Showing posts with label My Poems. Show all posts
Showing posts with label My Poems. Show all posts

Monday, April 29, 2013

Kereta api masa kecilku


Ke dalam pasar aku selalu datang
Melihat kereta kesayanganku
Namun ada yang tak kusukai
Keretaku selalu ditindih wadah besar tak layak
Aku ingin memindahkan wadah itu
Namun hijau dan merah warnamu bukan milikku
Jendela-jendela kecil itu milik pedagang-pedagang itu
Entah darimana mereka datang
Ada yang bilang dari Baá, ada yang bilang dari Papela
Ada juga yang bilang dari Oenggae

Oh kereta kecil di pasar Lalao
Kunantikan kamu setiap pasar senin
Aku ke sana menantimu di tengah keramaian pasar
Tempat jeep tua paman Halem diparkir
Aku suka jendela-jendela kecilmu
Namun aku tak suka logam-logam berat berbeda ukuran itu
Terlalu berat mereka bagimu
Aku ingin membuang besi-besi itu
Namun ’bibi-bibi’ itu selalun menaruh logam-logam itu ke atasmu
Manakala orang membeli sesuatu

Oh kereta kecilku yang cantik
Aku ingin selalu melihatmu
Walaupun hanya dari kejauhan
Sehari, dua kali aku kesana
Aku tak takut mobil baru milik Baba Ce 
Walau kata anak-anak kelas enam mobil itu punya magnet
Yang bisa menarik anak-anak kecil seperti aku
Setiap kali mobil itu menderu dari arah barat, aku ikut bersemunyi ke semak-semak
namun aku akan keluar lagi
karena aku ingin melihatmu

Oh kereta merah di pasar Lalao
Jam istirahat aku akan mencarimu
Di pasar ramai belakang sekolah
Tapi mengapa ada wadah besar di atasmu?
Aku dengar kereta api tak punya ban,  itu tak soal bagiku
Tapi aku tak suka wadah besar itu,
Kereta api menjadi buruk bila memikul wadah sebesar itu.
Suatu saat, akan kubuang wadah buruk itu
Atau kuhadiahkan ke pedagang-pedagang Papela
Mereka boleh memakai beribu wadah dan berjuta pemberat
Tapi jangan di atas keretaku…

Leiden, 29 April 2013

Wednesday, February 27, 2013

Andaikan aku bisa bertanya


Burung laut putih berkejar-kejaran
Sesekali hinggap di kolam dingin
Beringsut malas bebek tak peduli
berendam kolam bagai yakuzi
Bergegas tupai di dahan tua
Lamban melintas orang bersepeda

Andaikan aku bisa bertanya
Ingin kudengarkan cerita mereka
Adakah hati bertanggung duka
mencari sebab yang tak berpenghujung
Ingin kutahu tebalnya perkara
Agar kupahami makna keadilan

Andaikan aku bisa bertanya
Ku ingin tahu beban di hati 
Adakah harap semakin jauh
menyusur keadilan yang tak kunjung tiba
Kan kutuliskan kesah kesewenangan
Agar kumengerti sakitnya dikhianati

Andaikan aku bisa bertanya
Ingin kutahu hangatnya airmata
Adakah beban menimbun di raga
Dipisah oleh kewajiban dan keharusan
Kan kusimpan catatan hati
Agar kupahami sulitnya pilihan hidup

Burung-burung laut putih terus berkejaran
Sekali-sekali hinggap di danau beku
Bebek-bebek masih mengepakkan sayap di air
Tupai-tupai tak hilang jenaka
Orang bersepeda terus melintas
Andaikan aku bisa bertanya

Leiden, 27 Februari 2013  

Friday, January 25, 2013

Hari ini Tiga Tahun yang Lalu

Benjamin Messakh
Lahir: Oebatu, Pulau Rote, 6 Juli 1946
Meninggal: Batuplat, Kupang, 26 Januari 2010

