Wednesday, July 20, 2005

In the Shadow of Mount Ramelau Part II [1]

Dari puncak Ramelau. [Matheos Messakh]

Jalan berbatu menyisir lereng bukit itu sekali diselingi lambaian dan teriakan anak-anak kampung: Malae, Malae! Bondia! Pemandangan yang akrab buat anda jika masuk pedalaman Timor Leste.

Seorang teman Indonesia yang sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini mengeluh soal kebiasaan para malae kulit putih[2] yang biasa memberikan kue-kue atau minuman kepada anak itu yang akhirnya menciptakan kebiasaan minta-minta di kalangan anak-anak kampung.

Tak heran jika, anda tidak hanya mendengar bondia (selamat pagi), boatardi (selamat siang/sore) atau boanoiti (selamat malam) tapi juga teriakan seperti: Aqua!, dosi!, dosi! pertanda mereka meminta kue-kue dan air mineral yang mungkin tersisa dari picnic atau tour of duty para malae.

Di sebuah persimpangan kami tak mampu menolak permintaan sejumlah perempuan dan anak-anak yang meminta tumpangan ke kampung mereka yang akan kami lewati. Mobil yang kami pakai adalah mobil “dinas” sebuah NGO internasional di Dili. Walaupun dipakai berdasarkan persetujuan resmi, aturan kantor tersebut tidak membolehkan kami memuat tumpangan di tengah jalan.

Apa boleh buat, aturan punya latar belakang sendiri yang sering tidak sesuai dengan kenyataan dan rasa hati. Wajah mereka menyiratkan kesenangan yang tak terkira ketika kami sepakat memuat mereka.

Di tengah jalan tak hentinya kami menerima bondia sebagai ucapan selamat datang dari orang tua maupun anak-anak yang berpapasan dengan kami. Lambaian tangan dari kebun atau quintal[3] juga kerap kami balas malas-malas.

Sempat terlintas dalam pikiran saya pertanyaan: “mengapa orang-orang bersahaja dan lugu ini tak pernah pupus semangat perlawanan mereka baik lewat gerilya maupun klandestina?” Mereka tak jauh berbeda dari saudara-saudara mereka di Timor barat misalnya. Bahkan sampai detik ini klaim-klaim untuk membenarkan invasi dan aneksasi Indonesia terhadap Timor Leste mencari pembenarannya dalam koneksitas etnik, kedekatan geografis dan aliasi-aliansi politik tradisional. Jawaban terhadap pertanyaan saya tak mungkin tunggal.

Banyak variabel pengaruh yang mungkin bercampur aduk, yang membangkitkan semangat perlawanan pada suatu bangsa. Namun muncul di kepala saya Amsal yang berbunyi: “susu ditekan maka keluarlah lemak, hidung ditekan maka keluarlah darah”.

Mungkin itulah suatu alasan sederhana yang melahirkan semboyan independente ou morte (merdeka atau mati). Bahkan di antara orang-orang yang kita pandang sangat bersajaha sekalipun. Karena mereka juga bisa merasa sakit jika ditindas.

Lamunan saya buyar ketika kami mulai memasuki sebuah kampung yang sedikit lebih ramai dari satu dua rumah yang kami lewati. Itulah Hatubulico, ibukota sub-distrik Hatubulico di kaki gunung Ramelau.

Senja turun ketika kami tiba di Hatubuilico. Reruntuhan sisa-sisa gedung peninggalan Indonesia masih menampakan wajahnya di sana sini, termasuk tembok sebuah gedung plus papan nama yang bertuliskan ‘Kantor Kecamatan Hatubulico’ yang masih berdiri kokoh.

Kami langsung ke pousada[4] Namerau, sebuah penginapan di tengah kampung. Pemiliknya adalah seorang pengusaha di Dili, yang mengunjungi pousada itu sekali seminggu.

Konon menurut pemiliknya Namerau adalah nama gunung Ramelau dalam bahasa Mambai, bahasa daerah setempat. Untung masih tersedia dua kamar untuk enam orang tim kami. “Biasanya week-end seperti ini selalu penuh” ungkap sang pemilik yang membungkus badannya dengan kain panas wool. 18,5 US Dollar adalah tarif untuk kamar inklusif makan malam, jasa penunjuk jalan ke puncak Ramelau dan sarapan pagi.

