Wednesday, September 28, 2011

Ke Lospalos Ku Kan Kembali



KAMI berhenti untuk makan siang di sebuah kampung kecil di tepi jalan di sub-district Vemasse, Baucau. Carabela nama kampung itu.

Ikan bakar, dan sambal Timor yang terbuat dari ai manas dan jeruk [1] telah menanti perut yang sejak pagi telah keroncongan. Sebuah rumah beratap daun sederhana, beberapa orang anak-anak bermain di sekitarnya dan juga sejumlah babi berkeliaran..bukan hal yang luar biasa bagiku. Duduk di atas sebuah bangku bambu sambil mengangkat kaki ke atas, menambah lezatnya ikan-ikan bakar itu. Tak seperti biasanya, aku makan banyak kali ini. Aquino makan tiga potong, aku juga. Di luar anak berebut es potong, babi-babi berebut sisa makanan.

Sehabis makan, perjalanan dilanjutkan kembali dengan malas-malas. Luis dan Vonya duduk di depan, aku dan Aquino di belakang. Suzuki Vitara bernomor polisi 15.661 itu seakan tak mau beranjak. Kami memang bukan sedang berwisata, kami sedang dalam perjalanan untuk melayat. Kakek Aquino, Pedro do Carmo Vieira, seorang Liurai [2] di Pairara meninggal seminggu sebelumnya.

Kami melewati Bucoli, kampung halaman pahlawan pembebasan Timor, Vicente dos Reis yang lebih dikenal dengan nama Sahe.[3] Mirip kampung-kampung di Timor Barat, mamar, sawah, pohon sukun, beringin, ternak. Saya membayangkan, betapa progresifnya wawasan Sahe saat itu. Anak Liurai yang baru pulang dari Lisboa itu, pulang ke kampung halamannya, memilih memakai nama asli Timornya, Sahe daripada nama sarani [4]-nya, Vincente dos Reis. Ia menjalankan program yang disebut alphabetisasi kepada orang-orang sekampungnya. Bersama-sama saudara-saudara yang bekerja sebagai guru di sekolah setempat, ia mendirikan berbagai kelompok di desa. Kelompok-kelompok ini membahas situasi politik terbaru, menjalankan koperasi pertanian, menghidupkan budaya lokal termasuk tarian-tarian dan lagu-lagu, organisasi pemuda dan organisasi perempuan. Kelompok-kelompok ini adalah pelopor yang melakukan kegiatan yang kemudian dijalankan oleh anggota Front Revolusioner Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin) di desa asal masing-masing.



Lamunan saya buyar oleh teriakan Vonya. “Camarada!” begitu sapanya kepada perempuan-perempuan yang sedang duduk di sebuah kiosk di tepi jalan. Mereka adalah ‘orang-orang Sahe’ (Sahe sira), begitu penjelasan Vonya dalam bahasa Tetum yang saya mengerti seadanya. Namun bukan itu minat saya, saya malah memikirkan mengapa mereka menyapa satu sama lain dengan camarada.[5] Alangkah asingnya, di abad duapuluh satu ini, sebuah kampung di pulau yang saya diami, kampung yang mirip kampung-kampung lain yang pernah saya lalui di pulau ini, orang saling menyapa dengan camarada. Apakah ini pertanda sosialisme belum mati, ataukah cuma roh sosialisme bergentayangan di siang hari? Jawabannya mungkin membutuhkan sebuah diskusi panjang.

Tak lama berselang kami masuk kota Baucau. Mirip Kampung Airmata di Kupang. Hotel Flamboyan [6], nampak berwajah baru. Hotel yang pada jaman Indonesia digunakan sebagai tempat penyiksaan itu, dicat merah lylac, tak nampak lagi wajah penyiksaan di luarnya. Walau, mungkin di dalamnya masih tersimpan perih sejarah.

Di tengah kota berdiri tegak sebuah gedung pasar tua yang lebih mirip gereja tua. Pasar Municipal, begitulah biasa disebut orang. Ide lama yang terpendam soal dokumentasi gedung bersejarah muncul kembali di kepala. Tepat di depan pasar itu, sejumlah toko berjajar. Western Union juga ada di sana, kalau-kalau ada yang mau mengirim uang atau mengambil kiriman. Tak ketinggalan Timor Telcom. Signal hand phone memang mulai jelas di sini. Sebuah sms masuk. Mana Karen pamit karena akan pulang minggu besok.

