Friday, November 16, 2012

Lagu tidur buat anakku

Billy Joel itu seorang genius. Mendengarkan lagu ini, bila aku bukan seorang ayahpun aku akan merasakan apa yang dirasakan semua ayah yang akan berpisah dari anaknya. Perpisahan dengan anak itu, mungkin karena anak-anak beranjak dewasa, mungkin karena perceraian, mungkin karena tugas atau bencana-- memang tidak mudah.

Tapi aku adalah seorang ayah. Seorang yang berpisah dengan anak-anakku yang masih kecil.

Akupun membayangkan sejumlah hal ketika mendengarkan lagu ini: aku membayangkan kedua anak laki-lakiku ketika mereka menikah dan mereka memilih lagu ini sebagai lagu dansa mereka dengan ibu mereka. Ibu mereka akan memeluk bocah kecilnya untuk terakhir kalinya dan mengingat semua kenangan indah masa kecil bersama mereka. Aku teringat ibuku yang harus melepaskan aku sejak aku berusia enam bulan tinggal jauh bersama kakek dan nenekku karena kesulitan hidup keluarga kami. Aku membayangkan ayahku yang tak pernah memanjakan kami namun jauh di dalam lubuk hatinya aku tahu dia sangat mencintai enam orang anak laki-lakinya.

Aku membayangkan masa kecilku yang indah di rumah nenek dan kakekku dan bagaimana aku sangat berat meninggalkan mereka untuk kembali berkumpul bersama ayah, ibu dan saudara-saudaraku. Aku membayangkan ayahku menangis saat aku membawa istri dan anakku yang masih kecil meninggalkan ayah yang dalam keadaan sakit keras. Itulah terkahir kali aku bertemu ayahku. Aku pulang ke rumah setahun kemudian hanya untuk menemui jenazahnya terbaring kaku di rumahnya.

Aku mengingat ibuku melepasku hampir siang ketika aku akan pergi ke belahan dunia yang lain. Ia hanya berkata: "berangkatlah, bukankah ayahmu telah mengajarkan agar kalian kuat menghadapi kehidupan sejak kalian masih kecil?" Aku mengerti apa yang ibuku katakan, dan ia kelihatannya begitu tegar, setegar tahun-tahun ia mendampingi ayahku meliwati masa-masa sulit kehidupan keluarga kami. Jauh di lubuk hatinya messtilah ia cukup kuat untuk menerima bahwa anak-anaknya telah punya hidup sendiri.

Aku teringat malam-malam di mana aku punya waktu untuk meninabobokan anakku, menyanyikan lagu-lagu Rote yang sering dinyanyikan ayahku ketika kami masih kecil. Jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman di negeri di mana kami sering merasa tak aman di rumah sendiri. Masa-masa yang tak ingin kulupakan, masa-masa yang membuat aku lemah sekaligus kuat karena anak-anakku ada di sekitarku.



Lagu ini juga mengingatkan saya akan setiap anak yang pernah aku ketahui, menangis tapi tak pernah bisa kupeluk. Aku teringat anak-anak yang terpisah dengan ayah atau ibu mereka karena perceraian orang tua mereka, atau karena kematian orang tua mereka.

Aku teringat orang tua yang kehilangan anak mereka sebelum waktunya, harusnya anak-anak mereka yang menguburkan mereka tetapi sebaliknya merekalah yang menguburkan anak-anak mereka. Teringat anak-anak yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua karena, anak-anak terbuang, anak-anak yang mengalami kekerasan, anak-anak yang dibuang orang tua mereka, anak-anak yang tak bisa menikmati masa kecilnya karena harus melakoni tanggungjawab sebagai orang dewasa sebelum waktunya. Kepada semua anak di dunia. Lagu ini mungkin tak akan menyembuhkan luka mereka namun mengutarakan dengan manis sejuta perasaan yang mungkin tak bisa diungkapkan oleh orang yang merasakan nya.



Lullabye ini mengatakan sejuta kata yang kita inginkan diketahui oleh mereka yang kita cintai. Stanza terakhir menawarkan harapan dan janji yang jarang kita temui di hari-hari dewasa ini.

"Someday your child may cry
And if you sing this lullabye
Then in your heart
There will always be a part of me"

Sebuah stanza yang sempurna...Lagu yang luar biasa dan sangat berarti bagi saya. Semoga andapun menghargai lagu ini.

No comments:

Today in History