Wednesday, February 12, 2014

Mengapa Orang Menjadi Fundamentalis?

Kata 'fundamentalisme' aslinya digunakan untuk sebuah trend khusus dalam Protestantisme Amerika yang di dalam berhadapan dengan segala adaptasi-adaptasi modern dan liberal dari gereja, mencoba kembali ke dasar-dasar (fundamentals) alkitabiah dari iman Kristen:yaitu kepada dasar-dasar iman yang diinterpretasikan dalam cara yang sangat lepas atau sewenang-wenang. Dalam perkembangan selanjutnya, sympton fundamentalis ini dan perkembangan -perkembangan yang mirip-mirip seperti gerakan di dalam Protestantisme ini kemudian dapat ditemukan juga di dalam gereja Katholik dan Ortodox Timur. Kemudian kata ini juga telah ditransfer ke dalam kecendrungan-kecendrungan reaksioner dalam Islam dan Yudaisme.

Menurut theolog Protestant dan Katholik asal Jerman, Jurgen Moltman dan Hans Kung, meluasnya fundamentalisme dalam berbagai agama ini menjadi alasan yang cukup untuk melihat dimensi ekumenikal dari masalah ini secara lebih serius dan mendalam. (Moltman dan Kung,Fundamentalism as an Ecumenical Challenge,SCM London, 1992, hl.vii, 106-115).

Fundamentalisme bisa dipandang dari berbagai segi: theologis, psikologi sosial, psikiatrik, sosial. Fundamentalisme dalam setiap agama juga punya karakterisitik tersendiri sesuai dengan perkembangan sejarah dan unsur-unsur yang mempertautkannya. Fundamentalisme Kristen protestan tidak bisa dibahas sama dengan fundamentalisme katholik,Islam atau Yahudi.
Yang menarik adalah bahwa dari segi psikologi sosial fundamentalisme dilihat sebagai konsekwensi dari alienasi atau keterasingan [C.Jaggi and D KriegerFundamentalism: A Phenomenon of the Present, Zurich, 1991]. Buku ini membicarakan antara yang dimaksudkan dengan alienasi adalah 'isolasi personal', 'marjinalisasi sosial', 'kehilangan akar etis dan kultural' atau bahkan secara lebih umum kehilangan keberlanjutan historis.

Pengalaman-pengalaman ini kemudian bertemu atau bertabrakan dengan hasrat akan kepastian, dengan hasrat akan kebenaran 'yang sejati', dengan hasrat akan gambaran yang lebih stabil tentang dunia. Dengan hasrat-hasrat ini orang merindukan figur-figur pemimpin yang mengetahui jalan yang benar dan dengan demikian mempunyai hak penuh untuk memerintahkan penolakan total.

Jadi fundamentalisme dimengerti sebagai usaha untuk mengatasi sebuah kegelisahan existensial yang mendalam dan sebuah "kekuatiran akan konflik". Di sini kategori psikologis sperti "regresi" atau konseptualitas 'Ego/Superego' nya kaum Freudian berlaku.

Jika kita ingin melihat fundamentalisme secara lebih kritis, kita tidak bisa menghindar untuk menekankan pentingnya dasar-dasar untuk kehidupan manusia. Kita membutuhkan dasar-dasar untuk bisa hidup secara lebih kreatif. Tanpa keamanan dan perlindungan dari orang tua dan rumah, perkembangan yang sehat dari emosi-emosi dan kapasitas kita menjadi terhambat. Kekuatan fisik, intelektual dan emosional kita didasarkan pada dasar-dasar cinta, perhatian dan kepercayaan (trust).

Hal ini juga berlaku dalam sebuah pengertian yang lebih trans-personal. Komunitas-komunitas, klan-klan dan masyarakat membutuhkan sejarah mereka - dalam hal ini tradisi-tradisi, ritus, pemujaan-pemujaan,- agar dapat exist secara lebih creative dan lebih kondisi yang lebih berimbang dan untuk melihat ke masa depan.
Ada satu dimensi yang lebih jauh yaitu kemampuan atau kepercayaan diri manusia untuk berhadapan dengan ketidakekalan dunia. Ada sebuah peribahasa China berbunyi: "negara dan pemerintahan datang dan pergi tetapi gunung-gunung tetap". Ini adalah sebuah expresi keyakinan akan stabilitas bumi dan waktu. Ekspresi ini juga terdapat dalam Kitab Kejadian 8: 22 : "Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam".

Keyakinan mendasar ini adalah cara paling alami darai manusia untuk berhadapan dengan masalah yang paling menggelisahkan dari keberadaan manusia, yaitu kematian.
Hidup yang kreatif dalam segala bentuknya dikembangkan di atas dasar keyakinan akan bumi dan waktu ini. Kreatifitas adalah identitas dalam transisi, sebuah pemberian masa lalu dan transfomasinya ke dalam sesuatu yang baru. Masyarakat-masyarakat, kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama dan singkatnya semua sistem yang hidup, menunjukkan kehidupan mereka dengan cara memampukan diri untuk penerimaan dan transformasi ini.
Tapi apa jadinya jika kepercayaan fundamental terhadap bumi dan waktu menjadi hilang? Apa jadinya jika sebuah proses traumatik mengaburkan penerimaan kreatif akan masa lalu dan menghalangi transformasi atas apa yang telah diwarisi ke dalam sebuah masa depan yang terbuka?

Bilamana kehancuran dalam penerimaan dan transformasi terjadi, di mana seakan 'dunia telah berakhir' tanpa ada tatanan baru yang muncul -maka reaksi-reaksi fundamentalisme akan bermunculan. Dengan demikian kita memahami fundamentalisme sebagai sebuah reaksi pathologis terhadap pengalaman berakhirnya dunia.
Butuh contoh?

Fundamentalisme Islam di Indonesia adalah contoh yang bagus untuk dibahas dalam kerangka psikologi sosial di atas.
Kita ambil saja contoh FPI atau kelompok-kelompok fundamentalisme Islam yang seakan telah menjadi polisi moral dan mau memaksakan segala aturan menurut ukuran mereka di negara ini. Coba teliti ke dalam organisais mereka, anda akan mendapatkan hard core mereka sebagai orang-orang yang gelisah akan masa depan tetapi sekaligus tidak bisa melihat keberlajutan masa lalu mereka ke masa sekarang. Di alam bawah sadar mereka, mereka merasa Islam sudah gagal, nilai-nilai Islam sedang diserbu oleh nilai modern dan Barat yang mereka anggap kafir sementara mereka tidak bisa menawarkan nilai-nilai Islam untuk diterima secara sukarela oleh semua orang bahkan oleh orang Islam sendiri.Ini konflik yang luar biasa, dan reaksi mereka adalah adalah berusaha menghilangkan konflik itu.

Itulah jawabannya mengapa mereka begitu aggresive dalam tindakan mereka, dan memaksakan nilai-nilai mereka sendiri. Itu jugalah mengapa mereka membentengi diri mereka dengan cara-cara yang artifisial seperti pakaian dan aturan-aturan.

Kalau dilihat komposisi FPI di Jakarta misalnya, kebanyakan adalah kelas bawah dan sedikit kelas menengah. Ada juga sejumlah kalangan atas tapi biasanya special case. Apa artinya ini? artinya memang kelompok inilah yang paling dipinggirkan dalam semua proses modernisasi dan pembangunan yang timpang. Itu jugalah yang menjawab pertanyaan mengapa kelompok fundamentalis ini umumnya muncul dan berkembang pesat di daerah perkotaan. Karena memang isolasi personal, marjinalisasi sosial, kehilangan akar-akar etis dan kultural itu lebih dirasakan dan nampak diperkotaan atau bahkan lebih sering terjadi di perkotaan. Itu juga menjawab pertanyaan mengapa figur prominen dalam FPI adalah Arab [kehilangan ke-Arab-an nya setelah sekian lama di Indonesia], Betawi [mearasa pemilik Jakarta tetapi termajinalisasi dari pembangunan dan modernisasi Jakarta; jadi ingat "Si Doel Anak sekolahan"], preman, tukang parkir, pengangguran dsb.  