Arah timur luar kota Baucau, lebih mirip Nurobo di Timor Barat. Sawah luas dan ternak. Sekali dua muncul para gembala domba, mirip ba’i-ba’i [7] di Rote.

Kami berhenti sejenak di tempat dimana para suster, dan wartawan Agus Mulyawan dibunuh oleh Joni Marques. Sedikit ke arah timur, sebuah benteng Portugis tua masih nampak menyindir zaman.

Sebelum masuk Lospalos, kami masuk sebuah jalan kecil. Jalan ke Pairara. Vonya mulai menyambil satu dua shot dengan arahan dari Luis, reporter Telivicao Timor Leste (TVTL). Pagar batu, dan topografi mengingatkan aku akan kampung-kampung di Kupang Barat, tempat ayahku mengabdi selama kurang lebih 12 tahun. Tak terasa sampai sudah kami ke Pairara. Nampak beberapa tenda daun dan meja bambu. Seekor kerbau besar tertambat di bawah pohon.

Kami langsung menuju rumah tempat jenazah disemayamkan. Kami hening sejenak di depan peti jenazah. Kakek tua berhidung mancung itu nampak mengenakan dua bintang jasa di dadanya. Dari motif dan jenisnya, nampak bukan dari jaman Indonesia. Lagipula otoritas Indonesia mana yang rela memberi bintang sebagus itu kepada seorang kakek tua di sebuah negeri kering seperti ini. Sejauh perkiraan saya, bintang sejenis itu hanya milik mereka di Jakarta. Dari Aquino saya tahu bahwa orang tua yang meninggal dalam usia 90 tahun itu adalah adik kandung dari kakek Aquino. Dia lah yang membesarkan ayah Aquino saat kakek Aquino dibuang oleh pemerintah Portugis ke pulau Atauro.

Jenazah sang liurai ini telah disemayamkan selama seminggu. Penguburan belum juga dilaksanakan. Sesuai adat, sebuah upacara penguburan yang besar harus dilaksanakan, semua anak cucu dan sanak keluarga akan hadir. Jenazah akan dikuburkan dini hari saat sebuah bintang yang disebut No Ipi [8] muncul. Selama disemahyamkan, tarian dan nyanyian adat terus dilantunkan.

Sore itu, setelah beristirahat sebentar kami ke kota Lospalos. Kami tiba di kota sekitar pukul enam sore. Kota itu mungkin sedikit lebih besar dari Papela atau Ba’a di Rote. Aquino menunjukkan rumah mereka yang kini ditinggalkan. Sebuah rumah tua yang bagus. Toko-toko yang berjejer di pusat kota punya cerita sendiri. Pada jaman Portugis, toko-toko milik orang Cina itu punya nama, namun tentara pendudukan Indonesia tidak menyukai nama-nama Cina itu. Komunis katanya. Para tentara kemudian mengganti nama toko-toko itu dengan nomor. Ada sembilan toko diberi nama Toko 1, Toko 2 dan seterusnya.

Hari menjelang gelap ketika kami masuk rumah tante Aquino. Seorang gadis manis sedang menyapu di halaman. Aquino langsung menonton TV bagaikan telah seabad tak menonton TV. Aku memperkenalkan diri lalu bergabung dengan Aquino. Penghuni yang ada saat itu adalah tiga orang gadis cantik. Tak heran, rumah itu tampak rapi. Sebelum makan malam, aku mandi sebentar. Kami makan malam sambil menonton TV. Aku ingin berita, Aquino ingin film. Sang ayah, seorang anggota PNTL (Kepolisian Nasional Timor-Leste) tiba saat kami sedang makan.

Cuma sebentar kami di kota Lospalos. Setelah makan malam, kami kembali ke Pairara. Semua anggota keluarga mengantar ke depan. Mungkin sudah lama Aquino dan Vonya tidak berkunjung. Ada rasa yang lain di hati; aku ingin lebih lama di Lospalos. Di tengah jalan, telpon genggam yang dipegang Vonya sebentar-sebentar berdering. Rupanya itu adalah telpon Pedro, kakaknya yang terlanjur dibawa. Pedro tak sabar menanti telponnya.

