berpikir di luar mainstream dan mau belajar. Tidak malau-malu mencoba sesuatu. Saya dan istri sepakat bahwa anak seperti inilah yang pantas kami dukung.

Menurut anak ini, beasiswa UPH bukanlah yang pertama kali ia dapatkan. Ia pernah mendapatkan sebuah beasiswa sebelumnya karena nilainya yang tinggi namun beasiswa yang suduh dijanjikan itu kemudian dikasih seorang temannya, anak pejabat di kelasnya. Ia tidak kecewa.
“beta percaya kalau Tuhan su kasih Dia sonde akan lari ke mana-mana dan beta percaya beta pung bagian ada,” katanya saat itu.

Beasiswa UPH pun tidak didapatkan dengan gampang. Dia mendaftar pada hari terakhir menjelang penutupan pendaftaran karena tidak punya uang. Biaya formulir Rp. 50 ribu terpaksa ia pinjam dari teman sekelasnya yang kemudian ia ganti secara bertahap. Malam menjelas tes, di rumahnya ada kematian, sehingga ia tak mungkin belajar. Apalagi ia harus menjaga adiknya yang masih bayi. Ia tidur malam itu tanpa menyentuh buku.
“Beta su biasa belajar sambil koko adi dan bamasa, jadi beta sonde kuatir apa yang terjadi besok pagi. Beta tidur malam itu dengan doa bahwa kalau memang ini beta punya, Tuhan sonde akan kasi ke mana-mana,” katanya.

Dince termasuk diantara 17 anak yang lulus dari seluruh propinsi NTT dan empat orang yang lulus dari SMA 1 Kupang. Dia hampir tak percaya kalau dia dinyatakan lulus.  Tak pernah ia membayangkan dalam hidupnya akan keluar NTT, apalagi ke Jakarta.

Barulah saya sadar bahwa anak ini adalah anak yang dalam kandungan tanta Lin 22 tahun lalu, setelah saya tanyakan usianya dan saya kalkulasi dengan tahun saya ‘aktif’ di paduan suara.

Pagi tadi, 1 Juni 2012, anak yang dalam kandungan 22 tahun lalu itu, diwisuda di UPH. Wisuda yang adalah wisuda dual degree UPH Teacher College dan Corban University mengambil thema dari Injil Matius 25:21  “May we be faithful”. Saya merasa harus menyempatkan diri untuk datang dan saya merasa sungguh terhormat bisa mendampinginya. Ayah dan ibu tak bisa datang karena tak punya ongkos. Aku tak mungkin bisa menggantikan mereka di sisi anak ini, namun aku hadir setidaknya untuk menyatakan perhormatan dan kekaguman akan pencapaian anak ini. Orang pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan universitas dan menamatkan diri dari sebuah perguruan tinggi prestigious di Indonesia.

Tulisan di dinding itu bukan kebetulan belaka.
Pagi tadi saat saya tiba di UPH, dia tersenyum lebar menyambut saya, dengan ciuman.  Kelihatan begitu cantik dan bahagia. Tanpa rasa malu dia membanggakan Kebaya dan sarung yang ia pakai yang katanya adalah kebaya dan sarung milik ibunya.

Dalam acara wisuda dan pelepasan wisudawan,  James T. Riyadi pendiri UPH bicara soal ‘cantik’ (beautiful). Dia bilang dalam beberapa hari ini yang dia perhatikan satu hal yang sama dari para wisudawan UPH. Kebetulan dalam seminggu terkahir UPH telah melakukan dua kali wisuda. Satu hal yang sama itu adalah: para wisudawan nampak beautiful. Namun dalam pidatonya itu James Riyadi bilang kencantikan itu bukan sekedar tampilan fisik tapi apa yang muncul dari dalam dan apa yang kita lakukan. Ia mengutip Roma 10: 15: “Alangkah indahnja kaki-kaki mereka jang membawa kabar-jang-baik". Dan profesi guru menurutnya adalah profesi yang membawa orang kepada kabar baik dan karena apa yang mereka lakukan sungguh indah/cantik. Para wisudawan memang cantik-cantik pagi tadi, namun ada kecantikan yang lebih luar biasa, kecantikkan sebagai Gamaliel-Gamaliel baru yang akan mendidik anak-anak di dalam ketaatan kepada Tuhan dan Yesus Kristus.

Di akhir pidatonya Riyadi membesarkan hati para guru baru ini dengan mengutip sebuah ayat dari kitab Wahyu 3:8 yang berbunyi: " .. Aku telah membuka pintu bagimu yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun .."
Dan memang banyak pintu yang dibukakan dalam perjalanan hidup anak ini. Selama empat tahun di UPH, kadang dia tidak punya uang untuk sekedar membeli jajan, sabun atau perlengkapan anak gadis umumnya. Dia bahkan tak punya biaya untuk liburan ke Kupang.
“Selalu saja ada yang membantu tanpa saya minta.”
Ia menceritakan kepada saya sebelumnya banyak orang-orang yang menolongnya tanpa ia perlu mengiba-iba atau meminta-minta atau menceritakan latar belakang keluarganya. Ia memang pandai membawa diri dan disayangi banyak orang. Ada orang China Ambon yang telah menganggapnya sebagai cucu sendiri, yang selalu mengundang ke rumah. Ada keluarga guru dan orang tua murid di Jawa tengah yang selalu mengantarkan makanan kepadanya dan teman-temanya saat dia melakukan praktek kerja lapangan di sana dan masih banyak lagi tangan-tangan yang menopang.

Percayalah pada Tuhan dengan segenap hatimu.
Satu lagi ‘kebetulan’ yang kadang membuat saya lucu jika mengingatnya adalah keinginannya untuk punya laptop sendiri tanpa harus bolak balik ruang computer dan asrama atau berkali-kali meminjam laptop temannya hanya untuk sekedar mengerjakan tugas kuliah. Sejak tahun kedua di UPH dia telah punya laptop sendiri lantaran nekad naik ke panggung dan berduet dengan Saykoji saat musisi yang terkenal dengan lagu “online”-nya itu hadir dalam sebuah pertunjukkan musik di kampusnya. Dia bisa menghafalkan lagu Saykoji dan jess…laptop dalam pelukannya dan dia bisa online di kamar sendiri tak perlu mengantri teman-temannya selesai mengerjakan tugas.

Sekali waktu, ia sedang tak punya uang dan sedang mengharapkan kiriman uang dari orang tuanya atau kakak laki-lakinya, El, yang juga seorang tukang dan penggali sumur seperti ayah mereka. Dia pergi ke toko Gramedia untuk membaca buku. Setelah beberapa lama ia membaca buku dan ia ingin bergeser, ada uang seratus ribu rupiah di bawah sepatunya.

"Beta bingung, mau kasi pi satpam ma nanti pasti dia simpan. Jadi beta tunggu satu jam di situ, jangan-jangan dia pung orang datang cari. Tapi ternyata sonde ju. Beta akhirnya pulang dan pi foodmart, beta ame sprite ko bayar pake, dan ternyata dapat kembalian," ceritanya kepada saya.
"Beta ju takut kalau itu uang palsu, mati su beta mau bayar pake apa?" katanya sambil tertawa mengenang kala itu.