Tentu ada variabel-variabel lain yang kait mengait dalam menciptakan atau membuat orang menjadi begitu fundamentalis seperti pendidikan, indoktrinasi agama, kekecewaan akan tatanan sosial yang tidak adil dsb. Itu sebabnya tidak semua preman, tukang parkir, penggangguran, Betawi, Arab di Jakarta adalah fundamentalis. Tetapi pada dasarnya fundamentalisme muncul dari perasaan keterasingan dan alienasi, terputusnya akar-akar historis dan ketidakpastian masa depan. Ini lahan yang paling subur untuk para opportunis untuk menyuburkan fundamentalisme.

Orang-orang ini -para fundamentalis - sebenarnya adalah orang-orang yang rindu akan kepastian karean hidup mereka sendiri dipenuhi dengan ketidakpastian. Ada satu dua (mungkin die hard-nya) adalah orang-orang yang punya hasrat untuk 'kebenaran sejati'. Dan biasanya orang-orang ini akan berbalik 360 derajat kalau mereka menemukan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran yang bertentangan dengan apa yang mereka pegang sekarang. Orang-orang seperti ini biasanya akan membelakangi atau bahkan melawan orang-orang dan organisasi mereka sendiri. Dalam sejarah salah satu contoh orang seperti ini adalah Rasul Paulus. Dia bukan orang jahat pada dasarnya, dia hanya rang yang ingin menegakkan apa yang dia anggap benar tanpa pengetahuan akann sisi lain dari kebenaran. Dan karena iru begitu ia melihat sisi lain, ia berpaling. Contoh lain dalam sejarah gereja di Indonesia adalah KAM Jusuf Roni yang mirip Paulus juga sngat membencio Kristen tapi kemudian berbalik menjadi Kristen.

Karena perasaan ketidakpastian yang mendalam, orang-orang ini juga sangat mengaungkan figur pemimpin yang kuat dan mereka anggap punya klaim kebenaran. Itu sebabnya mereka tak akan melihat sisi buruk dari apa yang dilakukan pemimpin mereka. Mereka akan menjustifikasi apapun yang dilakukannya dalam kerangka pengetahuan kebenaran yang mereka miliki. Mereka akan sangat gampang memaki, menuduh dan menyalahkan orang lain yang menghalangi jalan mereka untuk memaksakan nilai-nilai mereka.

Sebagai bagian dari masayarakat yang teralienasi, prasangka sosial mereka juga sangat tinggi. Tetapi biasanya unsur agamanya lebih menonjol. Itulah sebabnya mengapa FPI dan kelompok-kelompok fundamentalis selalu menciptakan musuh bersama; kalau bukan Amerika, pasti Barat,atau Kristen atau  China .

Saturday, June 01, 2013

Cerita tentang manuscript “Potong Kepala” diselamatkan di Bi Naus, Timor

Naskah yang terselamatkan, dan beberapa catatan P Middelkoop.
Tidak banyak orang menulis tentang bagaimana pratek berburu kepala (headhunting) dulu dilakukan oleh orang Timor. Pieter Middelkoop adalah salah satu dari sedikit orang yang telah melakukan pencatatan-pencatatan tentang bagaimana latar belakang dan bagaimana praktek ini dilakukan. Cerita tentang bagaimana praktek ini dilakukan akan saya bahas dalam sebuah paper yang akan keluar beberapa saat lagi, namun dalam artikel ini saya hanya ingin menceritakan sebuah kisah unik bagaimana bahan-bahan yang sangat langka mengenai praktek ini bisa diselamatkan oleh orang-orang Timor pada zaman pendudukan Jepang.

Misionaris Pieter Middelkoop yang sangat di kenal masyarakat Timor Tengah Selatan melakukan melakukan wawancara terhadap orang-orang yang masih hidup yang pernah melakukan praktek ini sebelum Perang Dunia Kedua. Sayangnya, Jepang mendarat. Middelkoop ditangkap bersama keluarganya dan dimasukkan ke Kamp Penahanan Jepang di Pare-Pare, Sulawesi pada bulan September 1943. Pada bulan Oktober 1944 mereka dipindahkan ke Botjo dan pada bulan Mei 1945 ke Bolong dekat Makale.

Untunglah sebelum ditangkap di Timor, Middelkoop telah mengumpulkan semua naskah pentingnya bersama dengan naskah-naskah tentang “berburu kepala” ini kemudian ia masukan ke dalam kaleng minyak. Ia percayakan naskah-naskah kepada teman-temannya, orang Kristen di desa Bi Naus pada 1 Maret 1942. Ia melakukan hal ini karena rumor beredar bahwa para tentara Jepang akan datang mencari barang-barang berharga yang ditinggalkan oleh para ‘Oranda’, sebutan terhadap orang Belanda oleh orang Jepang.

Kabar tentang bahan-bahan penting ini akhirnya sampai juga ke telinga para serdadu Jepang lewat para kolaborator. Karena ketakutan, para penduduk  Bi Naus membuang sebagian isi dari bahan-bahan ini pada bulan Juni 1945. Ternyata benar, pada bulan Juli para serdadu Jepang datang mencari. Untung mereka tak menemukan apa-apa.

Pada bulan Agustus 1945 Middelkoop dilepaskan dan dibawa ke Makasar. Sebenarnya Middelkoop punya kesempatan untuk memulihkan kesehatan dan kekuataannya di Australia, tapi ia memilih pulang ke Timor. “We were too eager to go back to Timor to find out whether the contents of the oil cans had been kept safe,” kata Middelkoop. 

Akhirnya Middelkoop dan istrinya mendapatkan penerbangan pertama dari Makasar ke Balikpapan dan dari sana mereka ke Timor. Mereka tiba di So'e pada tanggal 4 November 1945 dan keesokkan harinya sahabat-sahabatnya dari Bi Naus itupun datang menemuinya. Mereka mengatakan bahwa arena ketakutan kepada pihak Jepang, mereka telah membuang isi kaleng itu di suatu tempat. Middelkoop memohon kepada mereka untuk mencari kembali bahan-bahan sebisa yang mereka temukan. Mereka melakukannya dan menemukan kembali beberapa bahan yang yang telah bercampur dengan tanah. Beberapa minggu kemudian hujan turun untuk pertama kalinya di tahun itu, dan menurut Middelkoop ia dan istrinya telah datang pada saat yang tepat untuk menyelematkan bahan-bahan itu. Jika seandainya mereka ke Australia untuk memulihkan kesehatan mereka terlebih dahulu, mungkin bahan-bahan yang telah dibuang itu tidak terselamatkan.

Bahan-bahan ini kemudian diterbitkan oleh Universitas Sydney pada tahun 1963 dalam tiga jilid monograf dengan judul ‘Head Hunting in Timor and its Historical Implications’. Dalam monograf yang telah menjadi klasik dalam penelitian tentang Timor ini hanya ada tambahan satu bahan (Text E) yang dicatat oleh Middelkoop setelah Perang Dunia Kedua. Bahan-bahan yang lengkap dan bahasa Timor dan terjemahan Inggrisnya ini kemudian secara luas digunakan oleh para ahli yang pernah menulis tentang Timor seperti Henk Schulte Nordholt atau Andrew McWilliam dll.

