Monday, December 24, 2012

Yusuf, lebih baik kamu daripada saya

Flight into Egypt by Rembrandt
Yusuf namanya, seorang tukang kayu. Bukan Yusuf sang Perdana Mentri Firaun. Bukan Yusuf si tukang mimpi dengan gagasan-gagasan besar. Yusuf ini adalah Yusuf yang sederhana, seorang tukang kayu. Ia juga punya mimpi, namun mimpinya bukan miliknya, melainkan mimpi yang diberikan Allah kepadanya. Ia harus menanggung mimpi itu. Di bahu lelaki sederhana inilah Allah menaruh sebuah tugas yang berat, sangat berat. Tidak seperti Yusuf anak Yakub yang mimpinya berakhir dalam keagungan dan kebesaran. Tidak. Mimpinya adalah menanggung beban dari Allah.

Dia harus memikul beban, beban yang tidak ringan mengingat semangat zamannya. Ia diminta mengakui anak dalam kandungan Maria, kekasihnya sebagai anaknya. Padahal ia belum menghampiri perempuan itu. Hukuman untuk pezinah pada waktu itu sangat berat: dirajam sampai mati.  Bahkan pada zaman di mana hamil di luar nikah bukan hal yang luar biasa inipun, laki-laki siapa yang mau menanggung anak yang bukan anaknya?

Akankah ia lari dari beban yang bahkan bukan tanggungjawabnya itu? Akan dia malu menanggung apa yang dianggap aib itu? Akankah dia tak ingin merusak nama baiknya sehingga meninggalkan Maria? Akankah dia bersembunyi? Kita semua tahu jawabannya melalui Alkitab. 

Pertanyaan yang sama ditujukan kepada kita. Akankah kita melakukan hal yang sama seperti Yusuf jika kita ada dalam posisinya? Akan kita mengambil resiko dan berpihak pada bayi kecil dalam kandungan itu? Bayi kecil yang bahkan belum kita lihat wajahnya?

Inilah sebuah thema dari lagu natal ‘Joseph, Better You than Me’ yang dinyanyikan oleh kelompok The Killers bersama Elton John dan Neil Tennant.
The Killers

Bayangkan apa yang didapatkan Yusuf. Tak ada satu janjipun, imbalanpun dari malaikat. Tidak ada janji kalau kamu melakukan ini, kamu akan mendapatkan itu dst. Namun Yusuf melakukan seperti apa yang diperintahkan malaikat, mengambil Maria sebagai istrinya (Matius 1: 24-25). Ia tidak melarikan diri, seperti Yunus atau Yakub dan Ia pun tak menolak atau berdalih seperti Yesaya atau Yeremia. Yusuf sesungguhnya adalah seorang pencipta, bukan sekedar ayah dari seorang anak.

Seperti bunyi syair lagu ini, “dari tembok-tembok Kuil ke malam-malam New York, keputusan-keputusan kita berakhir pada seorang bayi.” Bayi natal itu. Dalam setiap langkah hidup kita, dari tempat-temapt paling suci seperti gereja, Bait Allah, gedung-gedung kebaktian ke tempat-tempat yang paling dianggap paling najis, semua keputusan yang kita ambil berhubungan dengan bayi itu. Segala jenis keputusan dalam hidup kita menentukan apakah kita berada di sisi bayi Yesus itu atau di sisi lain.  Dan itu jugalah keputusan-keputusan yang dibuat Yusuf sejak saat itu dan sepanjang hidupnya. Apakah lari ke Mesir menghindari Herodes yang kejam, kembali ke Nazaret, memutuskan untuk membaptiskan anak sulungnya, bahkan sampai menerima kenyataan anaknya mati di kayu salib. Itulah keputusan-keputusan yang diambil oleh Yusuf, untuk menerima, menolak atau melarikan diri.

Ya, Allah telah memilih orang yang tepat. Yusuf si tukang kayu. Yang membesarkan seorang anak yang akan menjadi pertentangan bagi banyak orang, tapi tidak bagi dirinya. Ia menerima bayi mungil itu apa adanya, menanggung apa yang seharusnya ia tanggung, bahkan malu sekalipun,walaupun harus menjadi pengungsi di negeri asing. Banyak dari kita tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi pengungsi. Yusuf melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk menjadi ayah dari seorang anak yang bukan darah dagingnya.