HARI ini tiga tahun lalu
Tiada kata perpisahan bagiku
Tiada yang mendengar tangisku di negeri asing
Langit membisu pada doaku
Engkau pergi untuk selamanya
Dan aku tidak ada di sampingmu
Sekedar membisikan aku sayang padamu

Aku memang telah mengambil jalanku sendiri
Namun aku masih bagian dari duniamu
Kepada siapa aku berpaling untuk bertanya
Jika hidup menjadi tak masuk akal
Hari itu takkan pernah kulupakan
Aku tak sepenuhnya aku lagi
Sakitnya masih sama kini

Adalah engkau jika aku berpaling ke cermin
Adalah engkau jika aku melihat tapak hidupku
Adalah engkau ketika aku melihat anak-anakku
Aku memang bukanlah yang terbaik
Bersalah dalam pengabaian
Tapi engkau tahu papa tersayang,
Aku hormat dan kagum padamu

Engkau yang mengajarkan aku segalanya
Engku yang membuat jari ini tak pernah lelah menulis
Engkaulah semangat aku mengambil resiko hidup
Engkau alasan aku bangga akan siapa aku
Engkaulah topangan ku tengadahkan kepala
Engkaulah keberanian aku melanglangbuana
Engkaulah alasan orang menganggukkan kepala kepadaku

Engkau memang tak pernah berhenti
Tak ada yang bisa menghentikanmu
Pun jika kuminta akulah yang mengepal jemariku
Menggantikan kepalanmu yang dimakan usia
Namun engkau tak akan berhenti
Karena engkau pejuang sejati, sejak dalam kandungan ibumu
Engkaulah Benjamin yang sulung 

Engkau mungkin berpikir aku tak melihat
Atau mengira aku tak mendengar
Pelajaran kehidupan yang kau ajarkan kepadaku
Tapi aku mengingat setiap kata, papa
Mungkin engkau berpikir aku tak menyimak 
dan kita berdua berbeda haluan
Tapi aku menyimpan semuanya
Tertulis dalam hatiku

Tanpa engkau aku bukan laki-laki yang sekarang
Engkau membangun dasar yang kuat
tak ada yang bisa mengambilnya dariku
Aku hidup dengan nilai-nilaimu
dan aku bangga jadi anakmu
Jadi inilah aku, anak laki-lakimu
Puku dou-mu yang berterima kasih padamu

Hari itu, engkau pulang 
Hari itu akulah yang tersesat 
Jauh dari rumah, jauh dari kehangatan kasihmu
Jauh bukan karena bentangan laut
Jauh bukan karena luasnya daratan
Jauh karena aku tak menemukan jalan pulang
Jauh karena pulangku tak akan sama lagi
Jauh karena pulangku
adalah pulang seorang anak yatim

Inikah harganya kembara di jalan iman?
Inikah hidup dalam tenda dimana patoknya siap dicabut kapanpun?
Inikah pengembaraan tanpa akhir?
Inikah jalannya mengharapkan janji kudus?
Aku tak tahu dan tak ingin menjawabnya
Karena satu hari nanti akupun akan mengerti
Engkau akan datang menjemput aku
Seperti ayahmu datang menjemput engkau
Karena engkau mencintaiku.

Serpong, 25 Januari 2012; Leiden, 25 Januari 2013

Dulu, enam orang bocah biasa duduk di sekeliling meja makan, bersama papa dan mama. Kini, enam orang laki-laki dewasa menemani mama di pinggir peti jenazah papa. Selamat jalan, sampai ketemu lagi.