Dalam pengantar untuk terbitan itu Middelkoop menulis demikian: “Tak akan pernah saya lupakan bagaimana, pada saat terkahir saya menuliskan dan membaca kembali naskah pada Text B yang berasal dari Bi Naus, pada sebuah Minggu sore kami semua terdiam dalam kesunyian. Walaupun echo dari kepuasan kemenangan terdengar dalam penuturan kembali pekik-perang dan kesuksesan perburuan kepala yang mengikutinya, seorang tetua, Noch Na’u berbicara dalam emosi yang sangat jujur. Ia bilang: ‘Pak, di masa lalu kami bangga akan kebenaran pekik perang kami dan kepala yang kami dapatkan, tapi sekarang kami tahu bahwa itu dosa.’ Semua yang hadir terdiam.”
Lebih dari enam puluh tahun kemudian, saya membaca terbitan yang bahan-bahan terbuang yang diselamatkan itu untuk kepentingan study saya. Terima kasih bapa, mama di Bi Naus yang telah jujur menceritakan masa lalunya. Terima kasih untuk opa Pieter Middelkoop, anthropolog generasi pertama Timor yang meninggalkan bahan-bahan yang cukup bersejarah. Tanpa kalian, kami mungkin tak akan tahu masa lalu para leluhur kami.

Antroplog terkenal Malinowski berkata: “We cannot possibly reach the final Socratic wisdom of knowing ourselves if we never leave the narrow confinement of the customs, beliefs and prejudices into which every man is born.”

Smaragdlaan 136

Leiden, 1 Juni 2013. 

Thursday, May 02, 2013

Surat dari susi Ana kepada ta'e koa yang sakola di Kupang


Kupang, 15 Januari 2013

Minggus, beta tulis ini surat karena beta sonde pernah bisa katumu lu lai. Biar lu mara dengan beta ju, beta musti omong karena beta rasa lu su lupa diri.

Bagini Minggus,
Beta tahu lu sekarang su sonde suka masuk sakolah lai. Lu lebe suka naik oto dudu di muka kaliling kota Kupang. Lu pung guru su barapa kali katumu beta ko dia kastau. Oo, beta ju dengar lu pung nama sekarang su sonde minggus lai te su Dominggo. Lu pung facebook hanya ponu dengan nona-nona manis sa. 

Anak e, bapa dengan mama kerja susah payah di Rote sana untuk kasi sekolah sang lu di Kupang, ko lu pung kerja hanya bagaya naik oto pasiar makan puji dengan nona-nona dong sa. Lu pikir lu su batul tu? Dari dulu belom pernah liat orang tukang pasiar oto jadi orang bae. Lu tanda beta pung mulut sa.

Lu pung papa naik turun pohon tuak puluhan bahkan ratusan kali sehari, bangun pagi-pagi jam 3 iris tuak sampe jam 9. Istirahat sedikit iris lagi dari jam 3 sore sampe jam 9 malam, hanya untuk bisa jual gual aer ko kasi lu sekolah. Lu pung mama bongko-bongko pikul kayu api, pikul gula, masak gula sampe sonde kenal dia pung muka lai. Itu samua hanya untuk lu bisa sekolah supaya lu pung nasib sonde sama ke dong. Tapi lu sia-siakan itu semua. Lu sonde anggap orang tua pung susah payah dan keringat.

Tiap hari lu pung bapa pertaruhkan nyawa untuk lu, lu pung mama sonde pikir dia pung diri demi lu. Apa yang lu buat untuk dong? Musim ujan, bapatua dengan mamtua pi kerja sawah di orang pung tanah. Baptua luruk sawah dengan orang pung karbo, mamtua tanam orang pung swah ko biar panen dapat bagi sadikit sa ju bae. Lu pikir semua kiriman yang lu dapat itu turun dari langit?Hanya suru lu pi sekolah sa lu lebih banyak bolos ikut ana-ana kota dan anak-anak orang kaya dong.

Lu pung saudara perempuan pikul gula aer kasi lu dan sonde sekolah karena orang tua sonde sanggup bayar. Hanya lu yang dikasi kesempatan, itu pun lu sonde hargai sedikit juga. Lu manyasal satu saat te su terlambat. Kalau lu sekolah bae-bae, lu pung upah su tersedia, tapi lu sia-siakan orang tau pung air mata dan keringat nanti lu pung air mata dan keringat akan ganti itu semua. 


Bagitu dulu Minggus, kalau lu pikir karmana-karmana na pulang rumah sa. Jangan lu bagaya tinggal di orang pung rumah te biar kotong pung rumah ini sonde mewah ma ini kotong pung rumah sandiri. Papa pernah bilang "lebe bae kotong puas dengan apa yang ktong punya sendiri darimana bagaya tapi dengan orang pung barang." 

dari Susi

Monday, April 29, 2013

Kereta api masa kecilku


Ke dalam pasar aku selalu datang
Melihat kereta kesayanganku
Namun ada yang tak kusukai
Keretaku selalu ditindih wadah besar tak layak
Aku ingin memindahkan wadah itu
Namun hijau dan merah warnamu bukan milikku
Jendela-jendela kecil itu milik pedagang-pedagang itu
Entah darimana mereka datang
Ada yang bilang dari Baá, ada yang bilang dari Papela
Ada juga yang bilang dari Oenggae

Oh kereta kecil di pasar Lalao
Kunantikan kamu setiap pasar senin
Aku ke sana menantimu di tengah keramaian pasar
Tempat jeep tua paman Halem diparkir
Aku suka jendela-jendela kecilmu
Namun aku tak suka logam-logam berat berbeda ukuran itu
Terlalu berat mereka bagimu
Aku ingin membuang besi-besi itu
Namun ’bibi-bibi’ itu selalun menaruh logam-logam itu ke atasmu
Manakala orang membeli sesuatu

Oh kereta kecilku yang cantik
Aku ingin selalu melihatmu
Walaupun hanya dari kejauhan
Sehari, dua kali aku kesana
Aku tak takut mobil baru milik Baba Ce 
Walau kata anak-anak kelas enam mobil itu punya magnet
Yang bisa menarik anak-anak kecil seperti aku
Setiap kali mobil itu menderu dari arah barat, aku ikut bersemunyi ke semak-semak
namun aku akan keluar lagi
karena aku ingin melihatmu

Oh kereta merah di pasar Lalao
Jam istirahat aku akan mencarimu
Di pasar ramai belakang sekolah
Tapi mengapa ada wadah besar di atasmu?
Aku dengar kereta api tak punya ban,  itu tak soal bagiku
Tapi aku tak suka wadah besar itu,
Kereta api menjadi buruk bila memikul wadah sebesar itu.
Suatu saat, akan kubuang wadah buruk itu
Atau kuhadiahkan ke pedagang-pedagang Papela
Mereka boleh memakai beribu wadah dan berjuta pemberat
Tapi jangan di atas keretaku…

Leiden, 29 April 2013

Monday, April 08, 2013

Memaki Aparat tapi Isi Otak Persis Seperti Aparat

HEGEMONI NEGARA dalam cara berpikir itu banyak sekali terjadi di Indonesia. Bahkan terjadi di antara mereka yang tertindas dan menjadi korban. Yang tertindaspun menggunakan bahasa yang digunakan oleh penindas dan penguasa. Bukti yang paling jelas terlihat dalam komentar-komentar terhadap peristiwa Cebongan dan kasus korupsi polisi Bali yang tertangkap kamera wartawan Belanda. 

DALAM peristiwa Cebongan, banyak orang marah karena merasa senasib, merasa merupakan bagian dari korban, tetapi bahasa kemarahan mereka menunjukkan dengan jelas bahwa cara berpikir mereka sama persis dengan cara berpikir penguasa. Itu yang disebut Antonio Gramsci dengan "HEGEMONI". Kalau tunduk dibawah todongan senjata itu wajar, tapi kalau tanpa todongan senjata pun orang tunduk itu patut diprihatinkan. Tunduk dalam cara berpikir itu subtil dan susah sekali menyembuhkannya. Marah-marah polisi dan tentara tapi cara berpikir persis seperti polisi dan tentara. 

