Monday, November 05, 2012

Secarik pesan, sebuah Alkitab dan tiket pulang

Ada masa-masa di mana kita mengalami masa kanak-kanak yang menyenangkan bersama orang tua kita. Namun ada saat dimana kita harus meninggalkan mereka, untuk pertama kalinya. Ada yang tahu kapan mereka kembali, namun ada juga yang tidak. Mungkin keberangkatan mereka adalah untuk sekali dan selamanya, sebab banyak yang hanya kembali untuk meletakkan bunga di nisan orang tua mereka. Banyak yang pergi dan pulang, namun saat orang tua menghembuskan napas terakhir mereka, mereka tidak ada di sana.

Dunia dewasa ini, terima kasih kepada teknologi dan globalisasi, menjadi begitu mendekatkan kita. Secarik surat untuk orang tua yang dulu mungkin hanya bisa sampai ke rumah setelah berbulan-bulan, sekarang dalam hitungan detik, bisa sampai ke orang tua kita. Terima kasih kepada teknologi komunikasi, seperti telpon, Skype, dan facebook tentu saja.

Namun jarak tetaplah jarak. sekalipun dunia maya bisa mendekatkan kita dalam hitungan second per detik, jarak Jawa dan Timor tetaplah sama dari dulu sampai sekarang. jarak Rote dan Kupang tak pernah berubah. Jarak Eropa dan Indonesia tak pernah berubah. Jarak Batuplat dan Leiden tak juga bertambah dekat seiring waktu.

Kalau dulu, jarak dan kesedihan berbanding lurus, maka mengalirnya dari pena para sastrawan dan seniman lagu-lagu seperti "Flobamora", "Ambon Manise", atau "Ofa Langga Soba-Soba". Namun sekarang perbandingan lurus ini tak begitu lagi dirasakan banyak orang. Namun apakah berarti rindu terobati hanya dengan duduk di depan laptop bercakap-cakap dengan orang-orang tersayang? apakah rindu menjadi terobati ketika mendengarkan suara mama tersayang atau ayah yang sudah semakin tua?

Sedikit, mungkin. Tetapi tak akan banyak mengubah kerinduan bersama sebagaimana kita seharusnya bertemu orang tua kita, pasangan kita atau anak-anak kita. Pertanyaan sederhana: Bagaimana kalau mereka sakit?; bagaimana kalau mereka tak mengharapkan hadiah atau oleh-oleh apapun selain kehadiran anak yang mereka kasihi?

Jarak tetaplah jarak, karena dunia semakin tua namun tak menjadi kecil atau menyusut. Seperti kata penyair lagu OFA LANGGA SOBA-SOBA: "kota nai kota de, ma Lote nai Lote de" (Kupang di Kupang jua dan Rote adalah di Rote jua). Tak ada yang bisa menggabungkan Kupang dan Rote di satu tempat. Walaupun geographer dan ahli globalisasi David Harvey menyebut globalisasi sebagai "space-time compression", globalisasi tetap tak bisa menggabungkan dua kutub dunia yang berbeda. Globalisasi tak menggantikan apapun kecuali mengurangi sakit rindu yang akut. Obat rindu yang paling mujarab hanyalah kalau kita benar-benar bertemu. Semoga mereka yang memendam rindu kepada ayah, ibu, anak, istri mereka diberikan kekuatan untuk menyimpan rindu itu sampai saatnya nanti.

Memang, ada mimpi yang kita kejar,tetapi ada yang lebih berharga yang menantikan kita.  Mereka memang tak ada di sana ketika kita dalam kesulitan, tetapi setiap malam berdoa selalu untuk kita walaupun kita sering melupakan mereka. Mereka menantikan kita pulang lebih dari sejuta hadiah dan oleh-oleh dan foto. Tak ada yang lebih membahagiakan dan membanggakan mereka ketika kita pulang ke rumah. Tak ada yang lebih mengkhawatirkan mereka ketika mereka lama dan mendengar kabar dari kita. Apalagi ketika kita tak pernah berkirim kabar. Hati mereka tak akan tenang jika kita mengalami kesusahan, mungkin mereka mengalami mimpi buruk, mungkin mereka merasa tak enak atau bahkan mencoba menghubungi kita. Siapa lagi yang mengkhawatirkan kita, kalau bukan orang yang menghadirkan kita ke dunia. Merekalah orang-orang yang menerima kita dengan tangan terbuka dan hati yang hangat ketika mimpi-mimpi kita hancur berantakan dan kita berlari dalam tangis pulang ke rumah.