Anak ini memang pandai bergaul dan saya perhatikan sejak pagi tadi, begitu banyak teman yang menyapa ataupun sekedar bercanda dengannya. Dari berbagai kalangan. Dia memang tak pernah diam, mirip ibunya yang rajin dan polos. Ada temannya yang bilang dia membawa pengaruh yang besar bagi teman-temanya. Ia misalnya membuat banyak temannya di kampus bicara bahasa Kupang mengikutinya. Anak-anak dari Medan, Nias, Papua, Kalimantan, Jawa, atau Jakarta memanggilnya "te'o" yang dalam bahasa Kupang yang diambilalih dari bahasa Rote berarti "bibi". Bahkan ketika namanya dibacakan, gemuruh besar menggema di ruangan wisuda pertanda dia lumayan punya teman. Para mahasiswa bersorak ketika namanya disebutkan.

Pagi tadi dekan Teacher College Connie Rasilim dalam acara pengutusan juga menyinggung bahwa Tuhan tidak pernah terlalu terlambat mengirimkan orang yang tepat dalam hidup kita. Saya cuma mendengar apa yang dia katakan dan seakan semua terjadi sebagai kebetulan. Namun apakah yang kebetulan di kolong langit?

Saya juga sempat berpikir bahwa pergumulan selama studi di UPH mungkin tidaklah terlalu sulit. Alasannya, karena selama acara wisuda, setiap nama wisudawan dibacakan selalu tertera tahun masuk 2008 dan tahun wisuda 2012. Saya bertanya-tanya apakah karena semua mahasiswa di Teacher College adalah penerima beasiswa, tidak ada yang DO atau dikeluarkan? Ternyata saya salah, sebab angkatan 2008 adalah angkatan dengan tingkat DO paling tinggi dibanding angakatan lain. Dari 300 orang yang direkrut dari seluruh Indonesia, hanya 218 yang menyelesaikan kuliah. Dan anak ini terhitung di antara mereka yang setia dalam perkara studi menjadi guru. Ada yang dikeluarkan karena satu dan lain hal, ada yang memilih pindah kuliah karena merasa bukan panggilan menjadi guru. Mungkin itulah yang membuat dekan Teacher College dan mampu menahan rasa harunya saat ia menyebut angkatan ini dalam pidatonya.

Alone, literally, but she know who is beside her.
Sore tadi, setelah melewati seharian ceremony dan perkunjungan ke asrama Teacher College UPH yang mengadakan Open House hari itu, saya dan anak ini duduk di sebuah café di depan kampus UPH. Ya, kami sendiri di hari bahagia itu karena memang dia tak punya siapa-siapa untuk berbagi kebahagiaan. Dua orang kerabatnya yang juga datang berkunjung baru pulang beberapa jam sebelumnya. Dan memang  dia hanya bisa menelpon ayah ibu dan saudara-saudaranya untuk memberitahu bahwa semua acara telah selesai.  Tidak lebih tidak kurang. Saat namanya dibacakan sebagai sarjana di ruang wisuda, bisa saya pastikan ayahnya sedang bekerja pada orang di Penfui, Kupang. Saya tahu itu karena saat dia menelpon ayahnya sore tadi, ayahnya bilang dia masih kerja di Penfui. Tapi dia masih tetap ceria seperti biasanya.

Di café sore tadi, pembicaraan kami mulai lebih serius dan terarah setelah seharian penuh hura-hura dan kebahagiaan. Topik pembicaran kami sampai kepada ibunya dan saya terhenyak oleh sebuah penyataan sederhana dari mulutnya.
“Mama adalah imam bagi beta. Dengan semua ajaran mama beta seperti bisa melihat benang merah dari beta pung hidup sampai dengan saat ini. Kalau mama tak pernah mengajarkan iman kristen sejak kecil , beta sonde pernah bisa membayangkan bagaimana beta pung hidup jadinya,” katanya perlahan.
Saya melihat air mata tertahan di sudut matanya.
“Dengan iman yang teladan yang diberikan mama, hidup beta jalani dengan sukacita dan ringan. Sonde pernah kuatir karena beta merasa selalu ada yang tepat datang dalam hidup. Di setiap persimpan hidup, Tuhan sonde  pernah terlambat mengirimkan orang yang tepat . Dari dulu kotong su hidup susah dan kadang ketika pulang sakolah sonde ada makanan, mama minta kotongi minum air putih dan biasa sa seperti apa adanya,” katanya dengan senyum lebar dan mata berkaca-kaca.
Wisuda UPH bukanlah akhir dari segalanya. Langkah pertama menjadi laskar Kristus di dunia pendidikan baru saja dimulai. Beberapa hari menjelang wisuda, 218 orang calon guru dari UPH  dibagi-bagi untuk masa kontrak pasca beasiswa mereka di sekolah-sekolah Pelita Harapan di seluruh pelosok negeri mulai dari Papua sampai Nias, dari Manado sampai Kupang.

Dia berharap bisa kembali ke Kupang demikian juga orangtuanya. Namun hasil pembagian menyatakan lain: dia ditugaskan di Sekolah Lentera Harapan (SLH) Curug dekat kampusnya. Awalnya dia agak kecewa namun beberapa hari kemudian dia telah bisa menerimanya. Tanggal 9 Juni, dia akan kembali ke Kupang dengan biaya kampus selama dua minggu untuk menjenguk keluarganya, kemudian kembali lagi ke Jakarta lagi untuk memulai tugasnya sebagai guru baru dengan masa kontrak dengan pihak Yayasan UPH  selama tiga tahun  dan gaji tak lebih dari dua juta rupiah. Suatu jumlah yang terhitung rendah untuk ukuran Jakarta dan sekitarnya.

Sesuai kontrak, para guru baru inipun tak diizinkan memberitkan les privat untuk mendapatkan uang tambahan kepada para murid. Padahal biaya sewa kos yang telah ia dapatkan adalah Rp.600 ribu. Dia memilih share dengan teman baiknya yang 'kebetulan' ditempatkan di tempat yang sama. Ah, kebetulan yang indahkah ini? Saya ingin mengutip kembali katanya-katanya sendiri bahwa dalam setiap persimpangan kehidupan, tidak pernah ada orang yang terlambat dikirimkan kepadanya.

“Beta tahu berat tapi beta sonde takut kak. Beta pung jalan hidup su membuktikan semuanya. Dan mama selalu ajar bahkan bagaimanapun terbatasnya kotong, yang pertama yang harus diingat adalah perpuluhan setiap  bulan. Amplopnya su musti tersedia sebelum pembagian untuk yang lain-lain,” katanya.

Di jalan pulang ke rumah saya bertanya-tanya dalam hati: Mungkinkah kebetulan saya berada satu paduan suara dengan tante Lin? Mungkinkah kebetulan beasiswa pertama yang ia terima dialihkan ke anak pejabat di kelasnya? Mungkinkah kebetulan saya bertemu anak ini di Jakarta? Mungkin kebetulan semua kata-kata dalam pidato-pidato pengutusan para guru tadi pagi? Mungkinkah kebetulan anak ini bertemu dengan orang-orang yang telah membantu dia selama dia bersekolah di UPH? Kebetulankah Saykoji manggung di UPH dan kebetulankah ia menghafal lyric lagu Saykoji? Mungkinkah kebetulan anak ini ditempatkan di SLH Curug? Dan sebuah mungkin yang lebih besar lagi adalah: mungkinkah kebetulan anak seorang binatu dan penggali sumur menamatkan pendidikan di UPH? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu harus kita jawab sendiri-sendiri. Saya tak bisa menjawabnya untuk anda.