Contohnya dalam kasus POLISI MINTA SOGOK DI BALI. Banyak orang memaki-maki polisi tapi memakai kata OKNUM. Itu bahasa aparat. Kata "OKNUM" itu bagian dari eufimisme untuk menghaluskan sebuah tindakan yang patut dikecam. Dengan mengatakan OKNUM orang ingin mengatakan bahwa tindakan korupsi itu dilakukan atas inisiatif perorangan dan tidak ada hubungannya dengan sistem yang bobrok. Bagaimana bisa mengatakan OKNUM kalau tindakan korupsi itu adalah bagian dari sistem yang buruk? Korupsi di Indonesia itu sistematik dan struktural. Itu terbukti dengan itu polisi itu saat membeli bir untuk turis itu mengatakan demikian: "this is for beer, this is for my goverment". "For my goverment" artinya setoran ke atas, ke atasannya. Bukankah telah menjadi rahasia umum bahwa korupsi kecil-kecilan (petty corruption) adalah ekor dari gurita korupsi yang lebih besar? Jadi kalau memakai kata OKNUM seakan-akan hanya polisi itu yang bersalah, padahal ia adalah bagian dari mata rantai korupsi yang panjang. Darimanakah isi REKENING GENDUT PARA JENDRAL -- yang diliput majalah TEMPO beberapa kali, kalau bukan dari setoran-setoran kelas jalan raya seperti itu? 

Jadi lebih baik kita tidak usah ikutan-ikutan pakai kata OKNUM. Korupsi ya korupsi, tidak ada okunum-oknum. Kalau korupsi dilakukan beramai-ramai, tapi kalau ketangkap dibilang OKNUM. Itu bahasa state yang oppresive. Itu bagian dari usaha mengeleminir kesalahan supaya hanya satu dua orang saja yang disalahkan. Pendek kalau ada masalah cari KAMBING HITAM. Sebaliknya kalau satu polisi diapakan-apakan masyarakat, maka semua turun untuk melakukan kekerasan kepada masyarakat atas nama semangat korps. Itu persis peristiwa CEBONGAN. Betapa ironisnya. Kalau ketangkap, cuma satu yang salah. Kalau satu dikenai kekerasan (dipukuli misalnya) maka semua yang sakit, lalu angkat senjata (yang dibeli dengan uang rakyat) untuk membalas.

Jadi menurut saya tak usahlah kita termakan bahasa aparat (state apparatus) yang ada apa-apa langsung bilang itu OKNUM padahal hasil dari kejahatan yang dilakukan dimakan beramai-ramai. ANTONIO GRAMSCI bilang kalau kita memakai bahasa yang digunakan oppersor maka itu bukan kekerasan fisik yang telah menundukkan kita terhadap si penindas tapi HEGEMONI PIKIRAN yang telah menundukkan kita. Dan hegemoni yang demikian lebih jahat dan halus. Kekerasan dibawah todongan senjata yang kelihatan masih bisa cepat diidentfikasi dan dirubah, tapi kekerasan dalam bentuk dominasi pikiran itu susah sekali merubahnya. Tidak heran banyak pemikir besar saat tubuhnya teraniaya, mengatakan: "engkau bisa menghancurkan raga, tetapi engkau tidak bisa menundukkan pikiran". Kalau tubuh dan raga ditundukkan, jangan biarkan pikiran ditundukkan. Penindas biasanya lebih takut kepada pikiran yang bebas daripada kepada benda mati seperti senjata. Karena itu dalam banyak kasus aparat negera suka mencari "Oknum Provokator". 




8 April 2013
SALAM

Thursday, March 28, 2013

Dong su datang serang!


Bukan di Lapas, bukan di Gereja. Tapi dong su datang ko mau tanggap baptua. Tiap hari dong bakatumu balia muka satu dengan lain ma dong sonde tangkap. Sekarang dong su dapa alasan untuk tangkap. Dong su dapat alasan. Kejahatan itu pung butuh alasan: entah balas dendam (seperti di Cebongan), entah alasan legalitas (seperti di Bekasi), yang jelas harus ada alasan. Tukang suanggi sa butuh alasan untuk suanggi.

Di pihak yang diserang ada yang marah, ada yang ingin balas. Seperti salah satu murid, ada yang cabut pedang dan potong bikin putus telinga pesuruh (yang kerjanya kena suru-suru, ikut arus). Tapi baptua bilang "sarungkan pedang itu". Talinga yang putus disambung kembali. Cuma yang datang serang sonde lihat semua keajaiban itu. Dong pung mata su tatutup. Entah tatutup dengan spanduk, syal, sorban, ataupun dengan topeng. Mungkin juga tertutup oleh kebencian dan ketakutan.
  
Lalu majulah om Yudas. Beliau datang dengan ciuman. Manis sekali. Jangan mencibir, karena banyak juga yang mencium seperti Yudas. Di muka mulut dan sikap manis, tapi di belakang jual dan tikam. Jangan kasi salah Yudas, karena kotong ju seringkali begitu. Kalau buka daftar nama yang datang tanggap bisa saja ketemu MATHEOS, MARKUS, LUKAS dan YOHANES. Kotong samua bisa jadi Yudas kapan saja dan di mana saja. Kotong semua bisa saja melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Yudas: jual baptua karena satu dan lain hal.

Jadi lebih baik kotong berdoa minta ampun sa. Hayati ini Jumat Agung dengan sedalam-dalamnya. Ingatlah sengsaranya di Getsemani. "Sio Bapa-sio Bapa, cawan ini lepas saja, tapi biar kehendakMu jadilah". Dalam banyak hal dalam perjalanan hidup kita, kita harus juga berkata "biar kehendakMu jadilah" bagaimana pun itu sakitnya dan beratnya. Jangan membalas, pedang selalu harus disarungkan, karena tidak ada pedang yang menyelesaikan masalah. Hanya kayu tua pada satu bukit jauh dari sini. Di situlah tergantung Dia yang mengalahkan kelam di atas segala kekelaman. Kelamnya dosa anak manusia. Selamat merayakan Jumat Agung bagi semua saudara-saudara ku di mana saja berada.

Kalau boleh mari kita ingat beberapa hal ketika merayakan Jumat Agung dan Paskah:

1.       Jangan suka ikut arus dan euforia dalam segala bentuk. Karena semua orang menyambut Tuhan Yesus ketika dia masuk Yerusalem, sampai-sampai ada yang buka pakaian kasi baptua jalan di atas. Mereka jugalah yang berteriak “salibkan dia! Salibkan dia!” ketika dong pung keinginan sonde tercapai, dan kemauan sonde diikuti. Dong kecewa dengan Yesus yang tidak membawa misi mesianisme politis untuk membebaskan Israel dari penjajahan Romawi.  Janganlah sekali-kali jadi seperti itu karena satu saat kita akan menangis dan menyesal telah turut dalam euforia, entah menjual kebenaran, melawan nurani sendiri, atau bahkan menjual Yesus. Yang suka jadi abeát dan tukang suru politik dong pikir bae-bae sudah apa yang sudah dilakukan selama ini. Yang suka masuk kaluar agama, suka ganti-ganti nama, sebentar memuji, sebenatar menghina itu adalah mereka yang suka euforia sesaat. Mereka bukan cari Tuhan tapi cari diri sendiri, sehingga ketika kepuasan diri tidak didapatkan mereka marah dan berbalik haluan.

2.       Jangan suka salahkan Yudas saja, karena dalam banyak hal kita juga bertindak seperti Yudas. Kita memuji-muji dengan manis di depan orang, tapi menikam dari belakang. Kita mencium dengan manis tapi menghina dan menghasut di belakang. Tentu kita tidak ingin menyesal dan gantung diri seperti Yudas.