Tuesday, December 25, 2012

Teringat seorang ayah dari Nazareth


Lonceng-lonceng gereja bergenta bersahutan
Angin bergemericik di atas sungai
Badai menyeruak di atas langit pekat
Pucuk-pucuk cemara bergemuruh menakutkan
Sepeda perlahan dikayuh

Malam berhias lampu temaram
Aku berdiri di atas jembatan tua ini
Memandang dunia sejauh pandang
Menguatkan hati sebisa raga
Teringat orang-orang terkasih

Lebih  baik engkau daripada saya, Yusuf
Tak ada yang tahu beratnya pilihan yang kau ambil
Tak ada yang bisa menimang beban yang kau pikul
Kau pikul sendiri ke hadapan Dia yang kau pilih
Di malam-malam pengungsianmu

Lonceng gereja terus bergenta bersahutan
Angin masih menakutkan
Para penjaga bar tersenyum menyambut para pelanggan
Gerbang-gerbang gereja masih tertutup
Aku tak layak untukmu, bayi Natal.

Leiden, malam, 24 Desember 2012

Friday, November 25, 2011

Aku mengingat guru-guruku



Sekolah di Rote, tahun tidak diketahui. Sumber: James Fox, Harvest of the Palm, hal. 133
Kecil perawakannya,
Ramah dan selalu tersenyum
Aku masih ingat senyum dan suaranya
Suka mengajak kami menyanyi
Ia pandai bercerita
Sebuah cerita dari sebuah buku bergambar
tentang burung-burung di atas sebuah pohon besar
tak pernah kulupakan sampai sekarang


Selalu ingin kucari buku itu
Tetapi belum jua kutemukan
Ia suka membuat kami berlomba membaca di kelas
Pak Dopen namanya, aku sudah lupa nama depannya
Dia guru pertamaku di kelas satu SD
di sebuah kampung, di pulau paling selatan negara ini
Entah di mana dia sekarang

Ia seorang ibu yang ramah
Aku tahu dia sayang kepadaku
Ia tahu kelebihan dan kelemahanku
Jam pelajaran membaca ia begitu bangga padaku
Jam matematika, ia tersenyum seakan mengerti
Menunggu sampai aku selesai
di saat hampir seisi kelas sudah selesai
Ibu Thene, aku tahu dia sangat baik padaku
dari caranya memperlakukanku

Dia galak
Seisi sekolah takut kepadanya
Aku juga, tetapi aku berusaha mengerjakan semua tugasku
Membaca dan mengikuti pelajarannya dengan seksama
Mungkin karena itu aku selalu mendapat nilai baik darinya
Puluhan tahun kemudian aku tak mungkin bicara bahasa Inggris
Tanpa sekali terlintas di benakku Martinus Suban
Keras, sistematis, namun tahu apa yang dilakukan

Dia ada dalam lintasan hidupku
Ketika aku sangat kacau
Aku merasa diperlakukan tidak adil oleh sekolah
Aku protes, walau dengan cara yang salah
Sering bolos, dan segala macam kenakalan yang dilakukan anak SMA
Tak ada guru yang benar di mataku saat itu
Namun sebuah tempelengan kecil dengan dua jari di pipiku
Tidak keras, namun tak akan pernah kulupakan sampai sekarang
Aku tak marah, aku malu sekali waktu itu
Malu bukan karena dipukul secara keras, tetapi karena disentuh pealn dengan dua jari
Sentuhan dua jari  itu ternyata kekuatannya jauh lebih besar
Dari tamparan keras lima jari penuh amarah
Ia membuka mataku sampai bertahun-tahun
Sampai sekarang aku tetap malu kalau mengingatnya
Frans Sowo nama guru itu

Ia cerdas dan konsisten
Kadang sinikal namun lucu
Ia melucu tanpa tertawa
Analisisnya terhadap persoalan kekinian selalu membuat tertawa
Aku tahu apa yang ia mau dari mahasiswa
Aku tak pernah punya buku yang ia wajibkan bagi kami
Namun sesi tanya jawab tak pernah kusia-siakan
Alhasil dia tak pernah tahu apakah aku punya buku itu atau tidak
Ia membenci mereka yang tahu setengah-setengah
Baginya lebih baik tidak tahu
daripada tahu separuh-separuh
Ia tahu batasan pengetahuannya
Namun ia bukan guru berkacamata kuda
Wawasannya luas, seluas konsistensi berpikirnya
Sekuat ketahanan intelektualnya
Andreas Anaguru Yewangoe namanya
Ujilah ia maka engkau akan tahu ia semurni pikirannya