Satu  hal yang saya yakini: bukan kita yang memilih Allah. Allahlah yang memilih kita sejak dari kandungan ibu kita seperti kata nabi Yesaya.

Kini aku menyebut ingin nama anak itu. DINCE! Ibumu telah setia dalam banyak perkara, dan ia mengajarkanmu untuk setia. Sekarang hidup telah membawamu untuk perkara yang lebih besar: menjadi guru dan pembangun aklak anak-anak didikmu. Seperti thema wisuda hari ini yang diambil dari perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25.21: “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Selamat melayani, Ibu guru Dince! “May we be faithful”

Tangerang, 1 Juni 2012
 

Saturday, December 17, 2011

Gajah, Tikus dan [Satpol PP] kita

http://www.upali.ch/mouse_en.html
If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor. If an elephant has its foot on the tail of a mouse and you say that you are neutral, the mouse will not appreciate your neutrality. [Desmond Tutu].

Hai para wartawan, humas pemerintah, humas perusahaan, pekerja NGO, anggota DPR, politisi, seniman, ibu rumah tangga, polisi, tentara, satpam, satpol PP, sipir penjara, PNS, karyawan swasta, guru, pendeta, imam, uztad, akademisi, kepala desa, ketua RT/RW, anggota DPR, anggota DPD, mentri, dokter, perawat, tukang ojek, komisaris dan karyawan KPK, KPU, pengawas ujian nasional, bendahara gaji, calo proyek, penyalur TKW, prostitute jalan, high-class protitute, anchorman/anchorwoman, presenter infotainment, suporter bola, pengurus PSSI, expatriat, pemilik perusahaan, staff HRD dst ingatlah bahwa sikap netral dalam sitauasi ketidakdilan kadang adalah kamuflase dari ketidakpedulian atau bahkan keberpihakan pada penindas.

Bersikaplah netral dalam sitausi yang tidak adil sama saja dengan mengambil posisi di pihak penindas...demikianlah kabar dari langit hari ini

Monday, December 12, 2011

Bertemu Papa

Semalam mimpi ketemu papa. Wajahnya jelas, kelihatan sehat, mengenakan pakaian pegawai negeri kebesarannya. Sejak papa meninggal dua tahun lalu, belum pernah mimpi ketemu muka dengan papa. Sekali pernah, namun hanya suara: memintaku membawakan seafood kegemarannya. Aku selalu merindukan bertemu papa. Kali ini papa datang kepadaku. Papa, aku tak mengerti arti mimpi ini, namun aku merindukanmu selalu papa....cucu-cucumu sedang bertumbuh. mereka adalah penggantimu yang hebat. dalam banyak hal mereka mirip papa. Aku menyayangi mereka sebagaimana aku menyayangi papa. sangat....

Tiadea di pusara Opa di Batuplat
Yang sulung, telah kau beri sebuah nama yang hebat. Nama yang akan menyertainya kemanapun ia pergi. Nama yang mengingatkankan akan jadi dirinya sebagai orang Rote dan syukur kepada Tuhan atas hidup yang diberikan. Tiadea Radakaran, sebuah paralelisme yang indah dalam bahasa Rote. Aku tak menyangka di saat upacara pemakaman papa, lagu Rote dengan syair yang menyebut nama anakku dinyanyikan. Teks nyanyian dalam bahasa Rote itu masih kusimpan.

Yang bungsu lahir hampir dua tahun setelah papa meninggalkan kami. Aku memberi namanya Rubamuri Zemira Messakh. Rubamuri adalah bahasa Sabu, bahasa ibunya yang berarti pengasihan Tuhan. Biarlah dia mendapat bagian dalam kelurga ibunya, seperti aku papa namakan Matheos, bagian
dari keluarga ibuku.Nama itu juga mengingatkan keluarga kita bahwa ada seorang saudara Foe Mbura bernama Pandi Mbura yang memilih tinggal di Sabu dalam sebuah perjalasan Foe Mbura [Benjamin Messakh] bersama beberapa orang raja Rote menuju ke Batavia dalam sebuah misi pada tahun 1730 yang mereka sebut 'mencari damai' [sangga ndolu].

Rubamuri dan saya
Aku tak memberi nama anak-anakku sesuai nama orang-orang tua kita, seperti tradisi keluarga kita, bukan karena aku tak sayang. Sudah terlalu banyak anak-anak keluarga Messakh diberi nama sedemikian. Tak heran ada banyak sekali Benjamin, Paulus, Thobias, Melkianus, Yehezkiel, Yakobus, dan Yonas. Aku menamai anakku Zemira karena itulah salah seorang cucu Benjamin [I Tawarikh 7:8]. Sampai kapanpun dan sampai di manapun dia adalah cucu Benjamin, dia tak akan bisa menggantikan Benjamin Messakh, namun dia mewarisi yang dimiliki Benjamin Messakh. Orang mungkin menyangka namanya hanyalah sebuah kebetulan, tapi sesudah besar nanti akan kuceritakan kepadanya mengapa aku menamainya demikian. Dan dia akan selalu bangga memikul nama itu, tak banyak orang tahu, namun di hatinya dia tahu bahwa dia adalah seorang cucu Benjamin yang lahir di Oebatu, Thie, pada 6 Juli 1946.

BSD, 11 Desember 2011

Saturday, December 10, 2011

Mungkinkah sebuah goresan korek api memicu revolusi?


Demonstran di Prancis mendukung 'Pahlawan Tunisia", 15 Jan. 2011
Pemberontakan rakyat yang menjatuhkan seorang diktator di Tunisia pada awal tahun 2011 dimulai ketika seorang pemuda berusian 26 tahun Mohamed Bouazizi membakar dirinya sendiri ketika polisi menyita gerobak buahnya. Copycat terhadap tindakan Mohamed ini kemudian menyebar di seluruh Afrika Utara. Mohamed membakar dirinya pada 17 Desember 2011, dan pada awal Januari 2011 tiga orang di Aljazair, seorang tukang Roti di Mesir, dan seorang laki-laki di Mauritania membakar diri mereka. Protes di Tunisia itulah yang meluas ke perlawanan rakyat di seluruh Arab yang dikenal dengan Arab Spring.

Monday, December 05, 2011

Meriam Bellina, Pance Pondaag dan sebuah lagu natal

Di sini, aku pun sendiri
Dan masih seperti yang dulu
Kesetiaan yang kumiliki, hanya untuk dirimu
Sampai akhir hidup ini

Apapun, akan ku korbankan
Demi keutuhan engkau dan aku
Semua yang aku miliki, cinta dan kerinduan
Kasih semua untukmu

Saat ini aku pun tak ingin sendiri
Kucari bayanganmu di sudut sana
Pelukan mesra yang tulus darimu
Betapa engkau kukasihi

Di sini, aku pun sendiri
Dan masih seperti yang dulu
Kesetiaan yang kumiliki, hanya untuk dirimu
Sampai akhir hidup ini

Saat ini aku pun tak ingin sendiri
Kucari bayanganmu di sudut sana
Pelukan mesra yang tulus darimu
Betapa engkau kukasihi
Betapa engkau kukasihi

Masih ingat lagu di atas? Yang lahir tahun 80-an kemungkinan pernah mendengar lagu yang dipopulerkan Meriam Bellina ini.