3.       Jangan suka main hakim sendiri dan reaktif seperti salah satu murid Tuhan Yesus yang memotong telinga hamba imam besar. Sesama kaki tangan, pesuruh dilarang saling baku hantam. Biasanya yang paling semangat itu barisan pion-pion garis depan dong. Kalau suru bunuh, ini hari ju dong bunuh. Tapi Yesus punya pesan jelas lewat tindakanNya maupun kata-katanya: “sarungkanlah pedang itu!” Pedang tidak akan menyelesaikan masalah, kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan yang lain (sehingga dikenallah istilah lingkaran setan kekerasan, ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi). Yesus datang untuk menggenapi hukum perjanjian lama dan membawa perjanjian baru yaitu Kasih dan Pengampunan.

4.       Berjagalah dan berdoalah, karena Roh memang penurut tetapi daging lemah. Berdoa selalu, itu yang diinginkan Yesus. Baru beberapa saat tiga murid kesayangan (kalau bahasa sekarang “orang-orang VIP”, atau “ring satu” atau “pembisik”atau “tim sukses”) su mangantok. Baptua bilang “tidak bisakah kamu berjaga sebentar saja denganku?”. Mari kotong berdoa selalu untuk kebaikan negeri, bangsa dan negara kita. Salah satu panggilan orang Kristen adalah mendoakan kota atau tempat di mana mereka berada. Dan dalam setiap doa kita biarlah apa yang digumuli Yesus juga berlaku: tidak ada pergumulan yang ringan, setiap orang punya salib sendiri. Tetapi biarlah kita selalu berkata “biar kehendakMu yang jadi”. Itulah kepasrahkan yang  tiada terkira. Mempasrahkan diri di dalam kehendak Tuhan.  Selamat Merayakan Jumat Agung dan Paskah!


Leiden, 28 Maret 2013

Wednesday, February 27, 2013

Andaikan aku bisa bertanya


Burung laut putih berkejar-kejaran
Sesekali hinggap di kolam dingin
Beringsut malas bebek tak peduli
berendam kolam bagai yakuzi
Bergegas tupai di dahan tua
Lamban melintas orang bersepeda

Andaikan aku bisa bertanya
Ingin kudengarkan cerita mereka
Adakah hati bertanggung duka
mencari sebab yang tak berpenghujung
Ingin kutahu tebalnya perkara
Agar kupahami makna keadilan

Andaikan aku bisa bertanya
Ku ingin tahu beban di hati 
Adakah harap semakin jauh
menyusur keadilan yang tak kunjung tiba
Kan kutuliskan kesah kesewenangan
Agar kumengerti sakitnya dikhianati

Andaikan aku bisa bertanya
Ingin kutahu hangatnya airmata
Adakah beban menimbun di raga
Dipisah oleh kewajiban dan keharusan
Kan kusimpan catatan hati
Agar kupahami sulitnya pilihan hidup

Burung-burung laut putih terus berkejaran
Sekali-sekali hinggap di danau beku
Bebek-bebek masih mengepakkan sayap di air
Tupai-tupai tak hilang jenaka
Orang bersepeda terus melintas
Andaikan aku bisa bertanya

Leiden, 27 Februari 2013  

Monday, February 18, 2013

Kisah Nyata Bocah Yatim Petualang Asal Sabu

Bas Wie duduk  di ban DC3 pada tahun 1992 (cowbird.com)
Kisah ini terjadi tahun 1946, ketika seorang anak berusia 12 tahun melakukan aksi nekad menyelinap ke dalam kompartement roda pesawat C-47 milik Angkatan Udara Belanda yang akan berangkat dari Kupang ke Darwin. Pada tahun itu sebuah kontingen khusus militer Australia yang disebut Tim Force sedang berada di Kupang, Timor dalam rangka sebuah operasi pembersihan pasca perang dunia Kedua.

Bas Wie, anak itu, adalah seorang anak yatim yang meliwati masa sulit pendudukan Jepang dan akhirnya bekerja sebagai pekerja kasar pada dapur bandara Kupang waktu itu. Tak ada yang menginginkan anak Sabu ini.

Namun ia juga mengingat masa-masa indah sebagai seorang anak bekerja di dapur bandara itu dimana para prajurit Australia biasa memberinya gula-gula, daging, membawanya di jeep atau truck mereka atau bahkan mendapat bola dari mereka. Sebuah perhatian yang dibutuhkan seorang anak yang berusia sekitar 12 tahun.

Pada satu malam di bulan Agustus 1946 saat ia sedang merawat memar di perutnya,–karena ia sering ditendang oleh koki bandara, ia mendengar sebuah percakapan di hall bandara bahwa pesawat Angkatan Udara Belanda C-47 yang sedang parkir di luar akan berangkat ke Australia. Ia mencoba menyelinap ke pesawat tersebut tapi pintu pesawat terkunci. Saat mengintari pesawat mencari tempat bersembunyi ia menemukan dua rongga nacelle yang menutup ban pesawat jika pesawat telah tinggal landas. Ia memanjat, berjongkok di atas salah satu rongga itu, berharap tidak ditemukan oleh petugas.

Beberapa menit kemudian para crew kembali dan pesawat itu pun berangkat lagi. Saat pesawat menyapu landasan pacu, mimpi buruk Bas dimulai. Di dekatanya pipa knalpot menyemburkan api orange. Pendingin baling-baling menghantam baju kemeja tipisnya, tapi kemungkinan ini menyelamatkannya dari asap mesin. Berjuang dalam kepanikan, ia merayap ke satu-satunya tempat di mana ia bisa selamat - sebuah ruang berukuran 10 x 20 inchi antara tangki bahan bakar dan pipa knalpot.

Dalam keadaan panik ia melingkar dirinya, ban pesawat yang mulai masuk menghantam dirinya dan sebuah besi memotong bahunya menyebabkan luka besar. Berdarah, hangus oleh api dan kedinginan oleh prop pencuci, untungnya ia kehilangan kesadaran.  Selama tiga jam tubuhnya terjepit dalam struk itu dan bahkan tubuhnya tidak jatuh ketiga ban keluar lagi saat pesawat mendarat. Ketika para crew menemukannya ia “tergantung di sana” dan tampaknya hampir mati.

Pada tahun 2004 saat di wawancarai Murray McLaughlin dari Australian Broadcasting Corporation (ABC), Bas Wie mengaku bahkan tak tahu ke mana pesawat itu akan berangkat. “I didn’t know there was any other country out there, really, at my age, you know,” katanya.

“Nobody looking, I just climb up there and hang on,” Bas menjelaskan bagaimana ia bisa naik ke roda pesawat. “They took off and the wheel start to come up and I’m running out of room, the room is getting smaller and smaller — nothing there. And I was was trying to scream and I thought it a waste of time because they can’t hear me anyway.”

Menurut pilot Angkatan Udara Belanda, Jan Sjouw, yang menerbangkan pesawat DC3 itu, mereka mengalami masalah selama penerbangan. Pemanas kabin tidak akan bekerja tapi ia terus melaju dengan pesawatnya. Menurut Jan, yang kemudian bertemu kembali dengan Bas di tahun 1978, sebelum mendarat di Darwin pesawat ini harus menunggu giliran untuk mendarat. Roda pesawat telah diturunkan sebelum waktunya pada ketinggian sekitar 1500 kaki. Untunglah anak ini tak jatuh. 

Hari telah gelap ketika pesawat C-47 itu mendarat di landasan RAAF (Royal Australian Air Force)] di Darwin. Petugas jaga malam itu Jim Fleming mengecek pesawat yang singgah itu.