Ada banyak guru dalam hidupku
Kakekku seorang guru dan ibuku seorang guru
Kritis namun tak pernah mengeluh
Sama memperlakukan anak sendiri dan anak lain
Aku ingat wajah-wajah mereka sekarang
Sampai kapanpun akan kuingat
Mereka adalah orang-orang dalam perjalanan hidupku

Oh, ada seorang guru yang tak mengajar di kelasku
Tapi aku bisa membaca karenanya
Bahkan sebelum aku menyentuh bangku sekolah
Magdalena Lenggu, adik ibuku
Ti’i nona begitu biasa kupanggil
di rumah nenek, dalam keadaan hamil besar, ia mengajarku membaca
Terima kasih ti’i nona, terima kasih semua guruku
Kalian adalah wajah-wajah yang tak mungkin aku lupakan

Serpong, 25 November

Selamat hari guru

 Keterangan foto: Sekolah di Rote, tahun tidak diketahui. Sumber: James Fox, Harvest of the Palm, hal. 133

Tuesday, November 15, 2011

Jalan bersama mama bokik*

Mama di Kupang, saat menghadiri pernikahan Mori
Aku ingat berpuluh tahun lalu
aku jalan bersamamu
Dari Lalao ke Oeulu
Langkahmu pendek seperti langkahku
Namun engkau tak berkata “ayo cepat jalan”
Engkau selalu bersabar

Baru sekarang aku berpikir
Engkau telah cukup tua waktu itu
Namun engkau memberi kaki-kaki kecilku tumpangan
Aku di atas kuda, kau berjalan kaki menarik kudanya

Tuesday, June 14, 2011

Aku merindu

Kerinduanku kepada heningmu
Membuatku terbawa ke padang-padang
dan semak seakan tak berpenghuni itu
Kota-kotamu dan temboknya bagaikan mati
Tapi ada kehidupan di sana
Damai
Nyata, tanpa pergolakan

Wednesday, June 01, 2011

Oh Ana Lote, Oh Sarisandu




Oh Sarisandu, oh ta'e ana Lote,
Sasandu haik sedang memanggil;
Dari padang-padang di Mamaluk dan mamar-mamar di Baa Dale
Dari kebun-kebun di Daeurandale sampai sawah-sawah di Lole
Dari Faifua do Ledosu ke Delamuri do Andaiko
Di tepi-tepi Danau Tua dan di lereng-lereng Lakamola;
Di atas bukit-bukit di Nusa Diu dan di tepi pasir putih di Nemberala
Dari pohon-pohon lebah di Sotimori ke rimba Kokolok


Padi dan ladang telah pergi dan mayang-mayang lontar mulai mengering
Dan engkau engkau harus pergi dan aku harus menunggu
Namun pulanglah ketika padi-padi di ladang berbisik dan menghijau bersama rumput liar dan kawanan ternak
karena aku akan tetap di sini,
di bawah terik matahari dan di bawah rindang beringin dan lontar
Oh Sarisandu, oh ana Lote, betapa aku mencintaimu

Dan jika engkau datang ketika mayang lontar mulai mengering
Dan aku telah mati, sebagaimana layaknya aku
Datanglah ke pusara di mana aku tertidur
Duduklah dan nyanyikanlah sosodak bagiku
Karena aku akan mendengarnya
Walau lembut pijakanmu di atas tanah
Dirikanlah sebuah tutus sederhana bagiku
di mana anak-anak gembala akan duduk mendendangkan sarinade tentang tanah air:
"Lete kara tada, fo dae ramado
Nunu kara londa fo piak ramdema"

Maka semua mimpiku akan menjadi hangat dan manis
Sehangat susu mama yang melahirkan aku
semanis tua matak yang disadap ayahku
Jika engkau tak gagal mengatakan padaku bahwa kau mencintaiku
Aku akan tidur dengan damai sampai engkau datang kepadaku
Dan aku pasti tidur dengan tenang sampai engkau pulang kepadaku
Oh Ana Lote, oh Sarisandu, betapa aku mencintaimu

Ketika anak-anak gembala menggiring kawanan dombanya melintas
Aku tak mendengarnya
Ketika rombongan foti hus menggemuruh di pusaraku
Aku takkan mendengarnya
Ketika sapi-sapi benggala milik bangsawan kaya itu menjejal
Aku pun tak mendengar
Namun bila ujung selimutmu menyentuh rumput-rumput di atas pusaraku
Aku akan mendengarnya
Oh Sarisandu, oh Ana Lote, betapa aku mencintaimu

BSD Tangerang, 29 April 2011



Penjelasan istilah:

-Ana Lote/ta'e ana Lote: Anak Rote
-Sarisandu: Nama laki-laki Rote dalam mithologi Rote tetanng Sasandu
-Sasandu: alat musik tradisional Rote
-Sasandu haik: Sasandu yang wadahnya terbuat dari daun lontar.
-Faifua do Ledosou: nama lain kerajaan Ringgou, kerajaan di wilayah paling timur pulau Rote
-Delamuri do Andaiko: nama lain Kerajaan Dela, kerajaan di wilayah paling barat pulau Rote.
- Sosodak: nyanyian traditional Rote yang biasa dinyanyikan mengiringi sasandu atau mengiringi gong dan tambur.
-Tutus: tugu peringatan untuk mengenang seseorang yang meninggal
-tua mata: nira lontar yang baru disadap, untuk membedakannya dari tua nasu yaitu nira yang telah dimasak.
-Foti hus: salah satu ritus traditional yang hampir punah, bagian utama ritus ini adalah lomba pacuan kuda
-"Lete kala tada fo dae lama do, nunu kala londa fo piak lamdema" adalah penggalan syair dari lagu Au sangaa fali neu Nusa Lote [Aku ingin pulang ke nusa Rote]. Terjemahannya adalah: Bukit-bukit terpele, dan tanah menjauh; [negeri dimana] pohon-pohon beringin bergelantungan dan tebing-tebing meninggi"
Credit foto: Reynold Sumayku/National Geographic Indonesia

Sunday, April 17, 2011

Hujan siang ini

Hujan siang ini
Engkau dan ibumu pergi
ke timur keduanya, ke mana seharusnya akupun pulang
Jauh di atas awan kau dan ibumu terbang
di mana matahari selalu bersinar
dan mendung adalah keindahan

Hujan siang ini
Di sini, di terminal tua ini
aku duduk bersama segala kekisruhan Bandar udara ibukota
Seminggu begitu cepat rasanya
dan aku tak bisa menahan waktu
atau merombak jadwal kehidupan

Hujan siang ini
Aku jauh dari rumah
dan aku tak bisa ke mana-mana
Engkau dan ibumu akan tiba dalam waktu empat jam
Empat jam yang hanya bisa kudapat setahun sekali
Aku bisa saja menelponmu dan ibumu setiap saat
tapi itu tak sama dengan bagaimana engkau menarik tanganku tanpa kata-kata
memintaku bermain bersamamu

Hujan siang ini
Terminal tua ini selalu bersamaku
Tapi aku tak mungkin melompat ke atas jet plane
selaiknya sehari-hari aku melompat ke atas kereta tua
aku di jalanku sendiri siang ini
dan aku sangat merindukan orang-orang terkasih

hujan siang ini
Ibumu bilang selepas chek-in
kau terus mengulang kalimat “cali papa, cali papa”
Papa tak akan pulang malam ini sayang,
tidurlah di pelukan ibumu dan jangan nantikan papa