"Tak Ingin Sendiri" judul lagu itu. Untuk waktu yang cukup lama aku menyukai lagu ini. Apalagi lagu ini juga menjadi original soundtrack dari sebuah film dengan judul yang sama yang dirilis tahun 1985 dengan pemeran utama Rano Karno (Pras) dan Meriam Bellina (Tika). Film yang ditulis dan disutradarai Ida Farida ini kutonton di TVRI dan tak pernah kulupa sampai sekarang apalagi ceritanya sangat melankolis. Resensinya dapat dilihat di sini [http://ngomongin-film-indonesia.blogspot.com/2011/09/tak-ingin-sendiri-1985.html].

Tapi satu saat, aku memutar lagu natal, sekitar awal 2000-an dan aku menemukan bahwa lagu yang nadanya selalu kuingat itu adalah sebuah lagu natal. Hanya lyric-nya saja yang diubah. Lagu itu adalah "When a Child is born", sebuah lagu natal populer yang melody aslinya adalah  "Soleado", sebuah nada dari tahun 1972 oleh Ciro Dammicco (alias Zacar), seorang komposer dari sebuah group Italia, Daniel Santecruz Ensemble. Lyric Inggrisnya ditulis kemudian oleh Fred Jay.

Lyric dalam bahasa Inggris telah dinyanyikan oleh banyak penyanyi namun yang paling populer mungkin adalah versi yang dinyanyikan oleh Johnny Mathis di tahun 1976. Lagu itu menjadi single top Johnny Mathis di UK, bertahan tiga minggu di puncak tangga lagu pada bulan Desember 1976 dan terjual lebih dari 850,000 copy.

Lagu ini juga ditampilkan dalam sebuah film Argentina di tahun 1975: Nazareno Cruz y el lobo (The Love Of The Wolf). Juga dijadikan "Theme From The Motion Picture "The Love Of The Wolf" dalam album Johnny Mathis "Johnny Mathis Sings The Movie Greats" yang diproduksi oleh CBS.
Artist-artis yang telah menyanyikan lagu ini antara lain:
  • Boney M. dalam album mereka Christmas Album (1981) 
  • Kenny Rogers
  • Bing Crosby
  • The Moody Blues dalam album mereka album December (2003) 
  • Cissy Houston
  • Willie Nelson
  • Tarja Turunen
  • Sarah Brightman dalam holiday CD "A Winter Symphony". (2008)
  • ACM Gospel Choir dalam Mail on Sunday giveaway CD "Christmas with the Choir". (2008)
  • Andrea Bocelli (Italia)
  • Il Divo [http://www.youtube.com/watch?v=fJFYtwiT92Y]
  • Filipino singer José Mari Chan covered the song on his holiday album, Christmas in Our Hearts.

Lyric bahasa Inggris yang sekarang terkenal adalah sbb:


A ray of hope flickers in the sky
A tiny star lights up way up high
All across the land dawns a brand new morn
This comes to pass when a child is born


A silent wish sails the seven seas
The winds of change whisper in the trees
And the walls of doubt crumble tossed and torn
This comes to pass, when a child is born


A rosy hue settles all around
You got the feel, you're on solid ground
For a spell or two no one seems forlorn
This comes to pass, when a child is born

Spoken: And all of this happens, because the world is waiting.
Waiting for one child; Black-white-yellow, no one knows...
but a child that will grow up and turn tears to laughter,
hate to love, war to peace and everyone to everyone's neighbor,
and misery and suffering will be words to be forgotten forever.


It's all a dream and illusion now,
It must come true sometime soon somehow,
All across the land dawns a brand new morn,
This comes to pass when a child is born.

Nah, sekarang apa tanggapan anda? masih ingin menyanyikan lagu itu sebagai lagu Pance Pondaag atau sebagai lagu natal? Indonesia memang biangnya pembajakan dan sebuah lagu natal yang indah telah dibajak menjadi milik sendiri....

BSD Serpong, 5 Desember 2011



Saturday, December 03, 2011

Rumah nenek dan kakek di tepi padang


[Sebuah surat kepada nenek di saat ulang tahunnya. Bagian awalnya ditulis dalam bahasa Rote, namun bagian akhirnya dalam bahasa Indonesia]

Mama a,
Selamat fai boboki mama. Mama ka leo bea? Mama ka teu bau bea ia so? Au ta pernah afarene mama ka fai boboki ma, te fai ia au afarene.
Mo upu-ana mara leo bea? Mon tui nae mama ka mamhedi? Oso talalu sue uma ndia ho, la’o-la’o lai esa lai dua leo to’o sara meu dei. 


Ta sono, leu Kotamu. Mu noi fai esa dua o bole. Sadi mita mala upu ana mara. Papa ka ta namanasa fa, kalau mama ka la’o ela uma la’i esa la’i dua. Leo mae upu ana mara tak esa namahere papa mai boe, au ndia amahere. Au amahere papa ka nei ele. Au ama here papa ka mai tui mama ka. Te mahi malelak tou a be nei lain ndia : fali uma boe kadang la’o seli uma na.

Au tak pernah afarene heni mama ka fepan mo ndara tali, te an ta nahara fa. Losa fai ia au selalu manyasal, nei fai mamate na, au tak ahara on kata esa boe. Au leo ana koa a. Afarene an sono, au dola.

Au nei ia malole mansodak. Noi marini a,  ho ita pake jaket dua telu boe ta dai fa. Malmula mala foto sira.
Au dui surat ia pake dedea Rote ia karna au afarene mama ka. Au leo ana ma’ esa nei dae bafok poin na. Au alelak basa-basa lahenda dedean te au ta perna afarende hendi dedea pertama ndia au alelak : dedea Rote. Nei ia ara rae mother tongue artinya ita inan dedean. Dehenda malelak ara rae : “Dedea pertama o malelak, losa o mamatem boe, ta bisa mafarene hendi.” Dahenda fekek dedean, ita mesti tanori dei, te ida dedean ia tak pernah tanori fa. An mai leo na’ a.
Au lek ala buku esa nei ia tao na kau dola an seli. Wartawan esa nemek Irlandia dui buku ndia. Au dola karena tutui na leo au sodak ka boe. Ana leo no Bei na nei koro’ esa nei Irlandia. Bai na mate nauluk bei na. Waktu ana sakola dadi wartawan, ana leo kota neu. Boe ma ana kerja doo a nei Africa. Fai esa an nama nene bei na maten so, te an tak bisa fali fa. Tatalu doo a, boe ma ana sedang tugas. Hapu telpon name uman na mai, ana noi dola a. Sao na natu non. Ara dola sambil mengenang masa-masa kecil yang bahagia nei bei no bai na uman.

Kalau dulu mungkin pertama kali mama dengan to’o dong berangkat ke Kupang saja sudah cukup berat bagi opa dan oma. Sekarang beta di ujung dunia. Di ujung dunia di mana saya bukan siapa-siapa. Itu membuat saya ingat semua jalan hidup saya. Setiap jengkal langkah kaki saya. Dari kampung kecil Oeulu di bagian selatan pulau Rote, ke kampung bermamar dan berpadang di Lalao, ke desa pinggiran kota di Batuplat ke kota kecamatan di Babau. Jalan hidup yang mungkin tidak terlalu istimewa bagi banyak orang, tetapi bagi saya luar biasa, karena kasih Tuhan begitu luar biasa. 