“I just put the torch up and had a look and there was a body, pushed up against the bulk head,” kata Jim Fleming yang sekarang adalah pensiunan Vice Marshal Angkatan Udara. “He’d been burnt very badly on one side around his back from the exhaust of the aeroplane where he was, and frozen on the other side. But he was completely unconscious. His eyes had rolled back so they were two white orbs looking at us, and I thought he was dead.”

Dalam keadaan tak sadarkan diri, sebagian tubuhnya terbakar dan luka besar menganga, Bas dilarikan ke rumah sakit. Selama kurang lebih tiga bulan para dokter dan perawat di Rumah sakit Darwin merawat anak yang kemudian dikenal oleh semua orang dengan “the Kupang Kid.”

Namun, selamat dari maut di roda pesawat bukan akhir dari semua duka si anak yatim ini. Kepastian tinggalnya di Australia menjadi persoalan. Pemerintah Australia saat itu yang mempunyai kebijakan “keep Australia white” yang membatasi imigran Asia, segera mengumumkan bahwa segera setelah anak ini sembuh ia akan dikirim pulang ke Kupang. Warga Darwin membombardir Mentri Imigrasi dengan protes. “A kid with guts like that,” kata salah satu pemrotes, “needs encouragement.” Karena tekanan ini, pemerintah memberikan bocah ini sertifikat pengeculaian selama setahun yang disebut Permit of Entry. Sertifikat yang dikeluarkan oleh Departemen Imigrasi ini harus diperbaharui tiap tahun dan kapan saja bisa dibatalkan oleh Kementrian Imigrasi.

Nasib Bas tergantung pada tangan Mentri Imigrasi saat itu Arthur Calwell. Walaupun kemudian Calwell dikenal sebagai arsitek dari program migrasi pemerintah Australia pasca perang, Calwell punya reputasi sebagai kelompok garis keras dalam parlemen Australia karena kegigihannya untuk mendeportasi orang Indonesia yang mencari suaka di Australia selama perang.

Rupanya ketika Bas berada di rumah sakit, Administratur Darwin saat itu Arthur R Driver telah bernegosiasi dengan Mentri Calwell agar Bas tetap diperbolehkan tinggal di Darwin. Calwell setuju asalkan Bas berada dibawah pengawasan Driver. Driver sendiri memberinya tinggal di sebuah rumah penginapan milik pemerintah (Goverment House) dan ia disekolahkan. Sebagai balasanya, Bas bekerja di sekitar kediaman resmi sang administratur dan setiap hari Natal ia menghadiahi sang administratur dengan sebuah miniatur kapal laut yang ia ukir sendiri.


“I was looked after like their own child, kids, and to me they like my own parents — very good”, kata Bas mengenang masa-masa bekerja di rumah Driver.

Bas kemudian juga bekerja pada Eric Izod pemilik Izod Motor dan ia membawar sewa perumahan milik pemerintah itu dengan gajinya.

Keberanian bocah 12 tahun dari Kupang ini menjadi headline di berbagai media saat itu, bahkan sampai beberapa tahun setelah kejadian itu. Pada tgl 20 Juli 1951 ketika Arthur R Driver telah meninggal, koran Northen Standard melaporkan tentang Bas yang diperkirakan berusia 16 tahun pada saat itu. Karena ketiadaan dokumen, usianya ditentukan dengan perkiraan.

Majalah Time pun melaporkan tentang kisah ini pada edisi 7 Juli 1958. Pada tahun 1978, Bas dan keluarganya menjadi topik utama dalam program TV This Is Your Life.

Ketika Northen Standard melaporkan tentang Bas di tahun 1952 sehubungan dengan ketidakpastian tinggalnya, ia saat itu telah bekerja pada toko milik RAAF. Ketidakpastian tinggalnya Bas ini menjadi topik di Australia dan Arsip Nasional Australia sekarang menyimpan ratusan halaman dokumen berkaitan dengan kasus Bas ini. Sejumlah dokumen ini, terutama pemberitaan koran, bisa diakses secara online.


Pada saat terjadi pergantian administratur, sepasang suami istri dari Darwin mengadopsi Bas. Orang Inggris yang mengadopsinya itu menikah dengan seorang perempuan native Australia dari Larrakia bernama Bertha Cubillo. Bertha adalah keturunan campuran Aboriginal dan Filipina. Ia kemudian mendapat pekerjaan sebagai klerk pada Commonwealth Works Department. Di sanalah pada usia 24 tahun ia bertemu seorang gadis cantik dari Perth bernama Margaret. Mereka bertemu pertama kali pada bulan Februari 1956 ketika Margaret bekerja sebagai seorang junior draftwoman pada bagian surat-surat masuk pada the Department of Works and Housing.

Kupang Kid dan istrinya Margaret (www.ntnews.com.au)
"He brought my mail to my desk - personal delivery," Kata Margaret. "I suppose it was a bit like love at first sight."

Setelah 18 bulan berpacaran, keduanya menikah di sebuah Gereja Katholik di Smith Street di mana Bas pernah bekerja sebagai seorang anak altar. Upacara pernikahan di gereja kecil ini, diikuti oleh resepsi terang bulan di halaman belakang rumah seorang kerabat di Fannie Bay.

Beberapa bulan setelah pernikahan mereka, tepatnya pada bulan July 1958, saat majalah Time melaporkan tentang Bas, sebuah keberuntungan lagi menghampiri hidup pemuda ini: ia akhirnya menerima permanent residence yang telah lama ia tunggu. Penerimaan ini merupakan sesuatu yang sangat langka dalam kebijakan imigrasi Australia saat itu yang sangat anti Asia. The Kupang Kid akhirnya menerima surat-surat naturalisasinya.  "We're proud," kata salah seorang pejabat seperti yang dilaporkan majalah Time, "to have him as an Australian."


Bas dan istrinya kini telah pensiun dan mereka mempunyai lima anak dan telah mendapatkan tujuh orang cucu. Pada ulang tahun perkawinan mereka yang ke 70 pada tanggal 8 Desember 2007, wartawan Australia Daniel Bourchier menulis tentang pasangan ini dengan judul : "Kupang Kid marks a marriage half century."
Sejarah hidup Bas Wie kini tertulis dalam sejarah Northern Territory. Cerita hidupnya adalah cerita seorang survivor yang hebat. Seperti katanya istrinya, Margaret: "He had a certain amount of determination to do something he set his mind on, and a bit of a gambling spirit, to take a risk."

Anak laki-laki Bas, Trevor, mengenang bagaimana Bas menjawab jika orang menanyakan luka besar di punggungnya. Trevor mengingat di tahun 1960s di mana Darwin adalah tempat yang enak untuk bermain bola sambil bertelanjang dada.


Saat bermain di lapangan Trevor biasa mendengar anak-anak bertanya, “Mr Wie, Mr Wie. What's that mark on your back?"

"Oh, a butterfly landed there.", adalah jawaban satu-satunya jawaban yang biasa ia berikan, kenang Trevor.
“That's Dad for you” kenang Trevor. “Hit by a spinning wheel. Blessed by fortunes. Cooked on one side, frozen on the other. Always magnanimous.”
“I never heard him ever say one negative thing about anybody. Good people fought for him to be able to stay in Darwin.”

Menurut Trevor sikap Bas ini adalah bagian dari penghargaan Bas terhadap orang-orang baik yang telah berani melawan kebijakan 'Keep Australia White' pada masa itu untuk membela ayahnya agar tidak dideportasi.  

Ya, hanya mereka yang pernah merasakan kemurahan Allah yang begitu nyata dan besarlah yang selalu mensyukuri apa yang mereka punya tanpa mengeluh. Benar, sebuah kupu-kupu telah hinggap di pundakmu om Bas, dan itulah yang telah membuatmu menjadi seorang ayah, suami, kakek yang membanggakan. “Always magnanimous” seperti kata anakmu. 