Makan malam kami habiskan bersama sejumlah malae muti di sebuah meja panjang mirip the last supper. Beef, ayam goreng plus nasi putih dan salad khas Timor kami santap dengan cepat. Dinginnya malam tak mengurangi hasrat satu dua orang untuk berkenalan di meja makan mengurangi kakunya suasana. Bayangkanlah sendiri bagaimana jadinya jika Chinese, Irish, Dutch, Javanese bertemu di meja makan.

Setelah mengaso sebentar, kasur-kasur pun siap kami tiduri, dan kain-kain panas wool berlapis siap memeluk kami. Jam tiga dini hari kami sudah harus bangun, begitulah kesepakatan dengan sang penunjuk jalan kami. Jam tiga kami pilih sebagai waktu keberangkatan karena perjalanan biasanya memakan waktu selama-lamanya 3 jam. Perkiraan kami, sebelum matahari terbit kami sudah tiba di puncak.

Lima belas menit menjelang pukul 3 dini hari, kamar kami digedor penunjuk jalan. Waktunya berangkat. Selain makanan ringan dan air mineral, tak ada yang boleh dibawa. Satu liter air adalah bawaan yang mungkin terlalu berat untuk pendakian selama dua atau tiga jam.

Perjalanan dari pousada ke kaki gunung masih bisa dilakukan dengan mobil. Mobil putih bertuliskan UN merangkak di pagi buta seakan malas beranjak. Di beberapa pendakian terjal keenam penumpang yang lain harus turun membiarkan Kylie sang sopir menapaki jalan terjal dan berliku sendirian.

Victoria, seorang teman Irlandia, entah bercanda entah serius, sempat menorehkan tanda salib dipundak dan dahi ketika mobil tak mau mendaki di sebuah tikungan terjal. “Just in case” katanya kepada Utari di sebelahnya yang kebetulan menoleh. Keduanya pecah dalam gelak tawa.

Setelah beberapa kali berhenti, sampailah kami di sebuah lapangan luas yang cukup layak disebut base camp. Ternyata sudah ada beberapa mobil di sana. Hatipun sedikit terhibur, setidaknya kami tidak sendiri yang berniat ke puncak di malam buta.

Setelah mobil diparkir, semua penumpang berlompatan bagaikan pasukan gerak cepat. Tak sabar menunggu komando.

Pendakian pun dimulai. Namun, belumlah 500-an meter beranjak, nafas sebagian teman terdengar memburu. “Wah kurang pemanasan nih” canda seorang teman. Canda itu ternyata benar. Utari pusing dan berhenti. Yang lain ikut berhenti. “Hold on for a while, the first step is always worse” kata seorang teman mencoba menyemangati.

Setelah berhenti beberapa menit, Utari mencoba lagi namun sangat berat baginya untuk meneruskan. Ia bertambah pusing dan berkeringat dingin. Napasnya memburu. Keputusan harus segera diambil. Sebagai satu-satunya laki-laki dalam tim, saya memutuskan memapah Utari pulang ke mobil. Anggota tim yang lain meneruskan perjalanan. Pesan saya kepada mereka: Tinggalkan jejak di tengah jalan bila perlu. Setelah memastikan Utari aman dalam mobil, saya kembali mengejar anggota tim yang lain.

Sebenarnya menolong Utari membawa keuntungan tersendiri bagi saya. Saya punya sedikit kesempatan untuk “mencuri” napas. Napas saya sendiri juga tidak jauh lebih baik dari dia.

Di tempat dia berhenti sebelumnya, saya mulai terengah-engah. Mungkin karena sedikit mempercepat langkah, saya lalai mengatur pernapasan. Beberapa kali saya harus berhenti, mengatur pernapasan bahkan tidur terlentang di mana saja saya rasakan aman untuk melemparkan tubuh.

Saya mulai ragu saya bisa menyelesaikan pendakian ini. Pengalaman pendakian-pendakian sebelumnya membuktikan bahwa semakin ke puncak semakin terjal. Kekuatiran akan kemungkinan tersesat juga muncul.