Pernahkah mama bayangkan At kecil yang lemah, satu saat akan pergi jauh meninggalkan semua yang disayang ke suatu tempat dimana tak seorang pun dari keluarga pernah ke sana? Banyak orang menginginkan tetapi tidak banyak mendapatkan. Dan saya bangga akan pengalaman masa kecil saya yang sangat berharga bagi saya. Dan ada yang lebih berharga dari masa kecil penuh cinta yang membentuk saya seperti sekarang. 

Saya belajar membaca di rumah seorang pensiunan guru SD bernama Simon Lenggu. Simon Lenggu yang saya kenal sangat rapi tulisan dan sangat pandai menggambar. Dan saya tak tahu darimana datangnya kemampuan menggambar saya. Yang saya tahu sewaktu kecil saya suka membongkar-bongkar buku-buku tua peninggalan sang pensiun guru itu hanya untuk mencari gambar-gambarnya dan meniru. Saya masih ingat bagimana ia membuat gambar ayam, dengan sisik-sisik di kaki seakan ia menghitung satu persatu sisik-sisik itu. Alatnya cuma 'buku dollar' dan 'ballpoint kaca'.

Dan saya tak pernah lupa betapa senangnya saya pertama kali mendapat hadiah sebungkus besar gula-gula 'hopis' karena menjuarai lomba gambar dengan menggambar orang memerah susu sapi menirukan gambar dalam buku bacaan SD waktu itu. Walau waktu saya berkali-kali melakukan kesalahan menggambar kaki belakang sapi, gambar saya tetap yang terbaik, bahkan lebih bagus dari gambar anak-anak kelas enam dan saya mendapat pujian dari guru-guru. Semua orang mengerubuni saya waktu itu. Ada yang berbisik: "persis seperti kakeknya." Waktu itu opa sudah pensiun dan lebih sering bekerja di kebun dari pagi sampai sore.Saya menunjukkan gambar saya kepada opa dan ia cuma tersenyum.

Terlalu banyak kenangan manis, yang kalau saya ceritakan tak akan cukup untuk selembar dua kertas. Saya seorang penulis sekarang, saya wartawan sekarang dan mudah-mudah satu kali kelak saya bisa menulis pengalaman berharga itu untuk menjadi pelajaran berharga bagi orang lain. Pelajaran dari hati yang penuh kasih.

Jauh di lubuk hati saya, saya takut apa yang dialami seorang bernama Fergal Keane, seorang wartawan BBC, terjadi pada saya. Kenangan berharga di rumah neneknya di sebuah kampung di Irlandia membuat Fergal yang kemudian menjadi wartawan BBC yang meliput ke seluruh dunia itu, selalu pulang  setiap musim panas ke kampungnya. Dan ia tak pernah mampu menahan rasa inginnya untuk mengendai kendaraannya sekedar meliwati rumah neneknya (yang kemudian di jual To’o-nya dan disetujui semua keluarga). 

Dia selalu berhenti di sana sejenak untuk menoleh ke masa lalu, menoleh ke kehangatan tangan yang tak kelihatan lagi. Terdengar suara opera dari radio tua dan suara anak-anak bermain dalam rumah, lalu ada seorang perempuan tua memanggil karena sudah waktunya minum teh. "Home as it always be", katanya.  

Itu pengalaman Fergal. Saya juga punya pengalaman yang tak kalah manisnya. Kalau Fergal selalu pulang untuk mengenang masa kecil penuh kasih dan kehangatan, aku juga akan selalu pulang untuk mengenang senja di mana suara anak-anak gembala bernyanyi-nyayi menuntun pulang ternak meliwati padang di depan rumah di Laenpaon, Lalao.

Dari rumah itu, suara habo sirih selalu berbunyi sekali-kali berhenti. Suara seorang anak kecil seringkali terdengar. Kadang ada suara seorang perempuan tua meminta untuk mengigitkan pinang muda yang lumayan keras. Lalu suara perempuan tua itu memanggil karena sudah waktunya minum tua hopo atau makan malam. 

Aku pasti tak bisa menahan keinginan itu. Keinginan untuk selalu pulang, karena aku selalu ingat akan kehangatan cinta, yang menjagaku kemana pun aku pergi. Aku pasti mendengar suara-suara itu, selalu. Home as it always be.

Salam sayang dari negeri dingin
Nottingham, The United Kingdom.
10 Watkin Street, St. Ann’s Nottingham
NG3 1DL Nottinghamshire-UK



Friday, December 02, 2011

Creo que el mundo es bello,
que la poesía es como el pan, de todos.


I believe the world is beautiful
and that poetry, like bread, is for everyone.
—Martín Espada

Bahasa-bahasa baru Tiadea



Tiadea sedang mengamati kupu-kupu di taman tengah dekat rumah
Sejak beberapa bulan terakhir Tiadea sudah semakin memiliki banyak kosa kata. Tapi seperti umumnya anak-anak yang baru belajar berbicara, ia punya bahasa-bahasa sendiri yang kadang harus diketahui konteksnya barulah bisa dimengerti.

Selama kurang lebih lima bulan ia bersama ibunya ke Kupang dan saya sendiri terheran-heran dengan sejumlah bahasa baru yang dia gunakan.

Kadang, saya harus bertanya ke ibunya atau nanny-nya.Beberapa contoh kalimat milik "asli" milik Tiadea antara lain:


1. Kalau dia ditanya dengan pertanyaan yang mengharapkan jawaban "ya" atau " tidak" atau kalau ia mengatakan "tidak" terhadap sebuah permintaan,ia akan berkata:"TIDAK, KARTU BALON!"Saya bingung saat pertama kali mendengarnya karena ia akan terus mengatakan kalimat yang sama kalau hendak mengatakan tidak. Untuk pertanyaan apapun yang dijawab dengan tidak, ia akan menggunakan kalimat yang sama. Contohnya: "Tiadea mau makan?" akan dijawab: "Tidak, kartu balon". Usut punya usut, ternyata kalimat itu adalah imitasi dari sepenggal adegan dalam film POCOYO dimana POCOYO bermain sulap/tebak-tebakan kartu. Ketika salah satu tebakan salah, POCOYO berkata: " TIDAK, KARTU BALON!". Kalimat inilah yang dicopy oleh anak saya dan ia menggunakannya secara konsisten.

2. Kadang dia suka menyanyi menirukan sepenggal lagu di dalam adegan TINKERBELL "come with me and fly" tapi langsung disambung dengan kalimat "OM SUKA" sambil merenggut. Setiap kali menyanyikan bait lagu itu selalu disambung dengan "OM SUKA". Untunglah setelah sering diledek dia telah menguranginya. Rupanya dalam adegan sekanjutnya setelah nyanyian itu ada seorang tokoh yang tidak disukainya. Saya lupa nama tokohnya tapi yang perawakannya besar dan berkumis yang bertugas membagikan pixy dust kepada para peri. Karena itulah dia akan menangis minta adegan itu dilewatkan. "OM SUKA" adalah bentuk paling sederhana dari "saya tidak menyukai om itu". Syukurlah ibunya telah berhasil membuatnya 'menyukai' om dalam film itu.

3. Tiadea juga punya kalimat tanya yang sangat enak didengar karena ia bertanya dengan sangat halus. Kalau ia mau menanyakan apakah papa telah mandi, ia akan berkata: "papa, mandi, sonde...?".

4. Satu kalimat yang sedikit menjengkelkan ibunya adalah kalimat yang suka menyalahkan orang kalau ia ditentang atau dilarang melakukan ini atau itu. Ia akan berkata: " papa niyyy..hmmmhhh". saya dan ibunya mencoba mencari tahu dan ternyata itu pengaruh dari nanny-nya. sampai sekarang masih agak susah dihilangkan dan kami hanya berusaha tidak menggubrisnya, agar ia tidak selalu menggunakan kalimat tersebut sebagai senjata.

5. Di saat jam tidur, begitu naik ke tempat tidur dan meletakkan kepalanya di bantal, ia akan berteriak, "Ita, sudot dua setengah...". Artinya: " Ita [nanny], tolong buatkan susu dalam dot sebanyak 250 mililiter." kalimat itu biasa ia dengar dari ibunya sejak di Kupang kalau dia mau tidur. Entah dia mengerti atau tidak soal volume susu itu, yang jelas setiap menjelang tidur ia akan berteriak, "Ita, sudot dua setengah!".

6. Yang saya kagumi darinya adalah daya ingatnya yang luar biasa. Dia akan mengingat hal sekecil apapun yang sudah kami katakan kepada beberapa bulan sebelumnya, bahkan jika kami hanya sekali mengatakannya. saya dan ibunya sampai terheran-heran dengan beberapa ingatannya yang luar biasa. Kemarin (Kamis, 11 Agustus, 2011) dia mengambil sebuah majalah dan langusng menunjuk David Schwimmer yang sedang berpose dalam sebuah iklan film Friends dan berkata: "Melman". Saya ingat saya pernah memperlihatkan para character dalam film Madagascar dan siapa saja pengisi suaranya kepada ia dan ibunya dan beberapa orang lagi saat ia dan ibunya berkunjung ke Jakarta selama beberapa minggu. Jadi tidak secara khusus saya tunjukkan kepadanya. dan itupun hanya dilayar komputer. Tapi rupanya ia memperhatikan dan mengingatnya.

7. Jika ia mengelus-elus adiknya yang menangis ia akan berkata "easy boy" [imitasi dari adegan Tinkerbell dimana seorang peri mengelus-elus kepala tikus yang ketakutan]

8. Ada satu kalimat dan aksi yang belum kami mengerti konteksnya. setiap saat adiknya mandi, dia akan masuk ke kamar tidur, naik ke kursi dan menoleh dari jendela sambil berkata "by the way" sambil tertawa. Kami menduga mungkin baginya "by the way" artinya mandi di bak mandi. ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa setelah selesai mandi ia akan sering berkata "by the way abis". Tetapi darimana konteks, kami tak tahu.

9. Ada juga satu kata yang aneh adalah "Yuno Mesak". dia menamakan seekor ikan dalam adegan film FINDING NEMO dengan nama tersebut. Entah apa maksudnya kami juga tak tahu.

10. Sudah sejak lima atau enam bulan lalu [sebelum dia ke Kupang] ia pandai menyanyikan "run, run as fast as you can, you can catch me. I'm a ginger BAD man". seharusnya "bread man" tapi ia mengucapkannya "bad man". namun sejak sbatu [20 agustus 2011] tiba-tiba ia menyanyiknanya secara berbeda: "bad man" diubah menjadi 'bad boy". jadinya: "run, run as fast as you can, you can catch me. I'm a ginger bad boy". saya dan ibunya sampai terheran-heran ia seperti mengerti logika kalimat itu, kami menyangka selama ini dia hanya menghafal saja tanpa mengerti artinya.

11. Daftar kata-kata aneh lain adalah:
- "Tabui"=Astro boy,
- "Koter" = dokter, dalam lagu JESUS DOKTERKU YANG BAIK dia selalu menyanyikannya "Yesus koterku yang baik".
- "Miki nose" = Mickey Mouse
- "Peri pung rajin" = peri pengrajin dalam film Tinkerbell
- "Pidemen" = Spiderman

(bersambung)
Palmerah, 12 Agustus 2011

Perkembangan setelah empat bulan [awal Desember 2011]:
setelah empat bulan, kosa katanya semakin banyak dan semakin jelas pengucapannya, sudah bisa diajak berbicara secara lancar. Namun masih ada satu dua kata yang diucapkan secara lucu misalnya:

"itu bagusss, itu lucu" = ungkapan yang selalu digunakan secara paralel untuk menunjukkan preferensinya, terutama dalam memilih saluran televisi.
"dia senangggg," "bapa senang do"= dia tidak suka orang menujukkan expresi kemarahan. Kadang ia memerintahkan saya ikut senang/tersenyum, "bapa senang do!"
Frasa "Om Suka" telah berubah menjadi "Om tidak suka"
"Kom dan Jeri" = Tom and Jerry
"lagukan" = kecegukan
"tuuli up" = turn it up. Menirukan iklan acara anak-anak di Disney channel
"keular" = keluar
"temau" = tidak mau

Monday, November 28, 2011

Sepe su babunga mama


Sepe su babunga mama
Hari bagini mama su sibuk bikin kue
selalu abis karena kotong enam orang makan terus
Mama suka marah karena papa sonde bantu
belum lagi kue sonde res, karena salah campur

Sepe su babunga mama
Hari bagini bapa su suru jahit baju dengan celana baru di om Mudin
Seragam untuk enam orang
Karena cuma satu pasang, dipakai jalan selamat berulang-ulang
Biar dadolek sonde apa-apa, yang penting baru
sepatu sonde perlu baru, karena belum tentu orang liat pi bawah


Sepe su babunga mama
Tanta be’a di seblah rumah su mulai putar lagu natal
Te'o Rina di sebelah rumah ju su datang babantu mama
Beras untuk om Lipus, mama su sadia
Sapa yang antar, beta sonde tahu

Sepe su babunga mama
Anak-anak sekolah minggu dong su latihan drama
Gereja su mulai bahias
Itu gambar dengan patung Yesus di kadang domba itu
Selalu ada di sudut gereja

Sepe su babunga mama
Dulu waktu papa masih di sana
Di gudang banyak minuman kaleng
Orang dong suka kirim
Papa pung suka beli daging dari om Alex

Sepe su babunga, mama
Bunyi lonceng gereja ke rasa lebih terang
Sebentar-sebentar ujan
samua ijo sampe di atas bukit-bukit belakang rumah
Air Jambu lebih penuh dari biasanya
Kalau mandi tinggal lompat sa

sepe su babunga mama
pohon terang su menyala di ruang tamu
kartu natal kiriman bagus-bagus
papa ada siap bacaan Alkitab

Sepe su babunga mama
lai sadikit kotong su bajalan salamat mama
Jalan kai jaoh sonde soal
karena bemo sonde mau muat anak kecil
Masuk di rumah om Kim tiga kali sonde soal
Karena om Kim sedia banyak uang nekel