Kembali di Pairara, kami langsung ke tenda-tenda itu. Banyak orang telah hadir. Makan malam sedang berlangsung. Menurut sopan-santun, kami harus makan lagi. Setelah membaur di tengah orang-orang selama beberapa saat, kami dipersilahkan makan lagi. Vonya dan Luis entah ke mana. Aquino menemani aku makan malam, sementara di kejauhan, suara-suara nyanyian adat terus melantun.

Sehabis makan, diskusi spontan berlangsung. Mulai dari tradisi penguburan sampai mitos asali orang Pairara, mulai dari korupsi sampai publik service, mulai dari Xanana sampai SBY dan TNI. Menjelang pukul dua dihinari, aku pamit untuk tidur. Aquino dan yang lain melanjutkan diskusi. Entah sampai jam berapa.

Aku bangun sekitar pukul 11. Ajakan Vonya untuk bersama ke Com terpaksa kutolak. Belum mandi dan sikat gigi. Vonya dan Luis berangkat sendiri ke Com. Mengundang orang-orang katanya.[9] Aquino belum juga bangun saat itu. Beberapa saat kemudian, seorang pamannya datang membangunkan. Ia mungkin tak akan bangun jika pamannya tidak berkata bahwa ia harus menemani aku sarapan. Daging lagi. Sejak kemarin memang. Aku teringat pesta-pesta di pedalaman Rote.

Sehabis makan, satu dua pembicaraan menyangkut tradisi penguburan berlangsung. Menjelang siang, seorang bocah mestizo [10] muncul. Kerinduanku pada anak kecil sedikit terobati. Dia anak yang cerdas dan berani. Steven namanya. Ibunya Australian dan ayahnya Flores, namun dia hanya bisa berbicara bahasa Tetum dan bahasa Indonesia.

Sore harinya, sebelum pulang ke Dili, kami kembali ke Lospalos. Menengok kuburan ibu Aquino dan mengisi bensin. Steven ikut. Kali ini aku di depan. Sesampai di pekuburan, Aquino meminta aku menebak kuburan ibunya. Tepat tebakanku. Kami memasang lilin di kuburan ibu, adik dan nenek Aquino. Aku ingin bertanya berapa usia Vonya saat ibunya meninggal, tapi aku urungkan. Mungkin, bukan saat yang tepat. Aku perhatikan, beberapa kali mereka menyentuh kuburan sebelum membentuk tanda salib. Suatu tradisi Katholik yang tak kumengerti maknanya. Aku sedikit merasa bersalah tak melakukannya.

Setelah kuburan, kami mengisi bensin. Aquino, Steven dan aku sempat mengambil foto di jalan yang bernama Rua Maluk Korea yang berarti Jalan Teman Korea. Nama itu adalah tribute kepada pasukan PBB asal Korea Selatan yang bertugas di Lospalos selama masa transisi PBB. Kami sempat melewati lapangan merdeka. Anak-anak dan para pemuda sedang ramai berolahraga. Ada juga yang cuma nongkrong di sekitar lapangan. Sedikit mengintari kota, kami tiba di sawah milik keluarga Aquino. Tak ada yang mengolahnya kini karena sang ayah menetap di Kupang. “Saya yang akan pulang untuk mengerjakannya” kata Aquino tak serius.

Mentari mulai condong ketika kami, keluar dari kota Lospalos. Anak-anak kampung masih bermain di luar rumah. Rumah putih di tengah padang berdiri tegak mengantar matahari pergi. Mengingatkan aku pada padang-padang Batilangak, Lalao. Selamat tinggal Lospalos, selamat tinggal Pairara. Selamat tinggal sawah, ternak dan laut. Selamat tinggal pohon sukun, tambal ban dan magrib di Lospalos. Awan putih berjejer indah. Senja di padang-padang Lospalos seakan menahan hatiku untuk tinggal. Aku akan merindukanmu Lospalos. Ke Lospalos ku kan kembali.