Semoga, kita punya semua yang kita butuhkan untuk kembali dan pulang. "Kembali dan Pulang" adalah obat bagi semua yang merindukan orang-orang tersayang. Janganlah pulang hanya untuk meletakkan bunga di batu nisan, karena itu akan menjadi penyesalan seumur hidup.

Saat menulis notes ini saya menemukan sebuah lagu religius di YouTube yang bercerita tentang harapan dan penantian orang tua kepada anaknya yang meninggalkan rumah. Dalam lagu itu sang ibu menyisipkan sebuah Alkitab dan sebuah tiket pulang di tas pakaian anaknya.

Kita semua tahu, semua orang tua akan berat melepas anaknya untuk pertama kalinya. Seperti baru kemarin, si kecil berlari-lari di halaman rumah, terjatuh dan menangis sambil mengadu ke papa atau mamanya. Sekarang dia akan berlari-lari di kerasnya dunia; dunia yang sudah dilalui sang ayah dan ibu ketika si kecil hanya merasakan manisnya masa kecil. Dan di dunia yang nyata itu, tak ada ayah dan ibu yang bisa menjadi tempat pelarian setiap saat.

Karena itu bagi para ayah dan ibu, jika boleh, anak-anak mereka tak usah meninggalkan mereka. Namun hidup bukalahlah begitu arahnya, sebagaimana dunia harus terus berputar. Tak ada yang bisa menahan berputar dunia dan waktu. Mungkin klise namun nyata: bahwa hidup adalah tautan-tautan pertemuan dan perpisahan setiap saat.

Lagu ini mengingatkan saya akan sebuah penyesalan yang tak bisa terobati. Di saat ayah tercinta saya meninggalkan dunia untuk selamanya, saya sangat jauh dari rumah. Saat ini, saya teringat ibu saya. Hampir siang saat saya berangkat, saya mendatangi rumahnya. Dia membuka pintu dan cuma bilang: "berangkatlah nak, ayahmu telah mengajarkan kalian kekuatan sejak kalian masih kecil." Juga saya teringat kedua anak saya yang ketika berangkat sedang tertidur dan saya tak sampai hati untuk membangunkan mereka untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal. Kekasih hati saya, tentu lebih sedih hatinya. Orang Kupang biasa bilang "yang pergi itu enak, tapi yang tinggal ini..".

Selamat menikmati para perantau, semoga kita dikuatkan. Jangan lupa pulang ke rumah. Rumah di mana selalu ada yang menanti!

 

A Bible And A Bus Ticket Home

Mamma's tears fell so easy
Daddy's handshake was strong
Then I climbed aboard that Greyhound
Eighteen and glad to be gone

Took a rented room on broadway
As I unpacked everything I owed
I found a note my mamma left me
With a Bible and a bus ticket home (It said)

One will get you where you're going
When you haven't got a prayer
And one will bring you back son
If you're dreams ain't waiting there

You're out on your own now
We won't be there to fall back on
But you know we're never farther
Than a Bible and a bus ticket home.

The years have come and gone and taken
The only things in life I ever counted on
But I'm going back tomorrow
To lay flowers on their stone.

I can almost hear my mamma calling
Saying son come back where you belong
You've got all you need to get here
A Bible and a bus ticket home

One will get you where you're going
When you haven't got a prayer
And one will bring you back son
If you're dreams ain't waiting there

You're out on your own now
We won't be there to fall back on
But you know we're never farther
Than a Bible and a bus ticket home.

 

No comments:

Today in History