Belum lagi ingatan akan cerita-cerita tentang para ‘penunggu’ tempat-tempat sakral seperti gunung Ramelau ini. Pikiran saya sempat melayang ke draft-draft laporan CAVR. Saya yakin banyak nyawa melayang di sekitar gunung ini. Lampu senter pinjaman di tanganku hanya kunyalakan bila perlu. Bukan karena bulan sedang terang benderang, tetapi karena kuatir melihat sesuatu yang tidak ingin saya lihat atau sebaliknya terlihat oleh sesuatu yang tidak saya inginkan.

Di saat seperti ini barulah saya mengerti betapa penting ucapan Yesus “Akulah terang, Akulah jalan”. Berkali-kali aku menyapa pohon atau batu yang terasa mengerikan, sekedar mohon numpang lewat kepada yang empunya teritori. Dalam perhentian mengatur napas pun sebisa mungkin tidak dekat pohon atau batu yang terasa angker, setidaknya menurut padanganku.

Jika terpaksa, kata permisi tentu mendahului. Dalam pandanganku, mahluk halus juga punya pendekatan teritorial.

Di suatu titik, sambil terbaring mengatur napas menatap bulan purnama, saya mulai merasionalisasi situasi: Saya pasti bisa, asalkan hati-hati mengatur pernapasan. Teringat kata-kata Sir Edmond Hilary dalam poster di dapur CAVR yang berbunyi: Conques:, it is not the mountain we conquer but ourselves. Keraguan lainnya biarlah terbukti dengan sendirinya.

Di titik inilah saya mencoba mengerti mengapa para anggota Falintil[5] tidak takut hantu, mahluk halus dan sejenisnya, walaupun belum tentu mereka tidak percaya akan eksistensi mahluk-mahluk itu. Keinginan untuk mencapai puncak mengatasi sejumlah takut dan kuatir. Lagipula, apa yang akan saya katakan kalau saya pulang tanpa mencapai puncak? Nestor Paz[6] seakan berbisik di telinga: “mati bisa kapan saja, tidak harus di gunung ini”.

Entah sudah berapa lama mendaki, sayup terdengar suara-suara beberapa meter di atas saya. Saya mencoba memberi isyarat kedap-kedip nyala lampu senter. Ada yang membalas. Mungkin itu teman-teman seanggota tim. Cahaya itu terlihat tidak terlalu jauh, namun dalam kondisi tanjakan seperti itu, jarak itulah tidaklah terhitung dekat.

Mengetahui mereka tak lagi jauh di depan, saya sedikit berleha. Sebab setelah masalah napas sedikit teratasi, masalah pinggang kini menyapa.

Seharusnya saya sudah ke tukang pijit profesional di Dili yang katanya diorganisir Pat Walsh, pejuang HAM itu. Tapi saya selalu berpikir sakit pinggang ini akan sembuh dengan sendirinya. Perhentian jadi lebih sering dilakukan karena masalah pinggang ini.

Tas berisi dua kaleng beer, satu can coke, satu liter air mineral, beberapa paun[7] ini terasa begitu berat. Salah satu jalan keluar adalah meminum air itu untuk mengurangi rasa berat. Terlalu sayang meminum atau membuang beer di tengah jalan. Puncak Ramelau layak menantikan yang lebih berarti.

Setelah merangkak maju beberapa saat, di sebuah dataran yang agak landai, satu orang teman tersusuli. Ternyata bukan saya sendiri yang mengalami masalah pernapasan. Kylie, malae yang mengaku empat tahun tinggal di Kupang, juga sedang duduk bersandar. Di sebelah kiri kami nampak pemandangan yang luar biasa indah. Sebuah kota di malam hari. Entah kota apa itu, kami berdua sama tak tahu.

Setelah beberapa kali menunggui Kylie berhenti, satu lagi teman tersusuli. Kasusnya tak jauh berbeda: masalah napas. Kylie dan Ruth akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Walau Ruth yang berasal dari Belanda ini sangat berkeinginan untuk sampai ke puncak, napas tidak kompromi rupanya. “saya dari Belanda, kamu tahu Belanda sangat datar, karena itu sangat ingin sekali melakukan hal seperti ini” katanya siang tadi. Kata-kata ini mengingatkan saya kepada Laurens teman Belanda saya di hutan-hutan daerah Chatchwork House, Inggris tengah pada summer dua tahun lalu.