Catatan Kaki
[1] Sambal jeruk dan cabe khas Timor. Di Timor Barat, sambal ini disebut Lu’at.

[2] Liurai yang secara literer berarti ‘yang mengatasi segala sesuatu yang diatas tanah’ adalah gelar bangsawan di Timor Leste. Di daerah-daerah bagian timur Timor Leste yang menggunakan bahasa Fataluku, Liurai disebut Chau Hafa Malai yang secara harafiah berarti tengkorak yang berasal dari atas.

[3] Vicente dos Reis lebih dikenal dengan nama Sahe. Ia adalah salah satu dari para pemimpin tertinggi dan pendiri Fretilin. Sepuluh orang yang sering disebut menurut ketersediaan informasi tentang Fretilin antara lain: Francisco Xavier do Amaral, Alarico Jorge Fernandes, Nicolau dos Reis Lobato, Mari Alkatiri, Rogério Tiago de Fátima Lobato, José Manuel Ramos Horta, Abilio Araújo, Francisco Borja da Costa, António Carvarino (Mau Lear) dan Vicente dos Reis (Sahe). Sahe menyelesaikan pendidikannya di Liceu Dili. Pada tahun 1972 ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan bidang teknik di Lisboa. Saat Revolusi Angkatan Bersenjata 25 April 1974 yang mengantarkan Jenderal Antonio de Spinola ke tampuk kekuasaan, ia berada di Lisboa. Ia tidak menyelesaikan pendidikannya tetapi kembali ke Dili bersama Antonio Carvarinho, Maria Pereira dan lainnya. Merekalah bekas mahasiswa Lisboa yang oleh pers Indonesia dilaporkan sebagai sayap “Komunis” Fretilin. Setelah Timor-Leste memperoleh kembali kemerdekaannya, sekelompok anak muda Timor-Leste mencoba menghidupkan kembali ide-ide dan semangat yang dirintis Sahe dengan membentuk sebuah kelompok diskusi yang disebut Sahe Institute of Liberation.

[4] Sarani berasal dari kata Nazarene (orang dari Nazaret). Nazarene adalah ejekan untuk Yesus Kristus. Saat Yesus disalibkan, di atas kepalaNya tertulis, IRNI yang merupakan singkatan dari Iesus Nazarenus, Rex Ieudoreum, yang berarti ‘Yesus orang Nazaret, raja orang Yahudi.’ Ini sebenarnya adalah sebuah ejekan jika mengingat konteks politik pada saat itu. Kampung Nazaret adalah kampung terbelakang dan miskin serta tidak diperhitungkan sama sekali. Sangat ironis jika seorang dari Nazaret bisa menjadi seorang raja untuk kaum Yahudi. Menjadi raja orang Yahudi saja sudah merupakan suatu ironi, mengingat kaum Yahudi/Yehuda pada saat itu sedang dijajah Romawi. Apalagi yang menjadi raja adalah seorang dari kampung yang dianggap terbelakang. Kata Nazarene kemudian menjadi sebutan untuk para pengikut Kristus. Dalam bahasa Indonesia, orang Kristen disebut kaum Nasrani. Dalam bahasa Melayu tua dan dalam sejumlah bahasa yang mempunyai akar melayu (Ambon, Manado, Kupang) atau pun bahasa yang mendapat pengaruh melayu (Tetun), kata ini bermetamorfosis menjadi ‘Sarani’.

[5] Camarada adalah versi Timor dari kata Camerad. Sejak tahun 1974, Fretilin mempopulerkan kata ini di kalangan mereka untuk menunjukkan egalitarisme.

[6] Sebuah tempat penyiksaan pada zaman pendudukan Indonesia. [more explanation]

[7] Sebutan untuk kakek dalam bahasa Rote.

[8] Menurut mitos asali (myth of origin) orang Fataluku berasal dari bintang. [untuk penjelasan selanjutnya lihat tulisan "Matinya Seorang Chau Hafa Malai"]

[9] Menurut adat klan Cailoro, klan lain hanya boleh datang melayat setelah ada undangan resmi. Tanpa undangan, mereka tak boleh datang walau telah mendengar tentang kematian.

[10] Bahasa Portugis untuk keturunan campuran Eurasia atau Euroafro.

No comments: