Monday, November 19, 2012

Suu Kyi: I never felt that I was not free

Mendengar pidato Aun San Suu Kyi di  Sorbonne pada 28 Juni 2012 ini tiba-tiba membuat saya berpikir tentang video game, calculator, komputer and segala kemudahan yang dimiliki kita dan anak-anak jaman sekarang. Kadang saya membayangkan kalau tidak ada calculator dan saya harus menghitung sesuatu dalam waktu yang sangat singkat dalam situasi yang sangat genting dengan konsekwensi nyawa saya, apakah saya akan survive? Kemudahan jaman modern dengan segala fasilitas dan kemudaan telah membua banyak di antara kehilangan apa yang disebut Suu Kyi dengan "inner resources".

Pidato ini mengingatkan kita akan esensi pendidikan yang sebernarnya yaitu mengasah inner resources kita agar dalam kondisi yang sulit kita tidak hanya survive tetapi terus bertumbuh. Terlalu banyak pendidikan yang menghasilkan banyak mediocre karena kemudahan yang tersedia. Saya teringat seorang kepala sekolah pendidikan pertanian di Naibonat, Kupang yang pernah dengan sangat sinis mengatakan: "kerbau pun kalau disekolahkah akan mendapat ijazah."

Berikut ini adalah transkrip dari pidato Aung San Suu Kyi pada bagian awal video ini:

"..One of the things that help me to pass these years with equanimity was my curiosity. I was always wanting to know more, about what was happening to the world around me and to myself as well. And however small the world may be, even if its confined to one house or even to one room, there is always something of interest could going on. And because of these interests I never felt that I was not free. I have sometimes felt somewhat unreal, because I was not in contact with the rest of the world, but I never felt that I was not free because my mind was free to think. And to think about new things. Everyday day it seems to me that there were new things to think about.

I practice meditation during those years, and this teaches you a lot about yourself. You should try to sitting very quietly for about 20 minutes and not thinking, it very difficult not to think. And then you realized what your mind is really like. And little by little, because you know more about yourself,  you are more sensitive to what is going on around you. And of course I was lucky enough to have a radio to listen to, and books to read.
All of us need inner resources at some time or the other. If you are lucky you may not have to depend on them too much. But circumstances around you are such that your life is restricted in certain ways then you have to fall back on your inner resources. And I think that's what education should be about: to built up your inner resources so that whatever circumstances you may find yourself, you will be able, not just to survive but to grow. Because life is about growing. Its not about remaining static. Its about learning new things every day, even if just something about yourself, or something about the room in which you are forced to be.

So I hope that all of you today will help me to learn new things in the next hour and a half, or perhaps less. And that the questions that you ask me will help me to ask questions about our situation in Burma. Because question lead to other question. Some have asked me: "Aren't you bored with people asking the same question again and again?" Its not quite like that, people put their questions in different ways. And sometimes, even the same questions can provoke new insides into the issue that they are addressing. I look very much forward to the questions that you will put to me. And I hope that they will as interesting for you as I am sure you questions will be to me, that my answer should be as interesting as your question will be to me. Thank you." 


Pidato ini sangat menarik dan sangat asli, dan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaanpun sangat bagus. Selain itu, ia sangat sangat eloquent dalam bahasa Inggris dan juga sangat influence dalam bahasa Prancis. 

Sunday, November 18, 2012

Sasando memanggil



Seorang pemain alat musik tradisional dari pulau Rote, A.A. Malelak, memainkan sebuah lagu tradisional "Batu Matia" dengan alat musik tradisional Rote, Sasando. Informasi tentang Sasando bisa dilihat di sini : http://en.wikipedia.org/wiki/Sasando

Friday, November 16, 2012

Lagu tidur buat anakku

Billy Joel itu seorang genius. Mendengarkan lagu ini, bila aku bukan seorang ayahpun aku akan merasakan apa yang dirasakan semua ayah yang akan berpisah dari anaknya. Perpisahan dengan anak itu, mungkin karena anak-anak beranjak dewasa, mungkin karena perceraian, mungkin karena tugas atau bencana-- memang tidak mudah.

Tapi aku adalah seorang ayah. Seorang yang berpisah dengan anak-anakku yang masih kecil.

Akupun membayangkan sejumlah hal ketika mendengarkan lagu ini: aku membayangkan kedua anak laki-lakiku ketika mereka menikah dan mereka memilih lagu ini sebagai lagu dansa mereka dengan ibu mereka. Ibu mereka akan memeluk bocah kecilnya untuk terakhir kalinya dan mengingat semua kenangan indah masa kecil bersama mereka. Aku teringat ibuku yang harus melepaskan aku sejak aku berusia enam bulan tinggal jauh bersama kakek dan nenekku karena kesulitan hidup keluarga kami. Aku membayangkan ayahku yang tak pernah memanjakan kami namun jauh di dalam lubuk hatinya aku tahu dia sangat mencintai enam orang anak laki-lakinya.

Aku membayangkan masa kecilku yang indah di rumah nenek dan kakekku dan bagaimana aku sangat berat meninggalkan mereka untuk kembali berkumpul bersama ayah, ibu dan saudara-saudaraku. Aku membayangkan ayahku menangis saat aku membawa istri dan anakku yang masih kecil meninggalkan ayah yang dalam keadaan sakit keras. Itulah terkahir kali aku bertemu ayahku. Aku pulang ke rumah setahun kemudian hanya untuk menemui jenazahnya terbaring kaku di rumahnya.

Aku mengingat ibuku melepasku hampir siang ketika aku akan pergi ke belahan dunia yang lain. Ia hanya berkata: "berangkatlah, bukankah ayahmu telah mengajarkan agar kalian kuat menghadapi kehidupan sejak kalian masih kecil?" Aku mengerti apa yang ibuku katakan, dan ia kelihatannya begitu tegar, setegar tahun-tahun ia mendampingi ayahku meliwati masa-masa sulit kehidupan keluarga kami. Jauh di lubuk hatinya messtilah ia cukup kuat untuk menerima bahwa anak-anaknya telah punya hidup sendiri.

Aku teringat malam-malam di mana aku punya waktu untuk meninabobokan anakku, menyanyikan lagu-lagu Rote yang sering dinyanyikan ayahku ketika kami masih kecil. Jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman di negeri di mana kami sering merasa tak aman di rumah sendiri. Masa-masa yang tak ingin kulupakan, masa-masa yang membuat aku lemah sekaligus kuat karena anak-anakku ada di sekitarku.



Lagu ini juga mengingatkan saya akan setiap anak yang pernah aku ketahui, menangis tapi tak pernah bisa kupeluk. Aku teringat anak-anak yang terpisah dengan ayah atau ibu mereka karena perceraian orang tua mereka, atau karena kematian orang tua mereka.

Aku teringat orang tua yang kehilangan anak mereka sebelum waktunya, harusnya anak-anak mereka yang menguburkan mereka tetapi sebaliknya merekalah yang menguburkan anak-anak mereka. Teringat anak-anak yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua karena, anak-anak terbuang, anak-anak yang mengalami kekerasan, anak-anak yang dibuang orang tua mereka, anak-anak yang tak bisa menikmati masa kecilnya karena harus melakoni tanggungjawab sebagai orang dewasa sebelum waktunya. Kepada semua anak di dunia. Lagu ini mungkin tak akan menyembuhkan luka mereka namun mengutarakan dengan manis sejuta perasaan yang mungkin tak bisa diungkapkan oleh orang yang merasakan nya.



Lullabye ini mengatakan sejuta kata yang kita inginkan diketahui oleh mereka yang kita cintai. Stanza terakhir menawarkan harapan dan janji yang jarang kita temui di hari-hari dewasa ini.

"Someday your child may cry
And if you sing this lullabye
Then in your heart
There will always be a part of me"

Sebuah stanza yang sempurna...Lagu yang luar biasa dan sangat berarti bagi saya. Semoga andapun menghargai lagu ini.