Saya terpaksa meninggalkan mereka. Ransel saya berikan kepada penunjuk jalan yang berbalik menemui kami. Karena lebih sering berhenti, napas saya semakin membaik. Namun pinggang semakin sakit.

Di sebuah aliran sungai mati, pergelangan kaki saya mulai kejang. Victoria yang sejak tadi jauh di depan, kembali mencoba menolong saya. Sedikit pijatan di pergelangan kaki membuat saya lebih baik. Ingin rasanya duduk lebih lama, tapi Selma yang berdiri beberapa meter di depan mendengar suara-suara di depan.

Setelah keluar dari kali kering itu, tampaklah sejumlah tenda dan sebuah api unggun dan beberapa ekor kuda. Beberapa anak-anak remaja sedang berkumpul di sekitar api unggun.

Rupanya mereka penunjuk jalan untuk para malae Portugis yang sedang nyenyak di beberapa tenda di sekitar situ. Hari masih gelap memang ketika Base camp kedua terpijak kaki kami. Satu dua ucapan basa basi, beberapa shot kamera dan satu pertanyaan standar kepada para penunjuk jalan: “berapa jauh lagi perjalanan?” Kira-kira lima belas menit kata mereka.

Pengalaman bertanya kepada orang di pedalaman Timor mengatakan kepada saya bahwa lima belas menit bisa berarti kelipatan dua atau tiga dari lima belas. Satu puntung rokok masing-masing terbakar habis dari jemari Victoria dan Selma, satu can coke untuk Victoria dan satu dua percakapan di sekitar api unggun mengakhiri masa bahagia kami di kamp ini.

Dua batang rokok terpaksa diberikan kepada dua orang remaja yang agak besar yang meminta dengan harap. “La bele fuma” dan “saude” [8] begitulah beberapa potong kata bahasa Tetun yang bisa saya mengerti dari ocehan Selma terhadap anak-anak itu. Perjalanan harus dilanjutkan.

Lagi-lagi saya harus ketinggalan di belakang mereka. Kadang mereka menunggu, kadang tidak. Saya meminta mereka maju terus. Terasa mereka melesat begitu cepat ke depan. Beberapa menit mendaki saya hampir menyerah. Entah berapa jauh lagi.

Saat bersadar ke sebuah karang, saya memperhatikan pohon-pohon makin meranggas tanpa daun, lumut makin panjang menggantung. Saya tahu puncak semakin dekat.

Saya paksakan diri berjalan beberapa meter lagi. Langit nampak semakin terang, namun matahari belum juga muncul. Sekali mengangkat kepala terlihat sebuah salib. Saya tahu itu puncak.

Semangat bangkit seketika, namun pinggang tetap tak bisa diajak berkompromi. Semakin ke puncak, semakin nampak belasan sampai puluhan orang bergerombol. Suara percakapan mereka semakin jelas.

Untuk mengelabui rasa malu, tangan yang sejak tadi memegang pinggang saya pindahkan ke kamera. Saya pura-pura mengambil sejumlah shot sambil berjalan perlahan maju. 'Bon dia' saya sampaikan kepada mereka yang duduk di tangga pantung Bunda Maria di puncak. “I make it somehow” kata saya kepada Victoria yang menyambut dengan pelukan dan gelak tawa beberapa orang.

Thanks God I am here now. Aksi foto-foto kemenangan pun dimulai. Berselang beberapa detik, Loro pun sa’e[9] malu-malu di atas permadani putih awan.

Mungkin karena terlalu bergembira, bekal makanan tidak disentuh. Hanya beer dibagikan. Satu kaleng untuk seorang teman Victoria, sesama Irlandia yang baru dikenal dan entah satu lagi untuk saya, Victoria dan Selma. “In Tiger we united!” kata Selma.

Sekitar 30 menit bertengger di puncak, kami harus turun. Sebenarnya saya ingin berlama-lama, mengingat pencapaian ini tak gampang bagi saya. Tapi Victoria kuatir akan keadaan mereka yang tinggal di base camp pertama. Kedengaran mirip slogan politik: kalau sudah naik jangan lupa turun. Walau saya tidak sedang berpolitik, saya memang enggan turun.