Mengapa pilihan Allah jatuh pada Yusuf bukan pada orang lain? Mengapa bukan seorang hebat dan ternama sehingga Yesus bisa dididik dengan baik? Mengapa bukan dalam istana seperti Musa? Mengapa bukan di rumah seorang kaya atau pembesar sehingga terjamin kesejahtraan dan masa depannya? Kadang kita tak pernah mengerti alasan Allah memilih seseorang dalam misinya. Segala sesuatu tidak terjadi tanpa alasan. Bahkan seorang pembunuh seperti Saulus sekalipun dipilih menjadi Rasul Allah, menjadi pembawa kabar keselamatan dari Allah. Kita tidak pernah tahu. Allahlah yang memilih, bukan kita yang memilih.

Pilihan Allah pada keluarga sederhana ini membuat kita memikirkan lagi ideal-ideal jaman modern dalam hal pendidikan anak-anak kita. Banyak kali kita berpikir bahwa agar supaya anak-anak kita mempunyai masa depan yang baik, mereka harus difasilitasi atau dijejali dengan kepenuhan material ini dan itu. Fasilitas ini dan itu. Tetapi bukankah banyak kasus membuktikan bahwa anak-anak yang hidup dalam serba keterbatasan justru tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri dan hebat? Asalnya mereka diajarkan untuk menerima keterbatasan itu tanpa mengeluh. Bersyukur sekaligus berusaha. Sebaliknya, bukankah sejarah membuktikan bahwa mereka yang dibesarkan dalam serba kecukupan dan kemewahan justru menjadi manja dan hancur ketika berhadapan dengan hidup yang sebenarnya?

Pentingnya peran keluarga membuat Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1994 menetapkan tahun itu sebagai tahun Keluarga.
Mereka yang dididik dalam keterbatasan, telah belajar mendisiplinkan dirinya dan membatasi dirinya dengan apa adanya. Bersyukur dengan apa adanya dan belajar memanfaatkan apa yang ada pada dirinya. Bukankah itu yang diajarkan oleh Yesus? Bukankah prinsip kemandirian dan keswadayaan ini juga yang didengung-dengungkan para ideolog modern jaman sekarang? Sebaliknya mereka yang dididik dalam serba kemewahan akan cenderung menjadi tukang mengeluh, bahkan terhadap hal yang tidak seharusnya dikeluhkan. Mereka yang 'lahir dengan sendok perak di mulutnya' kadang tak tahu bagaimana menggunakan sendok itu. Dengan mengatakan ini saya tidak bermaksud memandang kekayaan dan kemiskinan secara hitam putih berhubungan dengan moralitas seseorang. Banyak juga orang kaya yang mendidik anaknya secara benar, dan banyak juga orang miskin yang mendidik anaknya secara salah. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa kemudahan sering membuat orang lupa akan penderitaan hidup orang lain bahkan lupa akan dirinya sendiri.

Dalam kesulitan, selalu ada jalan bagi mereka yang optimis dan bersyukur. Dan Tuhan tidak pernah tidur, kata orang Jawa. Yesus tidak dibesarkan di istana, di rumah mewah dengan segala fasilitas mewah. Yesus bukan anak manja yang diberi segala kemewahan dan kemudahan. Dari keluarga sederhana itu ia sadar akan siapa dirinya, ia membantu ayahnya sebagai tukang kayu, sampai saatnya Ia harus keluar meneruskan pendidikanNya sebagai rabi dan memilih murid-muridNya.

Joseph, the Carpenter by Georges de La Tour
Pilihan Allah pada keluarga sederhana ini juga membuka mata kita bahwa peletakan dasar pendidikan moral dalam keluarga tidak membutuhkan orang tua dengan pendidikan formal yang tinggi. Setiap manusia punya hati dan punya kasih sayang untuk membenarkan anaknya secara benar. Banyak generasi memberontak karena pendidikan keluarga yang salah. Dan banyak pemberontakan itu datang dari keluarga menengah ke atas, bukan dari keluarga yang sangat sederhana. Banyak generasi hancur karena dasar pendidikan moral dalam rumah tangga yang amburadul. Jika ingin melihat bagaimana pendidikan dalam keluarga lihat saja bagaimana sikap seorang anak. Jadi sangatlah munafik jika saat muncul sebuah kasus hukum atau moral yang memalukan lalu ada orang tua atau kerabat yang berkata: "Ah, anak saya tidak begitu kok. Dia anak baik, itu hanya karena pengaruh teman-temannya saja." Atau "itu dia dijebak saja, dia tidak seperti itu." Pendidikan keluarga adalah dasar bagi pembangunan masyarakat secara lebih luas. Kegelisahan dan pemberontakkan setiap generasi selalu punya hubungan dengan pendidikan keluarga yang tidak beres.