Hujan siang ini
Bob Schneider mengalunkan irama darah muda tentang Tokyo
tapi ku ingat Kupang,
Kupang "is not far enough away, to where I wanna be, today"
Bob Marley mengingat Babylon dalam irama religious Rastafarian
tapi hatiku di Kupang
“One bright morning when my work is over, I will fly away home”

Serpong, March 20, 2011

Saijah dan Adinda

Aku tak tahu di mana aku akan mati
Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang
Ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam ;

Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam,
Ikan hiu berebutan datang ;
Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya : “siapa antara kita
akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air ?”-
Aku tak akan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku akan mati
Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena
ia mata gelap ;

Sunday, June 15, 2008

Negara apa ini?

Jika kebodohan dipertontonkan tanpa malu
kejahatan dijadikan panutan
keadilan dipertawarkan
penindasan dilegalkan atas nama hukum
Kekerasan dibanggakan sebagai keharusan
kejahatan diabaikan...
agama diperalat
kemiskinan diperkuda
kebersahajaan dipandang rendah

Inilah negara ku
negara yang rakyatnya menunggu saat kehancurannya...
selamat tinggal Indonesia

Palmerah, 15 Juni 2008

Wednesday, May 04, 2005

Kemarin Mon Menikah

Kemarin Mon menikah
You are a big man now my younger brother

Seperti baru kemarin
aku melihat wajah bocahmu yang hitam, gempal dan nakal
kukumu tak pernah bersih
jangan tanyakan lagi jumlah kancing bajumu
atau beresnya resleting celanamu

seperti baru kemarin
aku melihat kau menangis marah
sambil berlari di belakang seorang tua
mencari anak-anak Katá Leten
yang katanya mengasari kakakmu
kau ingin ikut membela
padahal belum seberapa jengkal langkah kakimu

seperti baru kemarin
aku terpana akan kepiawaianmu
menggunakan katapel
di musim panen padi, engkau panen burung
kau selalu membawa pulang hasil buruanmu
kau membawa untuk mama
minta dibakarkan

seperti baru kemarin
aku melihatmu asyik bermain sendiri
di kebun belakang rumah
tiada teman, hanya seekor anjing kesayangan
jika kau sendiri, pasti ada “proyek serius” yang kau kerjakan

seperti baru kemarin
aku melihat kau sedih
berputar-putar di tepi rumah
karena tak mau berpisah dengan papa dan mama
bahkan anjing kesayanganmu pun ikut sedih
kau harus meneruskan sekolah

seperti baru kemarin
aku melukai keningmu tanpa sengaja
saat aku meraut pencil dengan pisau tumpul
kau hanya menangis sebentar
lalu kita bermain lagi
membiarkan papa dan mama bertengkar
membela anak kesayangan masing-masing

seperti baru kemarin
aku melihatmu duduk disamping seorang kakek tua
yang sedang memotong-motong kelapa
memberi makan babi-babi
di kala matahari mulai mengucapkan selamat tinggal
dan anak-anak gembala bernyanyi-nyanyi di padang seberang rumah

seperti baru kemarin
aku mendegarmu bercakap-cakap dengan seorang nenek tua
yang makan sirih di teras sebuah rumah
jauh di tengah padang

seperti baru kemarin
aku melihat menyalakan lampu ti’oek
dalam sebuah rumah berpenghuni tiga orang
di tengah sebuah padang

seperti baru kemarin
aku melihatmu menambatkan dua ekor kuda di tengah padang
memindahkan mereka ke tempat yang agak rindang
atau membawa mereka ke telaga

seperti baru kemarin
aku diam-diam kagum akan keuletanmu
merawat sepedamu
mengakui ketekunanmu memelihara ternak
mengomeli ketelodoranmu terhadap pakaian
salut akan kemampuanmu mengatur uang sakumu

seperti baru kemarin
aku melihat kau selalu punya suatu privilege
yang mungkin tak kau sadari:
mengunjungi saudara-saudaramu
beberapa bulan sekali dalam setahun
di sebrang lautan bernama “kota”
imbalannya: kau tak naik kelas