Sepe su babunga mama
parcel natal dari orang kaya lagi sadiki su sampe
itu waktu papa masih ada posisi
itu semua ilang waktu papa su pensiun
tapi kotong ju punya sedikit uang untuk beli itu semua
beta sonde mangarti kenapa hadiah bukan untuk orang miskin

Sepe su babunga mama
Kotong biasa bakumpul di meja makan
Kadang tunggu kaka, karena dia masih di gereja
Mori makan duluan karena dia masih kecil
Yang lain bahitung sapa pung giliran berdoa kali ini

Sepe su babunga mama
Baju paling bagus su strika dari pagi
Sore mama bawa kotong pi siram rampe
Masing-masing tahu di mana kubur opa Pau
om Mau, opa Pau, Pan Kiel

Sepe su babunga mama
Tanggal 24 malam ke hari karamat
Kitong bakumpul jam 12 malam
Yang tidor papa kasi bangun
Petasan dan anak-anak balari motor di luar sonde soal
Yang penting kotong berdoa dulu
Beta sonde tahu kenapa papa selalu menangis

Sepe su babunga mama
Dari Batakte, Batuplat, Babau
Kembali Batuplat kotong sama-sama
Sekarang, papa su sonde ada lai…
Selamat natal mama sayang

Serpong, 28 November 2011

Friday, November 25, 2011

Aku mengingat guru-guruku



Sekolah di Rote, tahun tidak diketahui. Sumber: James Fox, Harvest of the Palm, hal. 133
Kecil perawakannya,
Ramah dan selalu tersenyum
Aku masih ingat senyum dan suaranya
Suka mengajak kami menyanyi
Ia pandai bercerita
Sebuah cerita dari sebuah buku bergambar
tentang burung-burung di atas sebuah pohon besar
tak pernah kulupakan sampai sekarang


Selalu ingin kucari buku itu
Tetapi belum jua kutemukan
Ia suka membuat kami berlomba membaca di kelas
Pak Dopen namanya, aku sudah lupa nama depannya
Dia guru pertamaku di kelas satu SD
di sebuah kampung, di pulau paling selatan negara ini
Entah di mana dia sekarang

Ia seorang ibu yang ramah
Aku tahu dia sayang kepadaku
Ia tahu kelebihan dan kelemahanku
Jam pelajaran membaca ia begitu bangga padaku
Jam matematika, ia tersenyum seakan mengerti
Menunggu sampai aku selesai
di saat hampir seisi kelas sudah selesai
Ibu Thene, aku tahu dia sangat baik padaku
dari caranya memperlakukanku

Dia galak
Seisi sekolah takut kepadanya
Aku juga, tetapi aku berusaha mengerjakan semua tugasku
Membaca dan mengikuti pelajarannya dengan seksama
Mungkin karena itu aku selalu mendapat nilai baik darinya
Puluhan tahun kemudian aku tak mungkin bicara bahasa Inggris
Tanpa sekali terlintas di benakku Martinus Suban
Keras, sistematis, namun tahu apa yang dilakukan

Dia ada dalam lintasan hidupku
Ketika aku sangat kacau
Aku merasa diperlakukan tidak adil oleh sekolah
Aku protes, walau dengan cara yang salah
Sering bolos, dan segala macam kenakalan yang dilakukan anak SMA
Tak ada guru yang benar di mataku saat itu
Namun sebuah tempelengan kecil dengan dua jari di pipiku
Tidak keras, namun tak akan pernah kulupakan sampai sekarang
Aku tak marah, aku malu sekali waktu itu
Malu bukan karena dipukul secara keras, tetapi karena disentuh pealn dengan dua jari
Sentuhan dua jari  itu ternyata kekuatannya jauh lebih besar
Dari tamparan keras lima jari penuh amarah
Ia membuka mataku sampai bertahun-tahun
Sampai sekarang aku tetap malu kalau mengingatnya
Frans Sowo nama guru itu

Ia cerdas dan konsisten
Kadang sinikal namun lucu
Ia melucu tanpa tertawa
Analisisnya terhadap persoalan kekinian selalu membuat tertawa
Aku tahu apa yang ia mau dari mahasiswa
Aku tak pernah punya buku yang ia wajibkan bagi kami
Namun sesi tanya jawab tak pernah kusia-siakan
Alhasil dia tak pernah tahu apakah aku punya buku itu atau tidak
Ia membenci mereka yang tahu setengah-setengah
Baginya lebih baik tidak tahu
daripada tahu separuh-separuh
Ia tahu batasan pengetahuannya
Namun ia bukan guru berkacamata kuda
Wawasannya luas, seluas konsistensi berpikirnya
Sekuat ketahanan intelektualnya
Andreas Anaguru Yewangoe namanya
Ujilah ia maka engkau akan tahu ia semurni pikirannya

Ada banyak guru dalam hidupku
Kakekku seorang guru dan ibuku seorang guru
Kritis namun tak pernah mengeluh
Sama memperlakukan anak sendiri dan anak lain
Aku ingat wajah-wajah mereka sekarang
Sampai kapanpun akan kuingat
Mereka adalah orang-orang dalam perjalanan hidupku

Oh, ada seorang guru yang tak mengajar di kelasku
Tapi aku bisa membaca karenanya
Bahkan sebelum aku menyentuh bangku sekolah
Magdalena Lenggu, adik ibuku
Ti’i nona begitu biasa kupanggil
di rumah nenek, dalam keadaan hamil besar, ia mengajarku membaca
Terima kasih ti’i nona, terima kasih semua guruku
Kalian adalah wajah-wajah yang tak mungkin aku lupakan

Serpong, 25 November

Selamat hari guru

 Keterangan foto: Sekolah di Rote, tahun tidak diketahui. Sumber: James Fox, Harvest of the Palm, hal. 133

Wednesday, November 23, 2011

Selamat Hari Ayah, papa....

Aku dan papa di Bandara Sukarno-Hatta, saat papa mengunjungi kami untuk terkahir kalinya.
Selama hampir 37 tahun hidupku, ia tak pernah sekalipun memegang tangaku mengajak bermain bola seperti ayah lain memperlakukan anak-anaknya. Ketika aku masih kecil, aku malah takut kepadanya. Aku pun pernah menanggap dia bukan ayahku, karena aku tinggal bersama kakek nenekku dan aku memanggil dia “bu Min” artinya kakak Min.

Memang aku tahu bahwa ia ayahku, dari menguping percakapan orang-orang dewasa, namun secara mental aku lebih siap memanggil papa dan mama kepada kakek dan nenekku. Aku ingat ia pernah satu kali datang menjenguk ku di Rote, aku tak punya rasa apa-apa terhadapnya. Mungkin karena aku masih terlalu kecil, belum juga SD saat itu. Tapi aku ingat ia memberikanku sebuah sisir aluminum yang punya kaitan seperti bullpen. Aku menjadikan sisir itu mobil-mobilan.

Saat di Rote itulah hampir setiap liburan aku dibawa ke kota yang bernama Kupang untuk menengok “bu dan susi” di Kupang. Anak-anak lain mungkin berlibur ke rumah nenek dan kakek di desa, aku mengunjungi “kakak perempuan besar” ku yang menikah dengan “Om Min Messakh” di kota.

Aku pindah ke kota sekitar kelas 3 SD, tinggal bersamanya,  ibuku dan saudara-saudaraku. Suatu lompatan yang sangat besar dalam hidupku. Dari kehidupan seorang anak yang dimanjakan kakek neneknya ke kehidupan sebuah keluarga dimana sang ayah menerapkan disiplin yang ketat kepada enam orang anak laki-lakinya. Aku ingat aku menangis tiap malam di tempat tidurku mengingat kakek dan nenek. apalagi kalau aku merasa disakiti, aku ingin pulang ke Rote.
Sikap papa yang keras dan tegas lebih sering kusalah mengerti. Ia selalu memperlakukan kami secara sama. Satu salah semua kena hukuman.

Jangan pernah membayangkan ia mengosongkan sakunya untuk kami tidur di pangkuannya seperi anak-anak lain, jangan pernah berharap ia mengantar atau menjemput kami dari sekolah setiap hari, membawa kami jalan-jalan atau bermain permainan bodoh anak-anak.  Sangat mahal ia memberi pujian kepada kami. Jangan pernah berharap dia ada di tepi tempat tidurmu ketika kamu sakit, atau membacakan dongeng kesukaanmu sebelum tidur. Jangan juga mengharapkan kue atau hadiah ulang tahun darinya. Satu-satunya kemewahan bagi kami, itupun hanya ketika masih SD saja, adalah baju baru menjelang natal dan tahun baru: Seragam kebesaran enam orang anak laki-laki.

Ia hanya tak tanggung-tanggung kalau kami meminta buku dan peralatan sekolah. Aku ingat ia datang sendiri ke asrama tempat aku tinggal saat kuliah, lengkap dengan pakaian seragam pegawai negerinya, mengantarkan fotocopyan leksikon Yunani yang hampir setebal 3 Alkitab. Aku memintanya memfotocopy buku itu karena aku tak punya uang. Ia  mengantarkannya sendiri walupun tak kuminta. Kalau aku meminta barang lain tak mungkin dia mengantarkannya. Buku memang makanan kami sejak kecil. Ia selalu membelikan kami buku walaupun buku itu belum tentu kami sukai, ia akan menyimpannya di rumah sampai satu saat kami membuka dan membacanya.

Aku pernah marah dan mengujinya, karena aku berpikir apakah ia akan pernah membelikan aku barang lain selain buku? Saat selesai membeli sebuah buku di sebuah toko buku di Kupang, aku memintanya membelikan aku baju. Ia membelikannya, satu saja sesuai permintaanku. Setidaknya itulah sekali aku ingat membelikanku baju secara khusus kepadaku. Ia tak pernah memberi lebih dari apa yang kami minta.

Ada penyesalan yang takkan pernah hilang di hatiku bahwa aku tak sempat memberinya kebahagiaan di hari tuanya, menyenangkannya selagi aku mampu. Tapi aku juga tahu bahwa sebesar apapun usaha kita untuk membalas kasih orang tua, takkan sekali-kali pernah terbalaskan, sekaya apapun engkau, sebesar apapun pemberianmu.

Di saat dia sakit keras di rumah sakit dan aku datang menjenguknya, anak istriku tidak kubawa karena terburu-buru. Aku membawakannya sebuah topi cowboy kesukaannya yang kubelikan dari Jeju Island, Korea Selatan. Ia malah mengomentari jam tanganku. “bagus” katanya. Tak pernah dia memuji seperti itu dan akau tahu bahwa ia ingin memintanya tapi malu mengatakannya. Akupun pura-pura tidak mengubris karena tak terpikir olehku kalau ia akan pergi selamanya beberapa minggu kemudian. Aku berpikir, aku masih bisa membelikannya yang lebih baik dari yang kupunya sekarang. Namun ternyata hidup berkata lain, bukan jam tanganku yang kuberikan kepadanya melainkan cicinnya yang aku pakai sekarang sebagai kenangan akannya.

Tapi aku bisa saja terus menceritakan sejuta kenangan manis, tapi cukuplah cerita-cerita di atas. Mungkin ia tak pernah mengatakan sekalipun ia mencintai kami, mungkin dia tak pernah mengantarkan kami ke sekolah minggu atau ke sekolah, mungkin ia tak pernah mengajak kami bermain, dan melakukan hal lain yang lazim dilakukan ayah dan anak; tapi hidupnya selama bersama kami telah membuktikan segalanya. Dalam waktu 37 tahun aku tak pernah ragu bahwa ia membanggakanku dan saudara-saudaraku. Bahwa ia tak pernah pilih kasih terhadap kami berenam bahwa ia sungguh mencintai ibuku.

Aku percaya sedalam-dalam sampai saat ini bahwa, dia mencintai kami sebagai batu karang yang teguh. Dia tak pernah berlaku sebagai layaknya ayah-ayah lain kepada anak-anaknya karena memang dia bukan begitu. Setiap orang mencintai dan mengekspresikan cinta dengan caranya sendiri. Tergantung latar belakang hidupnya. Dia datang dari jaman yang berbeda, dari dunia yang berbeda, bahkan kalau boleh dikata dari keluarga yang berbeda. Sulung dari 11 bersaudara dia telah mandiri sejak kecil. Sejak SMP dia sudah bersekolah jauh dari rumah, sejak SMA dia merantau ke Kupang, menumpang di rumah orang.

Sikapnya keras, bahkan cenderung kaku. Tapi aku tak pernah meragukan bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat menyayangi kami. Tentu saja kami pernah protes, verbal maupun unverbal, tapi itu tak akan merubahnya. “Saat kita kecil, orang tualah yang mengerti kita, saat kita dewasa kitalah yang harus memahami orang tua kita,” kataku kepada adik-adiku kalau mereka protes.

Aku percaya ia mencintai kami lebih dari apapun sampai akhir hayatnya. Sampai akhir hidupnya ia tetap Benyamin Messakh yang kami kenal. Tak berubah sedikitpun, terhadap kami maupun terhadap orang lain. Saat kami mengantarkannya ke liang lahat dengan pakaian adat Rote kebesaran kami, kakak sulungku berkata: “beta kira dia su pensiun jadi sonde laku-laku lai, orang su lupa sang dia. Tapi ini hari beta tahu orang masih sayang dia.”

Ia mungkin tak terkenal, engkau tak akan melihatnya di televisi. Tapi ia adalah pahlawan bagiku. Teman-temanya memanggilnya Min, orang-orang memanggilnya Om Min atau Bu  Min, ibuku memanggil “bu” saja. Aku memanggilnya Papa. Selamat hari Ayah, papa!

Serpong, 20 Juni 2011



Monday, November 21, 2011

Apuse bukan Garuda


Kalau malam ini mereka kalah, biasa saja. jangan sekali-kali keluarkan kebiasaan Indonesia mu itu dengan menyalahkan mereka karena mereka sudah terlalu banyak berkorban. 
Bukan hanya di lapangan berukuran 110 x 75 meter itu, tetapi di tanah seluas 420.540 km² itu banyak yang sudah mereka korbankan untuk Indonesia, bahkan lagu yang kalian nyanyikan di lapangan sepakbola dengan fasih adalah perampasan dari lagu mereka "APUSE"....
Mulai dari Biak sampe Merauke, dari Raja Ampat sampe Tanah Merah, satu saat akan berkibar Bintang Kejora dan bergema "Hai Tanahku Papua"..