Friday, November 09, 2012

Lupakanlah hidup sejenak

KETIKA mendengarkan lagu ini rasanya ingin duduk bersama seorang teman baik, dengan sebotol whiskey sejenak melupakan kehidupan. Ya, melupakan kehidupan.

Dalam lagu ini, Billy Joel sebenarnya mau mengatakan bahwa walaupun dua orang punya kesusahan sendiri, namun selalu ada yang sama diantara mereka: kesepian, dan mendapati seseorang yang mengerti kesusahan kita, mengenal seseorang yang bisa mengerti anda merespon anda dari pengalamannya sendiri, selalu meringankan beban anda.

"Piano Man" adalah lagu terbaik Billy Joel karena lagu ini berbicara langsung ke jiwa setiap orang yang mendengarkan. Kita semua merasa kesepian, melihat orang lain kesepian, mencoba untuk keluar dari kesepian dan kesusahan kita. Kita adalah pelaut yang kandas di pekerjaan yang mungkin tidak kita inginkan lagi.  Kita adalah pak tua yang terjebak dalam pakaian orang muda, kita adalah novelist yang bekerja keras dan orang lain yang mencicipi hasilnya, kita adalah pelayan yang bergelar sarjana politik, kita adalah businessman yang ditipu. Kita adalah pegawai rendahan yang dibayar murah, kita tersesat dan ingin rasanya menyandarkan kepala sebentar agar bisa menemukan kembali diri kita.


"Piano Man" adalah penceritaan kembali secara fiksi dari pengalaman Billy Joel sebagai seorang penyanyi piano-lounge pada Executive Room di Los Angeles, dan Billy Joel pernah menyatakan bahwa semua tokoh dalam lagu itu didasarkan pada tokoh nyata. Billy Joel pindah dari New York ke L.A. untuk merekam album pertamanya, Cold Spring Harbor yang tidak sukses, sebagian besar dikarenakan kesalahan mastering oleh sang producer di Family Productions, label pertama Billy Joel. 

Setelah pengalaman  buruk ini, Joel ingin meninggalkan kontraknya dengan Family Productions dan bergabung dengan Columbia Records, namun kontrak yang telah ia tandatangani tidak memudahkan hal itu. Lalu Joel mengatakan bahwa ia “bersembunyi” di sebuah bar, perform dengan nama Bill Martin, sementara para pengacara di Columbia Records mencoba untuk mengeluarkannnya dari kesepakatan kontrak sebelumnya. Pengalaman pribadinya dengan kegagalan album pertamanya dan frustrasi profsionalnya pada saat itu tercermin dalam mimpi-mimpi yang gagal dari tokoh-tokoh dalam lagu ini.

Bar dalam lagu ini adalah bar yang benar-benar ada. Sang bartender sendiri adalah bartender sungguhan, Paul sungguh-sungguh bicara kepada Davy yang sungguh kebetulan adalah seorang pelaut (Davy the navy). Pelayan yang belajar politik adalah istri pertama Billy. Bar itulah tempat mereka pertama bertemu... juga dimana para pengujung biasa memanggilnya ‘the piano man.’
Para pengunjung bar juga bilang kepada Billy bahwa dia terlalu bagus untuk bermain di sebuah bar.

Karena itulah mereka bilang “man, what are you doin’ here?”.  Ini adalah sebuah ungkapan yang biasa kita dengar terhadap orang-orang berbakat yang menjadi perfomer di kota kecil, gedung pertunjukkan kecil, bar kecil padahal mereka seharusnya mendapatkan kesempatan yang lebih baik.

Dengan mengatakan itu, orang sebenarnya mau bilang, “anda terlalu bagus untuk bermain di kota kecil semacam ini. Anda seharusnya adalah seorang seniman kelas dunia atau setidaknya anda sama hebatnya dengan seorang performer terkenal yang pernah kami lihat.” Pertarungan hidup sang pianis seharusnya meningkat ke level berikutnya.

Namun nyatanya orang-orang duduk di bar dan “put bread in my jar.”  Mereka memberi uang. Jika engkau punya uang maka engkau punya roti, engkau punya sesuatu untuk membeli makanan, atau roti.



Pertanyaan itu juga mengandung ironi: mengapa sang piano man berada di bar bersama-sama dengan orang-orang semacam itu? Sementara semua orang yang digambarkan dalam lagu itu seperti mencari jalan keluar atau pelarian dari kehidupan mereka masing-masing, sang piano man adalah satu-satunya yang tidak ingin melarikan diri. Walaupun ia sendiri menolong mereka dalam pelarian hidup mereka itu. Ironis memang, bagi sang piano man, karena ia sendiri melarikan diri hanya lewat permainan pianonya. Jadi, semua orang sebenarnya sedang melarikan diri, hanya masing-masing dengan caranya sendiri.

Lirik lagu ini sungguh luar biasa dan menceritakan orang-orang biasa dengan kehidupan biasa namun menginginkan kehidupan yang lebih baik.  Sang bapak tua, John, Paul, Davy, sang businessman, sang pelayan, dan gerombolan orang-orang di hari Sabtu itu adalah orang-orang itu: orang-orang dengan masalah dalam hidup mereka. Hey, dan sang Piano Man sendiri adalah orang-orang seperti mereka, itulah mengapa dia ada di bar itu.


Musik adalah cara untuk melarikan diri dari kenyataan dan dengan menyanyikan lagu ini bukan hanya melarikan diri dari kenyataan tetapi menolong orang lain melakukan hal yang sama.
"Yes, they're sharing a drink they call loneliness. But it's better than drinkin' alone"

Saya akan sangat senang pergi ke bar itu dan mungkin duduk di samping sang bapak tua yang bercinta dengan tonic dan gin-nya sambil mendengarkan sang piano man. Duduklah bersama seorang teman baik, dan sebuah botol, sendiri mungkin merupakan sebuah penyebuhan terhadap pelarian kehidupan kita. Mungkin tak banyak menolong, namun setidaknya mengurangi beban dan tekanan pelarian kita.  Lupakanlah dunia sejenak. Dengarkanlah lagu ini dan Billy Joel akan menjadi sang piano man bagi anda.



It's nine o'clock on a Saturday
The regular crowd shuffles in
There's an old man sitting next to me
Makin' love to his tonic and gin

He says, "Son, can you play me a memory
I'm not really sure how it goes
But it's sad and it's sweet and I knew it complete
When I wore a younger man's clothes."
la la la, di da da La la, di di da da dum
Chorus:
Sing us a song, you're the piano man
Sing us a song tonight
Well, we're all in the mood for a melody
And you've got us all feelin' all right

Now John at the bar is a friend of mine
He gets me my drinks for free
And he's quick with a joke and he'll light up your smoke
But there's some place that he'd rather be
He says, "Bill, I believe this is killing me."
As his smile ran away from his face
"Well I'm sure that I could be a movie star
If I could get out of this place"

Oh, la la la, di da da
La la, di da da da dum

Now Paul is a real estate novelist
Who never had time for a wife
And he's talkin' with Davy, who's still in the Navy
And probably will be for life

And the waitress is practicing politics
As the businessman slowly gets stoned
Yes, they're sharing a drink they call loneliness
But it's better than drinkin' alone

Chorus
sing us a song you're the piano man
sing us a song tonight
well we're all in the mood for a melody
and you got us all feeling alright

It's a pretty good crowd for a Saturday
And the manager gives me a smile
'Cause he knows that it's me they've been comin' to see
To forget about their life for a while
And the piano, it sounds like a carnival
And the microphone smells like a beer
And they sit at the bar and put bread in my jar
And say, "Man, what are you doin' here?"

Oh, la la la, di da da
La la, di da da da dum

Chorus:
sing us a song you're the piano man
sing us a song tonight
well we're all in the mood for a melody
and you got us all feeling alright


Thursday, November 08, 2012

Ketika Paul Simon menginginkan warna asli Afrika

KALAU ada yang punya album Graceland-nya Paul Simon, anda akan mendengarkan unsur Afrika yang kental dalam lagu-lagunya. Dan nampaknya begitulah warna lagu-lagunya setelah album ini. Warna Afrika yang ditampilkan Paul Simon itu berbeda, sangat berbeda dari musisi Afro America kebanyakan. 

Kalau Paul mau saja mungkin dia bisa melibatkan musisi Afro Amerika dalam album-albumnya, tetapi ia tidak melakukan hal itu melainkan memilih pergi ke Afrika Selatan untuk menemukan musisi di sana untuk terlibat dalam albumnya. 

Ceritanya dimulai ketika Paul Simon menginginkan suara yang kaya dan halus untuk vocal "lie-lie-lie” dalam lagu "The Boxer," gema ruang studio tidak mampu melakukannya, sehingga ia dan Art Garfunkel mengepak peralatan studio mereka dan men-set up rekaman di sebuah gereja. Mereka menghabiskan sehari penuh merekam suku kata-suku kata itu dengan sempurna.


Simon dan Mariam Makeba dlm konser di Zimbabwe. 
Paul Simon dan group LadySmith Black Mambazo.
Pada tahun 1984 seorang teman memberinya kaset musik Afrika Selatan yang berjudul Gumboots: Accordion Jive Hits # 2, dan ia mendengarkannya berulangkali. Untuk album berikutnya, yang ia inginkan adalah suara seperti dalam kaset itu, bukan suara seperti yang dihasilkan oleh orang-orang di New York memainkan musik Afrika, tetapi musisi Afrika yang ia dengar dalam rekaman itu. Akhirnya setahun kemudian ia pergi ke Afrika Selatan untuk menemukan mereka. 
Saat itu Apartheid masih berkuasa di Afrika Selatan dan Nelson Mandela masih dalam penjara tapi Paul Simon bertekad untuk mendapatkan warna musik yang demikian. Pada awalnya tidak mudah ia mendapatkan dukungan dari para musisi Afsel. Ada oposisi yang kuat pada kunjungan Paul Simon di Afrika Selatan. Meskipun ia punya niat baik, ia tidak bertemu dengan para pemimpin politik hitam sebelum ia pergi dan banyak yang merasa bahwa ia mengganggu perjuangan mereka melawan Apartheid dan menggunakan bakat lokal mereka untuk keuntungan pribadi.

Namun singkat cerita ia bisa bertemu para musisi Afsel dan apa yang ia dapatkan kemudian menjadi fondasi dari album Graceland, yang 25 tahun kemudian menjadi sebuah kemenangan musik dan budaya.
Dalam perjalanannya mencari warna Africa asli, Paul Simon bertemu dengan musisi Afrika seperti Mariam Makeba, dan group LadySmith Black Mambazo yang turut dalam world tournya Simon.
Dalam pengakuan Paul Simon, niatnya untuk mencari para musisi Afrika Selatan adalah benar-benar niat yang egaliter. 
"Expresi yang paling tulus dari perhargaan saya terhadap para musisi ini, bukanlah pergi sana dan bilang kepada mereka: 'biarkan saya menggambarkan penderitaanmu dan bebanmu. Dan aku akan melakukannya untuk kalian,'" kata Paul Simon dalam wawancara dibawah ini. 



"Ide saya adalah 'mereka memainkan bagian mereka yang terbaik dan saya akan melakukan bagian saya yang terbaik. Saya akan melakukan bagian saya yang terbaik. Saya tidak datang ke sini berjanji untuk melakukan sesuatu apapun selain dari membuat rekaman yang bagus. Mereka tidak bilang 'datanglah engkau dan ceritakan kisah kami.' Mereka hanya bilang 'ya datanglah dan kami akan bermain dengan anda.'"
Paul memang punya ketidaksukaan terhadap lagu-lagu yang menggurui. Baginya musisi harus bisa mengekpresikan kemarahan terhadap politik aparteid dalam musik.  
"Dalam kasus keseluruhan pengalaman Graceland,  dan keseluruhan argument yang berkembang dalam tahap-tahap awal, sesungguh adalah tetang bagaimana mengekspresikan kemarahan terhadap dosa-dosa apartheid. Akankah engkau ke sana dan bilang 'saya punya kemarahan yang sangat besar terhadap aparteid?' Wel, baiklah jika kamu bisa mengatakannya secara musikal. [Tetapi] Jika kamu tidak bisa mengatakannya secara musikal, itu adalah sebuah kegagalan dan tak ada yang akan mendengarkan anda." katanya.
Bagaimana Paulus Simon menarik warna musik atau musik Afrika ini keluar, diceritakan dalam film dokumenter Under African Skies, yang merupakan bagian dari the Graceland 25th Anniversary Box Set, yang juga memasukkan rekaman konser dari tur Graceland dan lagu-lagu yang belum pernah dirilis.

Kalau ada melihat kedua video dibawah ini, tampak sekali bagaiamana warna Afrika itu begitu dominan dan bukan warna Afrika seperti yang kita dengar dari Boney M, Marley and Wailers atau musisi Afro Amerika lainnya. Dan kolaborasi mereka sungguh egaliter, seperti yang dikatakan Paul Simon: 
"Saya hanya ingin membuat rekaman yang sangat bagus dengan sekelompok musisi habat dan membawa mereja keluar dan manggung di seluruh dunia, dan apa yang kemudian anda lihat adalah seorang kulit putih bermain sangat percaya diri dengan musisi kulit hitam, yang sesungguhnya kebalikan dari apa yang dipertahankan oleh aparteid." [**]




Monday, November 05, 2012

Secarik pesan, sebuah Alkitab dan tiket pulang

Ada masa-masa di mana kita mengalami masa kanak-kanak yang menyenangkan bersama orang tua kita. Namun ada saat dimana kita harus meninggalkan mereka, untuk pertama kalinya. Ada yang tahu kapan mereka kembali, namun ada juga yang tidak. Mungkin keberangkatan mereka adalah untuk sekali dan selamanya, sebab banyak yang hanya kembali untuk meletakkan bunga di nisan orang tua mereka. Banyak yang pergi dan pulang, namun saat orang tua menghembuskan napas terakhir mereka, mereka tidak ada di sana.

Dunia dewasa ini, terima kasih kepada teknologi dan globalisasi, menjadi begitu mendekatkan kita. Secarik surat untuk orang tua yang dulu mungkin hanya bisa sampai ke rumah setelah berbulan-bulan, sekarang dalam hitungan detik, bisa sampai ke orang tua kita. Terima kasih kepada teknologi komunikasi, seperti telpon, Skype, dan facebook tentu saja.

Namun jarak tetaplah jarak. sekalipun dunia maya bisa mendekatkan kita dalam hitungan second per detik, jarak Jawa dan Timor tetaplah sama dari dulu sampai sekarang. jarak Rote dan Kupang tak pernah berubah. Jarak Eropa dan Indonesia tak pernah berubah. Jarak Batuplat dan Leiden tak juga bertambah dekat seiring waktu.

Kalau dulu, jarak dan kesedihan berbanding lurus, maka mengalirnya dari pena para sastrawan dan seniman lagu-lagu seperti "Flobamora", "Ambon Manise", atau "Ofa Langga Soba-Soba". Namun sekarang perbandingan lurus ini tak begitu lagi dirasakan banyak orang. Namun apakah berarti rindu terobati hanya dengan duduk di depan laptop bercakap-cakap dengan orang-orang tersayang? apakah rindu menjadi terobati ketika mendengarkan suara mama tersayang atau ayah yang sudah semakin tua?

Sedikit, mungkin. Tetapi tak akan banyak mengubah kerinduan bersama sebagaimana kita seharusnya bertemu orang tua kita, pasangan kita atau anak-anak kita. Pertanyaan sederhana: Bagaimana kalau mereka sakit?; bagaimana kalau mereka tak mengharapkan hadiah atau oleh-oleh apapun selain kehadiran anak yang mereka kasihi?

Jarak tetaplah jarak, karena dunia semakin tua namun tak menjadi kecil atau menyusut. Seperti kata penyair lagu OFA LANGGA SOBA-SOBA: "kota nai kota de, ma Lote nai Lote de" (Kupang di Kupang jua dan Rote adalah di Rote jua). Tak ada yang bisa menggabungkan Kupang dan Rote di satu tempat. Walaupun geographer dan ahli globalisasi David Harvey menyebut globalisasi sebagai "space-time compression", globalisasi tetap tak bisa menggabungkan dua kutub dunia yang berbeda. Globalisasi tak menggantikan apapun kecuali mengurangi sakit rindu yang akut. Obat rindu yang paling mujarab hanyalah kalau kita benar-benar bertemu. Semoga mereka yang memendam rindu kepada ayah, ibu, anak, istri mereka diberikan kekuatan untuk menyimpan rindu itu sampai saatnya nanti.

Memang, ada mimpi yang kita kejar,tetapi ada yang lebih berharga yang menantikan kita.  Mereka memang tak ada di sana ketika kita dalam kesulitan, tetapi setiap malam berdoa selalu untuk kita walaupun kita sering melupakan mereka. Mereka menantikan kita pulang lebih dari sejuta hadiah dan oleh-oleh dan foto. Tak ada yang lebih membahagiakan dan membanggakan mereka ketika kita pulang ke rumah. Tak ada yang lebih mengkhawatirkan mereka ketika mereka lama dan mendengar kabar dari kita. Apalagi ketika kita tak pernah berkirim kabar. Hati mereka tak akan tenang jika kita mengalami kesusahan, mungkin mereka mengalami mimpi buruk, mungkin mereka merasa tak enak atau bahkan mencoba menghubungi kita. Siapa lagi yang mengkhawatirkan kita, kalau bukan orang yang menghadirkan kita ke dunia. Merekalah orang-orang yang menerima kita dengan tangan terbuka dan hati yang hangat ketika mimpi-mimpi kita hancur berantakan dan kita berlari dalam tangis pulang ke rumah.

Semoga, kita punya semua yang kita butuhkan untuk kembali dan pulang. "Kembali dan Pulang" adalah obat bagi semua yang merindukan orang-orang tersayang. Janganlah pulang hanya untuk meletakkan bunga di batu nisan, karena itu akan menjadi penyesalan seumur hidup.

Saat menulis notes ini saya menemukan sebuah lagu religius di YouTube yang bercerita tentang harapan dan penantian orang tua kepada anaknya yang meninggalkan rumah. Dalam lagu itu sang ibu menyisipkan sebuah Alkitab dan sebuah tiket pulang di tas pakaian anaknya.

Kita semua tahu, semua orang tua akan berat melepas anaknya untuk pertama kalinya. Seperti baru kemarin, si kecil berlari-lari di halaman rumah, terjatuh dan menangis sambil mengadu ke papa atau mamanya. Sekarang dia akan berlari-lari di kerasnya dunia; dunia yang sudah dilalui sang ayah dan ibu ketika si kecil hanya merasakan manisnya masa kecil. Dan di dunia yang nyata itu, tak ada ayah dan ibu yang bisa menjadi tempat pelarian setiap saat.

Karena itu bagi para ayah dan ibu, jika boleh, anak-anak mereka tak usah meninggalkan mereka. Namun hidup bukalahlah begitu arahnya, sebagaimana dunia harus terus berputar. Tak ada yang bisa menahan berputar dunia dan waktu. Mungkin klise namun nyata: bahwa hidup adalah tautan-tautan pertemuan dan perpisahan setiap saat.

Lagu ini mengingatkan saya akan sebuah penyesalan yang tak bisa terobati. Di saat ayah tercinta saya meninggalkan dunia untuk selamanya, saya sangat jauh dari rumah. Saat ini, saya teringat ibu saya. Hampir siang saat saya berangkat, saya mendatangi rumahnya. Dia membuka pintu dan cuma bilang: "berangkatlah nak, ayahmu telah mengajarkan kalian kekuatan sejak kalian masih kecil." Juga saya teringat kedua anak saya yang ketika berangkat sedang tertidur dan saya tak sampai hati untuk membangunkan mereka untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal. Kekasih hati saya, tentu lebih sedih hatinya. Orang Kupang biasa bilang "yang pergi itu enak, tapi yang tinggal ini..".

Selamat menikmati para perantau, semoga kita dikuatkan. Jangan lupa pulang ke rumah. Rumah di mana selalu ada yang menanti!

 

A Bible And A Bus Ticket Home

Mamma's tears fell so easy
Daddy's handshake was strong
Then I climbed aboard that Greyhound
Eighteen and glad to be gone

Took a rented room on broadway
As I unpacked everything I owed
I found a note my mamma left me
With a Bible and a bus ticket home (It said)

One will get you where you're going
When you haven't got a prayer
And one will bring you back son
If you're dreams ain't waiting there

You're out on your own now
We won't be there to fall back on
But you know we're never farther
Than a Bible and a bus ticket home.

The years have come and gone and taken
The only things in life I ever counted on
But I'm going back tomorrow
To lay flowers on their stone.

I can almost hear my mamma calling
Saying son come back where you belong
You've got all you need to get here
A Bible and a bus ticket home

One will get you where you're going
When you haven't got a prayer
And one will bring you back son
If you're dreams ain't waiting there

You're out on your own now
We won't be there to fall back on
But you know we're never farther
Than a Bible and a bus ticket home.

 

Friday, October 26, 2012

May you stay forever young...



ADA YANG BILANG lagu ini ditulis ketiga Bob Dylan dan Sara menyelesaikan proses perceraian mereka. Dylan tahu ia tidak bisa bertemu anak-anak sesering yang ia mau, sehingga ia menulis lagu ini sebagai harapan seorang ayah untuk anak-anaknya. Ada yang bilang lagu ini ditulis khusus untuk anaknya Jakob tapi tak ada yang tahu yang sebenarnya. Dylan punya empat orang anak dari perkawinan pertamanya antara tahun 1966-1969 dan yang termuda bernama Jakob, yang kemudian membentuk band rock The Wallflower.

Di tahun 1973 Dylan bergabung dengan sebuah label rekaman baru Asylum Records setelah kontraknya dengan Columbia Records selesai. Dylan muncul kembali ke studio rekaman bersama backing band awalnya, The Band sekaligus mempersiapkan diri untuk sebuah tour besar. Mereka kemudian keluar dengan Planet Waves di mana lagu yang kaya makna pesan dari orang tua kepada anak ini dimunculkan. Seorang critic menggambarkan lagu ini sebagai "sesuatu yang hymnal dan penuh perasaan menceritakan keayahan Dylan." Dylan sendiri berkomentar: "Aku menulisnya sambil memikirkan salah seorang anakku dan tidak ingin menjadi terlalu sentimentil."


Lagu ini kemudian menjadi salah satu classic dari Dylan. Dylan menyanyikan lagu ini bersama The Band pada hari Thanksgiving tahun 1976 dalam concert "Last Waltz", yang kemudian difilmkan dan diluncurkan pada tahun 1978 bersamaan dengan sountrack albumnya.
Dylan memasukkan dua versi lagu ini dalam album Planet Wavers. Versi pertama adalah sebuah versi lambat dan diikuti oleh sebuah versi yang lebih cepat yang diberi judul "Forever Young (Continued)."

Sejumlah penyanyi yang telah membawakan lagu ini antara lain Joan Baez (1976), Diana Ross (1984), The Pretenders (1994), Susan Anton (2001), dan Meat Loaf (2003). Chrissie Hynde anggota band The Pretenders menyebut lagu ini: "It's got such a beautiful lyric. I just love it. He's the pride of our generation. The song is genius."

Bob Dylan dan anaknya Jesse di Woodstock, New York, 1968. (photo: Elliot Landy)
Lagu ini pun pernah dibacakan secara menarik sebagai puisi di acara televisi di US oleh Howard Cosell ketika Muhammad Ali memenangkan gelar kelas beratnya untuk ketiga kalinya. Pada tahun 2008 illustrator Paul Rodgers menerbitkan sebuah buku anak bergambar mengenai lagu ini. Lyric lagu ini digunakan sebagai story.

Pada Maret 2012 menandai 50 tahun diluncurkannya album perdana Dylan dan sekaligus 50 tahun Amnesty International, diluncurkan pula sebuah album tribute kepada Dylan berjudul "Chimes of Freedom." Dalam perayaan itu juga diluncurkan sebuah video dimana mentor Dylan, Peter Seeger menyanyikan Forever Young. Dalam video itu, kakek berusia 92 tahun ini bersama-sama dengan paduan suara anak-anak Rivertwon menyanyikan lagu ini.



Serangkaian kampanye media maya dilakukan untuk membuat orang mendownload video itu dengan harapan mengangkat Peter Seeger kembali ke 100 tangga lagu Billboard Hot, yang akan membuatnya menjadi orang tertua yang pernah muncul di Billboard chart. Usaha ini kemudian disebut sebagai "Forever Peter." Hasil dari penjualan ini didonasikan ke Amnesty International.

Bukan hanya itu penggunaan lagu ini dalam kultur pop, sejumlah serial TV menggunakan lagu ini sebagai soundtrack bahkan episode 12 dari Season 1 serial televisi Sons of Anarchy, dibuka dan ditutup dengan versi cover "Forever Young" yang dinyanyikan oleh Audra Mae.




Bahkan di tahun 2009 diremix lagi oleh wil.i.am untuk iklan Pepsi. Iklan itu diakhiri dengan slogan "every generation refreshes the world."




Tapi apapun cerita di balik lagu ini, lagu ini ditulis untuk semua ayah di muka bumi dan harapan mereka bagi masa depan anak-anak mereka. Itu saja, tak ada yang luar biasa. Seorang ayah akan berkata "aku akan menolongmu sebisaku, tapi engkau harus berupaya untuk masa depanmu. Justru karena kesederhanaan syairnya, lagu ini adalah sebuah masterpiece. "Semoga hatimu selalu dipenuhi sukacita, semoga lagumu selalu dinyanyikan, dan semoga engkau tetap menjadi muda."

Versi yang saya sukai dari lagu ini adalah versi yang dinyanyikan Joan Baez, yang kedengaran begitu mendayu dan sedih tak berdaya. Juga versi asli yang dinyanyikan Dylan menyayat hati setiap ayah dan ibu yang mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Sebagaimana lagu-lagu Dylan yang lainnya, lagu inipun mendapat tempat dihati banyak orang sepanjang masa. Seorang berkomentar di YouTube:
"lagu ini dinyanyikan dalam pemakaman anakku. Ia berusia 22. Aku mengerti dampak dari lagu ini."
Beberapa setelah kematian Steve Jobs, Norah Jones menyanyikan lagu ini pada acara peringatan akan Jobs.



Seorang bernama Rick Stafford berkomentar dalam versi YouTube yang dinyanyikan Joan Baez:
"Ya ampun, lagu ini seakan membawa banjir emosi. Saya mengingat hari-hari itu dengan begitu jelas. Dan rambut saya telah beruban dan keriput saya telah muncul, namun dalam mata hatiku aku tetap muda selamanya."
Dalam sebuah komentar terhadap lagu ini, seorang bernama DJ Hope di New Jersey, AS berkata:
"When my daughter was born I was a policeman, a job that involved working rotating shifts, so I was frequently off during the day. Because of this I spent as much time with her fulfilling the traditional "mom" role as did her mother. One of the things we often did to pass the time was put on music and dance around the family room. She was still a baby the first time this song happened to come on, and I decided right there on the spot that it would be the song we danced to on her wedding day."
Nyanyikanlah lagu ini untuk anak-anak kita dan kita, semoga setiap generasi tumbuh dalam kebenaran, senantiasa melihat terang di sekitar mereka, berani, berdiri tegak dan teguh, sebagaimana selayaknya seorang muda.



May God bless and keep you always
May your wishes all come true
May you always do for others
And let others do for you
May you build a ladder to the stars
And climb on every rung
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young.


May you grow up to be righteous
May you grow up to be true
May you always know the truth
And see the lights surrounding you
May you always be courageous
Stand upright and be strong
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young.

May your hands always be busy
May your feet always be swift
May you have a strong foundation
When the winds of changes shift
May your heart always be joyful
And may your song always be sung
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young.

Smaragdlaan 136, 2332 JX Leiden

Friday, September 21, 2012

Someday Never Comes

Lagu ini aku dengarkan berkali-kali karena dua hal: Pertama, ini lagu masak kanak-kanakku. Saat aku belum mengerti sepatah kata bahasa Inggris pun, paman-pamanku biasa menyetel lagu ini dan aku suka sekali. Aku ingat satu sangat dalam hidupku aku pernah merindukan lagu ini dan lagu-lagu lain dari band Creedence Clearwater Revival yang lebih dikenal dengan singakatnya CCR. Aku merindukan lagu-lagu itu walau hanya kukenal suara vokalisnya.  Pernah aku melihat cover album CCR dipegang oleh seorang temankku Samuel Marcal, namun saat itu aku tak tahu kalau band CCR itulah yang menyanyikan lagu-lagu yang aku sukai itu. 
Aku memang ingat lagu lagu dari band itu, walaupun baru kemudian aku tahu judul-judulnya seperti: Bad Moon Rissing, Jambalaya, Down on The Corner, and Proud Mary. 
Pernah suatu saat aku bangun subuh karena lagu-lagu ini terdengar sayup dari sebuah pesta nikah di kampungku. Orang-orang menggunakan lagu-lagu ini untuk berdansa tapi aku menyukainya bukan karena itu.
Kedua, aku menyukai liriknya. Mengingatkan aku akan anak-anakku yang jauh di belahan bumi yang lain. 




Mungkin karena aku terlalu ambisius, aku berani mengambil resiko meninggalkan mereka jauh. Aku bukan
seorang prajurit yang terpaksa meninggalkan anak istri karena kewajiban negara, aku cuma seorang ayah. Aku cuma seorang ayah yang berusaha mencari yang terbaik untuk keluargaku. Namun sama seperti prajurit akupun tak bersuka ketiga harus berpisah jauh dari keluarga. Hidup kadang menempatkan kita dalam situasi yang tak pernah kita inginkan, namun langkah kaki harus tetap kita ayunkan.  Maafkan aku anak-anakku. Seperti kata lagu ini, "someday you'll understand". Semoga satu saat kedua anakku benar-benar mengerti, ketika mereka menjadi ayah nanti.

Berikut ini adalah lirik SOMEDAY NEVER COMES:

First thing I remember was askin' papa, "Why?", 

for there were many things I didn't know 
And daddy always smiled; took me by the hand, 
sayin', "Someday you'll understand" 

Well, I'm here to tell you now each and ev'ry mother's son 
You better learn it fast; you better learn it young, 
'cause someday never comes 

Well, time and tears went by and I collected dust, 
for there were many things I didn't know 
When daddy went away, he said, "Try to be a man 
and someday you'll understand" 

Well, I'm here to tell you now each and ev'ry mother's son 
You better learn it fast; you better learn it young, 
'cause someday never comes 

And then, one day in April, I wasn't even there, 
for there were many things I didn't know 
A son was born to me; mama held his hand, 
saying, "Someday you'll understand" 
Well, I'm here to tell you now each and ev'ry mother's son 
You better learn it fast; you better learn it young 
'cause someday never comes, someday never comes 

Think it was September, the year I went away, 
for there were many things I didn't know 
And I still see him standing, try'n' to be a man, 
I said, "Someday you'll understand" 

Well, I'm here to tell you now each and ev'ry mother's son 
You better learn it fast; you better learn it young 
'cause someday never comes, someday never comes.

(Credit: song by Creedence Clearwater Revival-CCR)
Original song:  http://www.youtube.com/watch?v=NwNuQulK6N0

Thursday, June 28, 2012

Tujuh koran terakhir dari Palmerah

Kubawa pulang tujuh edisi terakhir koran yang kami hasilkan di malam-malam Palmerah. Akan kusimpan baik-baik dan suatu saat akan kutunjukkan kepada anakku bahwa aku memang diharapkan kakek mereka menjadi pendeta tetapi aku memilih menjadi wartawan.