[Dirangkum dari berbagai sumber]

Wednesday, February 13, 2013

Ingat Regime, ingat Resimen Mahasiswa

Sumber: http://exmenwa-ui.talk-forums.com/
Masih ingat orang sering bicara "regime Orde Baru"? Apa sebenarnya pengertian "regime"itu? Menurut Kamus Merriam Webster, "regime" berarti:

a. systematic plan (as of diet, therapy, or medication) especially when designed to improve and maintain the health of a patient [rencana sistematik (seperti diet, therapy atau pengobatan) khususnya bila dirancang untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan seorang pasien. 
b. a regular course of action and especially of strenuous training regimen
of athletes; (serangkaian tindakan reguler dan khususnya menyangkut latihan yang ketat )
Regime juga bisa berarti pemerintahan atau kekuasaan.

Lalu apa hubungan Regime Orde Baru dengan resimen mahasiswa? Yang satunya bapaknya kekuasaan militer, yang satu kaki tangan atau anaknya kekuasaan militeristik itu. keduanya mempunyai kesamaan asal-usul kata, juga punya kesamaan perilaku.

Monday, January 28, 2013

PNS adalah Profesi Mulia

Sumpah Jabatan. (Sumber: fosgambir.blogspot.com)
“PNS itu profesi ka?” tulis adik saya seorang PNS di status facebooknya. Saya tak tahu apa latar belakang ia menulis status itu tapi saya merespon: “lalu apa?”. Kemudian kakak sulung saya merespon juga: “Tergantung, kalau masuk, mengisi absen dan pulang maka jangan mengaku itu profesi. Tapi kalau kerja sungguh-sungguh baru boleh mengaku itu profesi”.

Tapi ini sebenarnya bukan urusan kakak beradik semata. Ini urusan fundamental jati diri manusia Indonesia sekarang. Sudah sejak jaman kakek Max Weber istilah profesi ini menjadi bahasan. Pada tahun 1917, Max Weber atas undangan the Association of Free Students memberikan kuliah “Science as Profession“ di Munich, yang kemudian diterbitkan pada tahun 1919, setahun sebelum ia meninggal. [1]

Thema “vocation” atau “calling” memang memegang peran central dalam karya-karya Weber terutama di dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Seseorang dapat digambarkan sebagai mempunyai vocation (Jerman: beruf) jika individu tersebut mempunyai rasa tujuan yang kuat (strong sense of purpose) akan pekerjaannya. Argumen sentral dalam The Protestant Ethic ialah bahwa gagasan tentang panggilan pertama-tama berkembang dalam Protestantisme dan kemudian menjadi bagian dari semangat kapitalisme. Dengan kata lain, semula panggilan itu mempunyai makna relijius kemudian kehilangan makna relijiusnya.
[sumber:salingsilang.com]

Dalam The Protestant Ethic Weber menguraikan bahwa menurut kaum Protestan, sebuah panggilan merepresentasikan “serangkaian tugas yang disediakan oleh Allah” yang harus dipenuhi (PE. 79). Beruf menjadi sebuah pengertian sekuler ketika dipandang sebagai “sebuah kewajiban yang seharusnya dirasakan seseorang terhadap isi dari aktifitas profesionalnya, tanpa memandang dimanapun kewajiban itu itu terkandung, atau lebih khusus lagi tanpa memandang bagaimanapun tampaknya di permukaan sebagai sebuah pemanfaatan dari kuasa-kuasa personalnya, atau bahkan hanya pemanfaatan dari harta bendanya.” Weber berargumen bahwa pengertian dari “tugas seseorang di dalam sebuah panggilan adalah kharakter mendasar etika sosial dari budaya kapitalistik, dan dengan demikian adalah basis fundamental dari budaya kapitalistik.” (PE.79)

Dengan melihat kerja sebagai panggilan, kaum Protestan telah membantu untuk memunculkan kapitalisme modern dengan menciptakan sebuah gaya hidup yang mengandung semangat kapitalisme baru.

Singkatnya, asal usul konsep panggilan (beruf), menurut Weber, berasal dari tugas-tugas relijius yang diatur oleh Allah kemudian diperluas oleh Marthin Luther ke dunia sekuler melalui terjemahan Alkitabnya. (Sirach II:20-21, PE, 79, 204.) Menurut Harvey Goldman, walaupun beruf awalnya berarti “panggilan”, sekarang berarti “pekerjaan” atau “profesi”.[2]

Menurut Merriam-Webster online, kata profession mempunyai beberapa arti antara lain: (1) the act of taking the vows of a religious community, (2) an act of openly declaring or publicly claiming a belief, faith, or opinion : protestation, (3) an avowed religious faith; (4) a : a calling; requiring specialized knowledge and often long and intensive academic preparation; b : a principal calling, vocation, or employment, c : the whole body of persons engaged in a calling.

Kata profession yang mulai dikenal sekitar abad 13 Masehi ini berasal dari bahasa Middle English: professioun, dari Anglo-French: profession, dari Latin: profession-, professio, atau dari  profitēri yang berarti deklarasi publik.

Dari uraian di atas bisa ditarik sedikit kesimpulan bahwa apapun yang kita lakukan adalah profesi, sejauh kita memandang itu sebagai tugas yang diserahkan oleh Allah kepada kita. Apa yang kita lakukan bukan  sekedar “pekerjaan” tapi “panggilan” Allah bagi kita untuk melanjutkan missiNya di dunia. Bagi semua orang Kristen, pekerjaa adalah panggilan. Dengan melakukan pekerjaan kita dengan baik berarti kita telah mendeklerasikan kepada publik bahwa kita adalah utusan Allah dalam pekerjaan kita. Kita dipanggil oleh Allah untuk melaksanakan amat agung memberitakan keselamatan dan kasihnya kepada dunia dimana kita bekerja. Tak heran kata profesi berhubungan dengan kata prophet yang berarti nabi. Kita seharusnya menjadi nabi dalam pekerjaan kita, memberikan kebenaran dan melanjutkan kasih Allah. 

Dari kata profesi lahir pula kata "profesional". Menjadi seorang profesional bukan hanya berhubungan dengan kecakapan (capacity) atau keahliannya (skill), tetapi terutama berhubungan dengan kesungguhan (motive)  menjalankan apa yang baik dan benar menurut ukuran nilai yang dipegang oleh sang profesional itu.

Persoalannya, apakah nilai kerja itu berbeda atau terpisah dari nilai moral atau religius yang kita pegang? Ada yang mungkin memandangnya terpisah?

Ada yang memandang nilai kerjanya adalah pekerjaannya itu sendiri, tidak lebih tidak kurang. Nilai lain diluar dipandang bukan bagian dari nilai dalam pekerjaannya. Karena itu tak heran ada orang yang bisa memisahkan dengan jelas antara dunia kerjanya dan dunia pribadinya.

Contoh yang paling ekstrim adalah: pembunuh bayaran yang sekaligus seorang ayah yang baik. Atau pelacur profesional, pemain film porno sekaligus ibu atau ayah yang baik di rumah. Contoh yang kurang ekstrim tapi umum terjadi adalah: PNS yang curang tapi sekaligus majelis gereja yang rajin. Bisnisman yang curang tapi sekaligus donatur sosial yang murah hati.

Bagi orang-orang ini, nilai kerja dipandang sebagai intrinsik dalam pekerjaan itu dan tak ada hubungannya dengan nilai yang lain, bahkan dengan nilai agama yang mereka anut. Di tempat kerja menindas orang, di tempat ibadah duduk paling depan. Dengan kata lain: "Kalau mau jadi pengacara, jadilah pengacara yang hebat yang kalau bisa menangkan semua kasus yang dibela tanpa peduli nilai lain di luar dunia kepengacaraan." Mereka tak akan peduli dengan airmata janda atau anak yatim yang digusur gubuknya. Yang penting adalah memenangkan perkara dan mendapat nama sebagai pengacara hebat. Atau dengan kata lain: "kalau mau jadi seniman, jadilah seniman yang berkarya secara hebat tanpa peduli nilai diluar dunia seni." dst.

Tapi apakah benar nilai-nilai yang ada dalam diri manusia itu bisa dipilah-pilah seperti itu? Bukankah sering terjadi konflik nilai? Banyak orang bisa membuka mata lebar-lebar terhadap nilai yang satu tapi menutup mata terhadap nilai yang lain. Mungkin ada yang sehebat itu memilah nilai dalam hidupnya, yang  bisa sangat piawai membuat clear-cut antara nilai yang satu dengan nilai yang lain, tapi banyak juga yang sebenarnya menipu orang lain dan menipu diri sendiri.

Di lain pihak, ada juga yang memandang nilai kerja seseorang tak boleh dipisahkan dari nilai yang lain seperti nilai agama yang dipegang. Dengan kata lain: "Kalau menjadi pengacara, jadilah pengacara Kristen yang hebat, yang mengasah kemampuan kepengacaraan dengan paripurna tetapi tetap mendasarkan semuanya di atas nilai kekristenan".

Menurut pandangan ini, nilai profesi tak independen dan terisolasi dari nilai-nilai lain yang dianut. Orang tak bisa menjadi pengacara yang jahat sekaligus menjadi anggota gereja yang baik. Orang tak bisa menjadi PNS yang korup sekaligus menjadi anggota majelis jemaat yang baik. Itu kemunafikan namanya. Menjadi profesional berarti menjadi mampu dan terlatih dalam pekerjaan sekaligus menjunjung nilai kerja yang baik dan pada saat yang bersamaan menjunjung nilai dasar moral dan agama yang dianut. Itulah profesionalisme yang utuh. Kita tinggal memilih apakah ingin menjunjung profesionalisme dalam pengertian tehnis dan prosedur semata, dalam pengertian dunia kerja semata, atau profesionalisme dalam pengertian intergritas yang utuh sebagai manusia yang beragama: yang cakap dalam kerja sekaligus menjunjung nilai-nilai agama dan moral. Lagu sekolah minggu mengingatkan kita: "Di dalam dunia, ada dua jalan, lebar dan sempit, mana kau pilih."

Jadi ada dua type manusia pekerja dalam memandang nilai kerja mereka: pertama, yang tidur nyenyak dengan segala kecurangan mereka karena mereka bisa merasionalisasi perbuatan mereka, dan kedua, yang tidak bisa tidur malam-malam berhadapan dengan konflik nilai. Ada yang bangga dengan keberhasilan yang didapatkan dengan kecurangan, ada yang memilih menjadi kalah dan tidak menjadi apa-apa, memilih menjadi miskin demi sebuah kebenaran yang mungkin tak terlihat. Syukurlah kalau masih ada yang punya nurani kemanusiaan dan bukan semangat kaku profesionalisme atau bahkan keberhasilan yang dimanipulasi. 
[sumber:padangekspres.co.id]

Kembali ke pertanyaan adik saya di atas: “apakah PNS itu profesi?”. Jawabnya tentu saja PNS itu profesi. Karena dengan menjadi PNS orang menjalankan tugas untuk melayani kepentingan orang banyak. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah makna profesi itu ditempatkan dalam makna relijius sebagai “panggilan” Allah justru sebagai sekedar “pekerjaan” saja, tergantung kepada siapa yang melakoninya. 

Apalagi jika status sebagai pegawai negeri itu didapatkan dengan cara yang kurang terpuji seperti menyogok, mengambil jatah dan posisi orang lain dsb. Apa yang bisa dibanggakan dari profesi seperti itu? Apa yang bisa dibanggakan ketika seumur hidup menghidupi keluarga dengan sebuah pekerjaan yang didapatkan secara tidak terpuji? Kita semua tahu bagaimana ribuan orang akan antri dalam pintu loket penerimaan jika lowongan menjadi PNS dibuka. Tes PNS pun harus dilakukan di stadion sepakbola atau lapangan terbuka. Belum lagi banyak joki. Belum lagi banyak main bawah tangan dengan par pengambil keputusan. Itu semua sekana menjadi rahasia umum bagi kita. Kita sudah maklum kalau menjadi PNS berarti membayar, bukan karena seleksi kemampuan. Kita sudah tahu tarif standar dan tarif tambahan jika ingin menjadi PNS. Itu sudah biasa dan tak ada yang akan malu membicarakannya. Separah itulah permainan kotor dalam rekrutmen PNS dan separah itu jugalah moralitas kita menanggapinya. Kecurangan dan permainan kotor tergambar di wajah banyak orang sampai tidak ada yang malu lagi. 

Lebih buruk lagi,  ketika diangkat menjadi PNS melakukan berbagai pekerjaan tidak terpuji. Apa yang didapatkan dengan kecurangan, bukan dengan kemampuan (merit) sangat mungkin akan dimanfaatkan secara salah pula. Jangan heran banyak yang tidak capable dalam menjalankan tugasnya. Hukum mekanis berlaku: garbage in, garbage out. Kalau sampah yang dimasukan dalam proses sebuah mesin, maka sampah pula yang akan keluar. Syukur-syukur kalau keluarnya emas. Tidak heran beredar di internet lelucon yang menyepelekan PNS misalnya lelucon soal penyakit-penyakit yang sering mendera PNS sbb:

Kudis = Kurang disiplin
TBC = Tidak Bisa Computer
Asma = Asal Mengisi Absen
Kram = Kurang Terampil
Asam Urat = Asal sampai kantor terus tidur
Ginjal = Gaji ingin naik tapi kerjanya lamban
Pucat = Pulang Cepat,
Magh = Makan Gaji Buta
Tipes  = Tim Pengejar Sertifikasi

Sebuah joke tidak lahir dari dunia hampa. Dan karena itu kita akan tersenyum mendengarnya, karena kita pasti pernah melihatnya di sana-sini, jika tidak di suatu situasi sekaligus.
[Sumber: intisari-online.com]

Banyak PNS sangat berdedikasi dan bekerja keras, banyak yang tak mempedulikan apa yang dilakukan sesamanya dan tekun mengerjakan apa yang menjadi tugasnya. Banyak orang bangga menjadi PNS dan menjalani tugas sebagai PNS dengan baik dan benar, dengan semangat dan pengabdian yang benar. 

Namun banyak juga yang memulai karir sebagai PNS dengan cara yang tidak benar dan mengakhirinya pun dengan cara yang tidak benar. “What comes around, goes around” kata peribahasa. Padahal ketika menjadi pejabat publik misalnya PNS disumpah dengan kitab suci. Tidak takutkah mereka akan sumpah yang mereka ucapkan? Atau tidak sungguh-sungguh mereka mengucapkan sumpah? Apapun yang terjadi, mereka telah membuka mulut mereka tanpa paksa dibawah kitab suci. Resikonya akan mereka tanggung sendiri.

Jika anda ingin menjadi PNS atau menginginkan anak anda menjadi PNS, lalu ada yang meminta sogokan akankah anda mengikuti permintaannya? Inginkah anda memulai karir anda yang mungkin akan berlangsung selama sisa hidup anda dengan kecurangan pada awalnya? Pikirkanlah itu.



[1] http://www.science-softcon.de/gkhartmann/714-ex-weber-93-40126-w.pdf [access 28 Januari 2013]; Richard Swedberg,Ola Agevall, The Max Weber Dictionary: Key Words and Central Concepts. California: Stanford University Press, 2005: hal. 2

Today in History