Kita kembali kepada Yusuf si ayah dan si tukang kayu. Kehadiran Yesus dalam hidupnya sungguh merubah segalanya. Mungkin kita berkata “enak dong mendapat privilege menjadi ayah dari Yesus, dari Anak Allah.” Ya memang membanggakan, tapi kita tak pernah tahu bagaimana penerimaan Yusuf saat itu. Kita tak pernah tahu bagaimana pergumulan batin Yusuf. Privilege itu hanya terjadi dalam drama natal abad modern. Kan asyik jadi pemeran utama dalam drama Natal? Dalam kenyataan sebenarnya Yusuf dan Maria tidak berada di atas panggung yang ditontong banyak orang. Mereka tidak sedang ber-acting untuk mendapatkan pujian dan apresiasi. Mereka sedang menjalani hidup senyata-nyatanya. Hidup yang penuh peluh dan airmata. Peneritaan mereka tidak ada yang tahu. Mereka menaggungnya sendiri di hadapan Allah mereka.

Jika kita benar-benar menaruh diri kita dalam posisi Yusuf, belum tentu kita dengan gembira menerima tugas itu. Bukankah dalam banyak tugas dan kewajiban moral dari Allah yang lebih ringan saja, banyak dari antara kita yang tidak merasa nyaman? Bukankah banyak yang menolak? Bukankah banyak yang "melarikan diri"? baik dalam pengertian mental maupun dalam pengertian harfiah. Sebagai pribadi saya berharap bukan sayalah yang ditunjuk Allah untuk menanggung beban seperti yang ditanggung Yusuf. Beban yang membuat kita bukan duduk di singgasana kehormatan, di tempat terhormat, tapi yang membuat kita harus menanggung banyak derita. Dan itu ditanggungnya tanpa mengeluh. Jika kupikirkan lagi betapa besarnya tugas, aku merasa sungguh tak layak. Yusuf ternyata bukan orang kecil, seperti ukuran dunia. Dia sangat besar. Lebih besar dari siapapun. Seorang tukang kayu yang lebih besar dari diriku. Aku tak layak berada di posisinya. Allahlah yang memilih dan melayakkan dia. Aku hanya bisa berkata: “lebih baik kamu Yusuf, daripada saya” seperti yang dinyanyikan The Killers:



Well, your eyes just haven't been the same, Joseph
Are you bad at dealing with the fame, Joseph?
There's a pale moonshine above you
Do you see both sides? Do they shove you around?

Is the touchstone forcing you to hide, Joseph?
Are the rumors eating you alive, Joseph?
When the holy night is upon you
Will you do what's right, the position is yours

From the temple walls to the New York night
Our decisions rest on a child
When she took her stand did she hold your hand?
Will your faith stand still or run away, run away?

When they've driven you so far that you think you're gonna drop
Do you wish you were back there at the carpenter shop?
With the plane and the lathe, the work never drove you mad
You're a maker, a creator, not just somebody's dad

From the temple walls to the New York night
Our decisions rest on a man
When I take the stand will he hold my hand?
Will my faith stand still or run away, run away?

And the desert, it's a hell of a place to find heaven
Forty years lost in the wilderness looking for God
And you climb to the top of the mountain
Looking down on the city where you were born
All the years since you left gave you time to sit back and reflect

Better you than me, better you than me
Better you than me, yes
When the holy night is upon you
Better you, better you
Do you see both sides? Do they shove you around?

Better you than me, Joseph
Better than you than me, better you than me
Joseph, Joseph, Joseph, Joseph
Than me, better you than me
Better you, better you, better you than me

Well, your eyes just haven't been the same, Joseph

2 comments:

Anonymous said...

Better you than me, Joseph.... by fritsdimu

Wesly Jacob said...

aminnnnn......

Today in History