seperti baru kemarin
aku marah padamu karena emosimu yang tak terarah
aku marah padamu tentang cara berpikirmu terhadap papa
aku marah terhadap cara bergaulmu
dan banyak lagi kemarahanku

saudaraku..
seperti baru kemarin
aku melihat wajahmu di antara wajah anak-anak kampung
di antara wajah anak-anak yang berjalan bersama nenek mereka
di antara wajah anak-anak yang canggung akan gamangnya budaya kota
di antara wajah anak-anak yang beruntung mendapatkan kasih sayang nenek dan kakek tercinta
di antara wajah anak-anak kampung yang mandiri, tanpa mainan pabrik

di sana juga aku melihat wajahku, saudara sekandungku
bagaimana aku bisa melupakan wajahku sendiri
Oeulu, Batilangak, Lalao, Babau, Batuplat,
Di sana kulihat wajahmu adikku
Di sini kupendam darahmu saudaraku
Selamat berbahagia Mon

Bidau Masau, Dili, 3 Mei 2005

Monday, March 28, 2005

For the First Time I cry in Dili

For the first time I cry in Dili
Those reports
Those reports make me cry
Report about the cruelty of my own people
About the cruelty of my proud army

Then I turn to a pale Times magazine
Still I found the same thing
Iraqis children cry after GIs killed their parents, who didn’t heed warning shots
No one cry like a children cry for losing their parents
A young girl cries with blood in her face
She might just had hold his dead parent
While a young boy lean on to the wall with scare face
too frighten to cry
Every time I see children, I saw the face of my nephews

I turn to another magazine, Tempo
There is Munir’s daughter
Stare at the picture of her father

Then slowly Bono came with Peace on Earth..
Heaven on earth
We need it now
We sick of all of this
Hanging around
Sick of sorrow
Sick of hearing again and again
That’s there gonna be peace on earth

Every time you open the newspaper
Every time you turn the page of the magazine
Every time you turn on the TV or radio

Remember the face of your children
Hear the voice of your neighbours
Listen to the story of your sister and brother

Ragged and Dirty*

Homeland at last
Hot, humid, ragged, unorganised and dirty

No queuing, not a new harsh
Who would dare to do spend their time and respect?
Get used to queuing?
Don’t worry, you won’t get one here
No satisfaction guarantee

Offering the service with bitter demanding, no worth as a new story
Who would embarrass to do it?
Who will consider the public service as government responsibility if they don’t even know the amount of their bill?
Who will to dare consider humankind in the service if the people themselves don’t even realise their right?

Smoke right in front of “no smoking” sign
Illiterate not the reason
Whatever it is, you named it

You don’t have to wait until the aircraft landed in Soekarno-Hatta
Where you can find that you ashamed of your own people and habit
Where you embarrassed by the condition you was once belong to
Where you humiliated by what you proud of before
They even bring them to Dubai, Abu Dhabi

But who am I to judge?
This is my homeland
The land of my home

Disgusting smell around the neighbourhood,
It’s a yogurt in the breakfast, candle in the evening lunch.
Enjoy it and never breathe a word

The noise of street vendors,
It’s a morning glory
It’s an evening serenade
I don’t give a damn said the sleepless homeless and bajaj driver

Car and motorcycle’ blow their horn, regular tune in the early morning
Noisy street singers with heavy equipments, who dare to stop them?
Even a corrupt police officer bothers to warn them

But who am I to judge?
This is my homeland
The land of my home

Regular strike of students, instant group and made-up society,
Political ingredient for the elite
A requirement for good citizen
Regular news for journalists
Not to mention the demonstrator are paid

Barbed wire surrounds government offices, embassy and important landscape
Security check along the entrance
Arendt will not be patience to explain how fool we are

Pavements are occupied and not even an inch for pedestrians
And the occupier – the street vendors, have to pay tax to street hothead
You even have to pay to conduct public disorder

But who am I to judge
This is my homeland
The land of my home

Media exploitation of the poor, not even realise by the producer
Media defamation and contempt, not even known by the lawyer
And who do you think you are to even speak about it?
And why it is a problem for people who only need a newspaper for a wrapping paper

Craps joke of on the telly, define the audience out there
Who dares not to see them?
Cheap Gossip of celebrities, breakfast for the poorer. Who care?!