Namun dewa Hermes tetap berpihak padaku sejak aku belajar Hermeneutika di sekolah Theology sampai menjadi pemimpin koran kampus, koran LSM dan akhirnya wartawan THE JAKARTA POST. Dewa pembawa pesan itu berkata kepadaku bahwa yang penting bukanlah medium dari pesan namun bagaimana agar pesanmu sampai. Di situ kamu dihitung telah menjalankan tugasmu.

Terlalu berlebihan jika aku mengatakan aku terlahir sebagai wartawan, namun aku harus akui bahwa jalan hidup yang kupilih membentuk aku sebagai wartawan dan aku akan tetap sebagai pembawa berita di manapun aku berada. Terima kasih kawan-kawan Palmerah yang tak mungkin kusebutkan satu persatu. Terima kasih juga kepada semua teman wartawan yang telah menjalani hari bersama-sama sebagai wartawan. 

Tidak akan ada lagi moment kita disibukkan dengan mencari kutipan segar, nyeletuk atau aneh yang membuat sebuah karakter hidup di halaman koran, mencari color dan detail yang membuat story menjadi lebih real. Tidak akan ada lagi keharusan mendiskripsikan events secara elegan untuk membuat pembaca ikut tertawa, menangis atau marah. Tidak akan ada lagi keharusan untuk menghibur dan memberi informasi, untuk menggambarkan bagaimana rasanya di lapangan, arena pertandingan, atau di locker room. Tidak akan ada lagi keharusan memberi makna sebuah story dan menempatkannya dalam perspektif. Dan oh, tidak akan ada lagi deadline dalam waktu 15 menit.

Tidak akan ada lagi hari-hari di jurang di pertandingan paragliding, di pantai di pertandingan jetsky atau selancar, di pinggir lapangan volley pantai, dekat dengan pemain sepakbola ternama, mengetik dengan kaki celana digulung di atas meja karena kebanjiran. Tidak akan ada lagi kesulitan menemukan LEAD, kesulitan mengambarkan magnitude dari sebuah event, menempatkan dalam konteks historis.

Tidak akan ada lagi keharusan menahan diri bertingkah seperti fans walaupun hati tak dapat ditahan untuk meminta tandatangan olahragawan favorit. Kita punya akses yang dimimpikan oleh semua fans, namun kita tak bisa bertingkah seperti fans memakai jersey dan nomor punggung pemain favorit kita.

Tidak akan ada lagi jalan kaki sepanjang lintasan atau mengintari stadion karena angkutan umum tak diperbolehkan di kompleks olahraga. Tidak akan ada lagi kutipan-kutipan yang klise dan menyebalkan tentang  "penyelesain akhir" atau bagaimana menjadi focus agar bisa menang.Tidak akan ada lagi rapat-rapat yang kadang cerdas kadang dull, kadang membuat tertawa terpingkal, kadang menyebalkan. Tidak akan ada lagi MUNTABER (muntah-muntah tanpa berita). Tidak akan ada lagi martabak, pizza atau kue dan makanan gratis saat ada yang berulang tahun atau resign. Tidak akan ada lagi berantem karena tampilan dan isi halaman dianggap kurang bagus atau tak sesuai hasil rapat. Tidak akan ada lagi kunjungan pejabat dan celebrity.

Itulah hari-hari kita. Hari-hari di mana kita dibentuk, karena tak ada wartawan olahraga yang langsung dari bangku kuliah langsung menuju Wimbledon atau Piala Eropa. Tidak ada wartawan lepas dari bangku kuliah langsung mewawancarai Fabregas atau LeBron James. Tidak ada yang langsung mewancarai pemegang Nobel Perdamaian atau seorang  Presiden. Semua dimulai dari reporter. Lebih tepat masa uji coba menjadi reporter. Kurang tidur namun tetap harus bangun pagi menjadi kebiasaan. Lupa makan sampe kena maag adalah langganan. Pulang malam bukan cuma urusan pekerja klub hiburan malam. Dan ohhh Roker malam adalah kami. Kami adalah wartawan merangkap ROKER MALAM (Rombongan Kereta Malam).

Malam-malam Palmerah akan berakhir bagiku...Aku datang ke Palmerah dengan sebuah koper dan 'one way ticket' hasil pinjaman family. The Jakarta Post menjanjikan akan membayar ticket pulangku jika aku tidak diterima. Ternyata tidak ada ticket pulang bagiku, sampai enam tahun kemudian, sampai kedua anakku lahir di Jakarta. Dua hari lagi aku akan pulang dengan tiket yang kubeli sendiri. Doakan aku di jalan yang baru..tetap sebagai pembawa pesan....

Palmerah, 28 Juni 2012
Dua hari menjelang

Thursday, June 07, 2012

Anak dalam kandungan ibu yang setia itu, pagi tadi diwisuda di UPH


Dua puluh dua tahun lalu aku sedang rajin-rajinnya mengikuti paduan suara gereja. Bukan sepenuhnya karena aku senang menyanyi, tetapi sebagian karena aku sedang naksir seorang gadis yang sekarang menjadi istriku. Namun  bukan kisah cintaku yang akan kuceritakan dari kisah paduan suara ini, melainkan kisah seorang seorang ibu yang setia dan rajin.

Ibu  itu, aku biasa memanggilnya tante Lin, adalah anggota paduan suara Ebenhaezar di mana aku bergabung. Dia sangat setia dan hampir tak pernah alpa mengikuti latihan paduan suara setiap  malam Kamis, Jumad dan Sabtu. Selalu datang lebih awal bersama temannya, tante Eti, walaupun semua anggota paduan suara datang terlambat dan banyak yang lebih sering tidak datang.

Ibu itu adalah seorang binatu yang juga biasa menjadi bidan melahirkan dan tukang pijat di kampungku. Suaminya, om Nadus begitulah kami memanggilnya, adalah pekerja serabutan mulai dari menggali sumur, menggali kuburan dan kadangkala menjadi tukang kayu dan batu. Manakala ada yang membutuhkan, mereka mendapat pekerjaan. Begitulah kehidupan mereka dan setahu aku tidak ada anak-anaknya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Dua puluh dua tahun lalu, ya aku ingat benar karena waktu itu aku kelas tiga SMA menjelang lulus dan aku dikeluarkan dari sekolahku karena sering bolos. Dan aku ingat benar, tante Lin sedang hamil waktu itu. Namun dia tetap setia dan rajin seperti biasa. Tidak banyak bicara dalam paduan suara namun selalu datang tepat pada waktunya. Selalu hadir walau anggota paduan suara lain mulai kehilangan semangat untuk berlatih. Dalam bayanganku,  orang pertama yang selalu aku temui di bangku-bangku kosong gereja atau bangku kosong tempat latihan paduan suara adalah Tante Lin.

Waktu berlalu begitu saja dan aku menamatkan SMA lalu melanjutkan kuliah dan harus tinggal di asrama sebuah perguruan tinggi. Aku tak bisa mengikuti latihan paduan suara lagi. Aku pun sudah melupakan anak dalam kandungan itu entah kapan lahirnya. Walaupun rumah kami berdekatan, dan aku masih sering pulang, aku tak lagi bisa merasionalisasi yang manakah anak yang dulu dikandung itu, karena keluarga itu punya beberapa anak. Lagipula aku jarang berkunjung ke rumah mereka dan kalau pulang ke rumah hanya sebentar.

Di tahun 2008 saat aku telah bekerja di Jakarta, facebook mempertemukan aku dan seorang anak yang aku tahu adalah anak dari ibu itu. Dia telah bersekolah di perguruan tinggi swasta terkemuka di Karawaci, Univeritas Pelita Harapan.  Aku mengundang ke rumah dan kami tahu beberapa hal darinya.  Iya bercerita dengan bangga dan polos bahwa ia bisa melanjutkan pendidikan ke UPH. Awalnya ia bahkan tak tahu kalau UPH itu salah satu univeritas pretigious, universitas tempat Agnes Monica mengenyam pendidikan.

Undangan wisuda, kepada siapa harus dikirimkan?
Dari cara berceritanya, saya bisa menangkap wawasan anak ini dan saya tahu otak anak ini lumayan encer. Setelah dia pulang saya dan istri saya sepakat dalam kesan bahwa anak ini berbeda dari mahasiswa-mahasiswa lain yang pernah kami temui. Polos, cenderung lucu tapi berani berpikir di luar mainstream dan mau belajar. Tidak malau-malu mencoba sesuatu. Saya dan istri sepakat bahwa anak seperti inilah yang pantas kami dukung.

Menurut anak ini, beasiswa UPH bukanlah yang pertama kali ia dapatkan. Ia pernah mendapatkan sebuah beasiswa sebelumnya karena nilainya yang tinggi namun beasiswa yang suduh dijanjikan itu kemudian dikasih seorang temannya, anak pejabat di kelasnya. Ia tidak kecewa.
“beta percaya kalau Tuhan su kasih Dia sonde akan lari ke mana-mana dan beta percaya beta pung bagian ada,” katanya saat itu.

Beasiswa UPH pun tidak didapatkan dengan gampang. Dia mendaftar pada hari terakhir menjelang penutupan pendaftaran karena tidak punya uang. Biaya formulir Rp. 50 ribu terpaksa ia pinjam dari teman sekelasnya yang kemudian ia ganti secara bertahap. Malam menjelas tes, di rumahnya ada kematian, sehingga ia tak mungkin belajar. Apalagi ia harus menjaga adiknya yang masih bayi. Ia tidur malam itu tanpa menyentuh buku.
“Beta su biasa belajar sambil koko adi dan bamasa, jadi beta sonde kuatir apa yang terjadi besok pagi. Beta tidur malam itu dengan doa bahwa kalau memang ini beta punya, Tuhan sonde akan kasi ke mana-mana,” katanya.

Dince termasuk diantara 17 anak yang lulus dari seluruh propinsi NTT dan empat orang yang lulus dari SMA 1 Kupang. Dia hampir tak percaya kalau dia dinyatakan lulus.  Tak pernah ia membayangkan dalam hidupnya akan keluar NTT, apalagi ke Jakarta.

Barulah saya sadar bahwa anak ini adalah anak yang dalam kandungan tanta Lin 22 tahun lalu, setelah saya tanyakan usianya dan saya kalkulasi dengan tahun saya ‘aktif’ di paduan suara.

Pagi tadi, 1 Juni 2012, anak yang dalam kandungan 22 tahun lalu itu, diwisuda di UPH. Wisuda yang adalah wisuda dual degree UPH Teacher College dan Corban University mengambil thema dari Injil Matius 25:21  “May we be faithful”. Saya merasa harus menyempatkan diri untuk datang dan saya merasa sungguh terhormat bisa mendampinginya. Ayah dan ibu tak bisa datang karena tak punya ongkos. Aku tak mungkin bisa menggantikan mereka di sisi anak ini, namun aku hadir setidaknya untuk menyatakan perhormatan dan kekaguman akan pencapaian anak ini. Orang pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan universitas dan menamatkan diri dari sebuah perguruan tinggi prestigious di Indonesia.

Tulisan di dinding itu bukan kebetulan belaka.
Pagi tadi saat saya tiba di UPH, dia tersenyum lebar menyambut saya, dengan ciuman.  Kelihatan begitu cantik dan bahagia. Tanpa rasa malu dia membanggakan Kebaya dan sarung yang ia pakai yang katanya adalah kebaya dan sarung milik ibunya.

Dalam acara wisuda dan pelepasan wisudawan,  James T. Riyadi pendiri UPH bicara soal ‘cantik’ (beautiful). Dia bilang dalam beberapa hari ini yang dia perhatikan satu hal yang sama dari para wisudawan UPH. Kebetulan dalam seminggu terkahir UPH telah melakukan dua kali wisuda. Satu hal yang sama itu adalah: para wisudawan nampak beautiful. Namun dalam pidatonya itu James Riyadi bilang kencantikan itu bukan sekedar tampilan fisik tapi apa yang muncul dari dalam dan apa yang kita lakukan. Ia mengutip Roma 10: 15: “Alangkah indahnja kaki-kaki mereka jang membawa kabar-jang-baik". Dan profesi guru menurutnya adalah profesi yang membawa orang kepada kabar baik dan karena apa yang mereka lakukan sungguh indah/cantik. Para wisudawan memang cantik-cantik pagi tadi, namun ada kecantikan yang lebih luar biasa, kecantikkan sebagai Gamaliel-Gamaliel baru yang akan mendidik anak-anak di dalam ketaatan kepada Tuhan dan Yesus Kristus.

Di akhir pidatonya Riyadi membesarkan hati para guru baru ini dengan mengutip sebuah ayat dari kitab Wahyu 3:8 yang berbunyi: " .. Aku telah membuka pintu bagimu yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun .."
Dan memang banyak pintu yang dibukakan dalam perjalanan hidup anak ini. Selama empat tahun di UPH, kadang dia tidak punya uang untuk sekedar membeli jajan, sabun atau perlengkapan anak gadis umumnya. Dia bahkan tak punya biaya untuk liburan ke Kupang.
“Selalu saja ada yang membantu tanpa saya minta.”
Ia menceritakan kepada saya sebelumnya banyak orang-orang yang menolongnya tanpa ia perlu mengiba-iba atau meminta-minta atau menceritakan latar belakang keluarganya. Ia memang pandai membawa diri dan disayangi banyak orang. Ada orang China Ambon yang telah menganggapnya sebagai cucu sendiri, yang selalu mengundang ke rumah. Ada keluarga guru dan orang tua murid di Jawa tengah yang selalu mengantarkan makanan kepadanya dan teman-temanya saat dia melakukan praktek kerja lapangan di sana dan masih banyak lagi tangan-tangan yang menopang.

Percayalah pada Tuhan dengan segenap hatimu.
Satu lagi ‘kebetulan’ yang kadang membuat saya lucu jika mengingatnya adalah keinginannya untuk punya laptop sendiri tanpa harus bolak balik ruang computer dan asrama atau berkali-kali meminjam laptop temannya hanya untuk sekedar mengerjakan tugas kuliah. Sejak tahun kedua di UPH dia telah punya laptop sendiri lantaran nekad naik ke panggung dan berduet dengan Saykoji saat musisi yang terkenal dengan lagu “online”-nya itu hadir dalam sebuah pertunjukkan musik di kampusnya. Dia bisa menghafalkan lagu Saykoji dan jess…laptop dalam pelukannya dan dia bisa online di kamar sendiri tak perlu mengantri teman-temannya selesai mengerjakan tugas.

Sekali waktu, ia sedang tak punya uang dan sedang mengharapkan kiriman uang dari orang tuanya atau kakak laki-lakinya, El, yang juga seorang tukang dan penggali sumur seperti ayah mereka. Dia pergi ke toko Gramedia untuk membaca buku. Setelah beberapa lama ia membaca buku dan ia ingin bergeser, ada uang seratus ribu rupiah di bawah sepatunya.

"Beta bingung, mau kasi pi satpam ma nanti pasti dia simpan. Jadi beta tunggu satu jam di situ, jangan-jangan dia pung orang datang cari. Tapi ternyata sonde ju. Beta akhirnya pulang dan pi foodmart, beta ame sprite ko bayar pake, dan ternyata dapat kembalian," ceritanya kepada saya.
"Beta ju takut kalau itu uang palsu, mati su beta mau bayar pake apa?" katanya sambil tertawa mengenang kala itu.

Anak ini memang pandai bergaul dan saya perhatikan sejak pagi tadi, begitu banyak teman yang menyapa ataupun sekedar bercanda dengannya. Dari berbagai kalangan. Dia memang tak pernah diam, mirip ibunya yang rajin dan polos. Ada temannya yang bilang dia membawa pengaruh yang besar bagi teman-temanya. Ia misalnya membuat banyak temannya di kampus bicara bahasa Kupang mengikutinya. Anak-anak dari Medan, Nias, Papua, Kalimantan, Jawa, atau Jakarta memanggilnya "te'o" yang dalam bahasa Kupang yang diambilalih dari bahasa Rote berarti "bibi". Bahkan ketika namanya dibacakan, gemuruh besar menggema di ruangan wisuda pertanda dia lumayan punya teman. Para mahasiswa bersorak ketika namanya disebutkan.

Pagi tadi dekan Teacher College Connie Rasilim dalam acara pengutusan juga menyinggung bahwa Tuhan tidak pernah terlalu terlambat mengirimkan orang yang tepat dalam hidup kita. Saya cuma mendengar apa yang dia katakan dan seakan semua terjadi sebagai kebetulan. Namun apakah yang kebetulan di kolong langit?

Saya juga sempat berpikir bahwa pergumulan selama studi di UPH mungkin tidaklah terlalu sulit. Alasannya, karena selama acara wisuda, setiap nama wisudawan dibacakan selalu tertera tahun masuk 2008 dan tahun wisuda 2012. Saya bertanya-tanya apakah karena semua mahasiswa di Teacher College adalah penerima beasiswa, tidak ada yang DO atau dikeluarkan? Ternyata saya salah, sebab angkatan 2008 adalah angkatan dengan tingkat DO paling tinggi dibanding angakatan lain. Dari 300 orang yang direkrut dari seluruh Indonesia, hanya 218 yang menyelesaikan kuliah. Dan anak ini terhitung di antara mereka yang setia dalam perkara studi menjadi guru. Ada yang dikeluarkan karena satu dan lain hal, ada yang memilih pindah kuliah karena merasa bukan panggilan menjadi guru. Mungkin itulah yang membuat dekan Teacher College dan mampu menahan rasa harunya saat ia menyebut angkatan ini dalam pidatonya.

Alone, literally, but she know who is beside her.
Sore tadi, setelah melewati seharian ceremony dan perkunjungan ke asrama Teacher College UPH yang mengadakan Open House hari itu, saya dan anak ini duduk di sebuah café di depan kampus UPH. Ya, kami sendiri di hari bahagia itu karena memang dia tak punya siapa-siapa untuk berbagi kebahagiaan. Dua orang kerabatnya yang juga datang berkunjung baru pulang beberapa jam sebelumnya. Dan memang  dia hanya bisa menelpon ayah ibu dan saudara-saudaranya untuk memberitahu bahwa semua acara telah selesai.  Tidak lebih tidak kurang. Saat namanya dibacakan sebagai sarjana di ruang wisuda, bisa saya pastikan ayahnya sedang bekerja pada orang di Penfui, Kupang. Saya tahu itu karena saat dia menelpon ayahnya sore tadi, ayahnya bilang dia masih kerja di Penfui. Tapi dia masih tetap ceria seperti biasanya.

Di café sore tadi, pembicaraan kami mulai lebih serius dan terarah setelah seharian penuh hura-hura dan kebahagiaan. Topik pembicaran kami sampai kepada ibunya dan saya terhenyak oleh sebuah penyataan sederhana dari mulutnya.
“Mama adalah imam bagi beta. Dengan semua ajaran mama beta seperti bisa melihat benang merah dari beta pung hidup sampai dengan saat ini. Kalau mama tak pernah mengajarkan iman kristen sejak kecil , beta sonde pernah bisa membayangkan bagaimana beta pung hidup jadinya,” katanya perlahan.
Saya melihat air mata tertahan di sudut matanya.
“Dengan iman yang teladan yang diberikan mama, hidup beta jalani dengan sukacita dan ringan. Sonde pernah kuatir karena beta merasa selalu ada yang tepat datang dalam hidup. Di setiap persimpan hidup, Tuhan sonde  pernah terlambat mengirimkan orang yang tepat . Dari dulu kotong su hidup susah dan kadang ketika pulang sakolah sonde ada makanan, mama minta kotongi minum air putih dan biasa sa seperti apa adanya,” katanya dengan senyum lebar dan mata berkaca-kaca.
Wisuda UPH bukanlah akhir dari segalanya. Langkah pertama menjadi laskar Kristus di dunia pendidikan baru saja dimulai. Beberapa hari menjelang wisuda, 218 orang calon guru dari UPH  dibagi-bagi untuk masa kontrak pasca beasiswa mereka di sekolah-sekolah Pelita Harapan di seluruh pelosok negeri mulai dari Papua sampai Nias, dari Manado sampai Kupang.

Dia berharap bisa kembali ke Kupang demikian juga orangtuanya. Namun hasil pembagian menyatakan lain: dia ditugaskan di Sekolah Lentera Harapan (SLH) Curug dekat kampusnya. Awalnya dia agak kecewa namun beberapa hari kemudian dia telah bisa menerimanya. Tanggal 9 Juni, dia akan kembali ke Kupang dengan biaya kampus selama dua minggu untuk menjenguk keluarganya, kemudian kembali lagi ke Jakarta lagi untuk memulai tugasnya sebagai guru baru dengan masa kontrak dengan pihak Yayasan UPH  selama tiga tahun  dan gaji tak lebih dari dua juta rupiah. Suatu jumlah yang terhitung rendah untuk ukuran Jakarta dan sekitarnya.

Sesuai kontrak, para guru baru inipun tak diizinkan memberitkan les privat untuk mendapatkan uang tambahan kepada para murid. Padahal biaya sewa kos yang telah ia dapatkan adalah Rp.600 ribu. Dia memilih share dengan teman baiknya yang 'kebetulan' ditempatkan di tempat yang sama. Ah, kebetulan yang indahkah ini? Saya ingin mengutip kembali katanya-katanya sendiri bahwa dalam setiap persimpangan kehidupan, tidak pernah ada orang yang terlambat dikirimkan kepadanya.

“Beta tahu berat tapi beta sonde takut kak. Beta pung jalan hidup su membuktikan semuanya. Dan mama selalu ajar bahkan bagaimanapun terbatasnya kotong, yang pertama yang harus diingat adalah perpuluhan setiap  bulan. Amplopnya su musti tersedia sebelum pembagian untuk yang lain-lain,” katanya.

Di jalan pulang ke rumah saya bertanya-tanya dalam hati: Mungkinkah kebetulan saya berada satu paduan suara dengan tante Lin? Mungkinkah kebetulan beasiswa pertama yang ia terima dialihkan ke anak pejabat di kelasnya? Mungkinkah kebetulan saya bertemu anak ini di Jakarta? Mungkin kebetulan semua kata-kata dalam pidato-pidato pengutusan para guru tadi pagi? Mungkinkah kebetulan anak ini bertemu dengan orang-orang yang telah membantu dia selama dia bersekolah di UPH? Kebetulankah Saykoji manggung di UPH dan kebetulankah ia menghafal lyric lagu Saykoji? Mungkinkah kebetulan anak ini ditempatkan di SLH Curug? Dan sebuah mungkin yang lebih besar lagi adalah: mungkinkah kebetulan anak seorang binatu dan penggali sumur menamatkan pendidikan di UPH? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu harus kita jawab sendiri-sendiri. Saya tak bisa menjawabnya untuk anda.

Satu  hal yang saya yakini: bukan kita yang memilih Allah. Allahlah yang memilih kita sejak dari kandungan ibu kita seperti kata nabi Yesaya.

Kini aku menyebut ingin nama anak itu. DINCE! Ibumu telah setia dalam banyak perkara, dan ia mengajarkanmu untuk setia. Sekarang hidup telah membawamu untuk perkara yang lebih besar: menjadi guru dan pembangun aklak anak-anak didikmu. Seperti thema wisuda hari ini yang diambil dari perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25.21: “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Selamat melayani, Ibu guru Dince! “May we be faithful”

Tangerang, 1 Juni 2012