TV advert selling dreams, another way to heaven
TV advert’ bias gender, they don’t even realise who suppose to do the laundry
Live political talk on the telly,
Boosted speech for MPs, self defence for ministers, masturbations for the expert, speech training for arrogant student’ representatives

But who am I to judge
This is my homeland
The land of my home

When it comes to money
You’ll feel rich most of the time
Not because money was heaven sent
but because you convert pound to rupiah
Same as few years ago when you feel poor because you convert rupiah to pound when you want to buy a chewing gum
Yet it is hard when you think about how hard it is to afford five penny’ equivalent in Jakarta

Keep up with your daily plan?
Oh well, who told you that the bus will on time?
Who said that the taxi will pick you up through the right direction when you ask?
Not to mention the traffic jam
And who said that you will easily find internet cafe?
Who said that your colleagues will strict to the appointment?

But who am I to judge
This is my homeland
The land of my home

This is the spirit of my country
From airport to presidential palace
From to the mall to the slum
It comes up in mind that the best way to adjust yourself if you back home
Is to directly go to the jungle
You might find a ragged, unorganised and dirty condition in the jungle as well
but it is natural and beauty
Something that you cannot find in the city like Jakarta

I love Jakarta, I hate Jakarta
I don’t know how to love Jakarta
I am confusing

Hey!! Who do you think you are?!!
You are not different at all, you like everybody else
What you feel about is not different from every body else
It’s all in your mind
The land you leave some few years ago is not change
The change it is in you
It’s all in your mind

So why do you think you deserve more than everybody else?
Why do you think you know more than tukang ojek, sopir bajaj, street vendor, prostitute, beggar, pemulung, if you never had a life like them?
Why do you think you know more than them if you never been ‘tax’ by the street hothead, corrupt police or preman?
Why do you think you know more than them if you never sleep in the street waiting for the morning to come?
Why do you think you know more than them if you never been push to the wall by your boss just because you afford not enough money for them on daily bases?
Why do you think you know more than them if you never had customers who just want to spend more in the mall, café and hotels and don’t even care about raise of the gasoline price? The price which had domino effect to the raise of goods price just a second after the announcement
Why do you think you know more than them if you never been ignore by people who has wealth piled up all over their backyard while ignoring the poor the their front door?
Why do you think you know more than them if you never technically drink from the river?
The river where you defecate and urinate,
The river you throw away your sewage and rubbish

What do you expect from a nation, when even the blind have to lie for begging?
What do you expect from a nation, if you cannot distinguish begging and intimidating?
What do you expect from a nation, when religion used as reason for begging? and you never know where the money gone through


I know what I’m feeling and thinking
But I don’t know why it’s going on and on in mind that “there must be something wrong in here”
Don’t give me sophisticated craps like “culture shock”
It’s only explain the reality not the cause

Wise man said if you cannot change the world, change yourself
But how do we know that we cannot change the world?
And who define the change?

Oh, I love Jakarta, I hate Jakarta
I don’t know how to love Jakarta
I am confusing

Yes, if the change is absurd, why not I am alter my self, my feeling, my thought
Then I be myself again: definitely purely Indonesian
But I can’t do that for the sake of adjustment
It will come the way it is
And I just waiting to be adjust
I don’t know when it will be

But if I had to picture my homeland
There are only three words I could use:
Noisy, ragged and dirty
Anyway, Indomie seleraku, still….

*Sorry Bono for using the title

2 March 2005
Abu Dabi, Dubai, Rusun Harum, Tebet Barat Jakarta Selatan