Perjalanan turun dilalui dengan lebih banyak foto-foto, maklum hari sudah terang. Jika tidak mengingat keterbatasan daya tampung chip kamera, inginnya rasanya semua hal difoto.

Melewati tenda-tenda di base camp kedua, lutut kanan saya mulai bermasalah. Masalah lutut ini memang masalah lama saya yang saya dapati ketika melintasi bukit-bukit dan lembah di daerah Molo, Timor Barat beberapa tahun silam. “I thought it was much more easier to go down than to climb but it isn’t.”

Beberapa kali saya terjatuh. Belum lagi ditambah kengerian melihat ke bawah, suatu hal yang tak begitu terasa saat mendaki di malam.

Akhirnya saya menemukan kayu yang bisa dijadikan tongkat sekedar membantu tatih-tatih langkah saya menuruni lereng-lereng Ramelau. Matahari semakin menyegat saat separuh jalan ditempuh. Satu dua kali berpapasan orang-orang yang baru melakukan pendakian di pagi hari. “Have a nice climb” sapa saya dalam langkah serupa pendekar bertongkat.

Sekitar pukul sembilan saat saya merapat ke mobil-mobil di base camp pertama. “I climb up with two legs and came down with three” kataku kepada yang lain yang sudah menunggu.

Oleh-oleh foto dari puncak ku pamerkan kepada mereka yang tertinggal di landasan (bukan tinggal landas). Masing-masing meminta bagian.

Beberapa menit kemudian, mobil kami kembali ke pousada. Sarapan pagi tentunya sudah menunggu. Namun ternyata tidak. Kami harus menunggu beberapa saat sebelum kue....dan kopi diantar ke pousada.

Sekitar pukul sebelas mobil pick up putih kami meninggalkan pusat kampung Hatubuilico. Meninggalkan orang-orang kampung yang sedang mengalir ke pusat kampung menyambut kedatangan Presiden Kairala Xanana Gusmao.

Di tengah jalan kami berpapasan iring-iringan mobil sang presiden. Sontak saya melompat dari mobil untuk mengambil foto presiden kebanggaan saya itu, sayang kaca mobilnya agak tertutup. Hanya anaknya melambai dari balik jendela. Langit begitu cerah ketika mobil kami merayap jalan-jalan berbatu sepanjang pegunungan yang kami lalui. Baru saya sadari sebelah kiri kami selalu gunung dan sebelah kanan kami jurang.

Di jalan-jalan ini kemarin saya hanyut dalam lamunan saya. Kini saya terhanyut dalam pandangan saya ke puncak Ramelau yang makin tertinggal jauh di belakang.

Seandainya saya kenal George Aditjondro secara pribadi, mungkin saya akan bercanda: anda menulis tentang Ramelau tapi saya sudah menginjak puncak Ramelau. Ternyata, menaklukkan Ramelau tak dengan sendirinya membuat saya menaklukkan diri sendiri untuk tidak bersombong.

Sebuah kemenangan tak berarti itu sudah selesai. Mungkin itu juga perbandingan yang tepat untuk Timor Leste. Kemerdekaan yang diperoleh diabad–21 ini tak boleh dipakai berpuas-puas layaknya orang menaklukkan gunung. Setelah mendaki, pasti ada jalan menurun yang belum tentu lebih mudah.

Membangun diri sebagai sebuah bangsa tak kalah beratnya dari perjuangan bersenjata. Musuh yang dulu kelihatan, kini semakin kabur, namun bahaya dan resiko tetap sama, seperti halnya jatuh dari lereng sebuah gunung entah siang entah malam.

Mobil pinjaman kami seakan malas beranjak dari lereng-lereng terjal Hatubuilico. Teriakan anak-anak kampung masih juga terdengar, malas terbalas lambaian tangan kami.

Selamat tinggal Ramelau. Selamat tinggal Hatubuilico. Selamat tinggal sejarah dan keagungan. Kalau tak ada yang dikenang kita ketiadaan modal untuk hidup; kalau tak ada yang dilupakan, kita terlalu berbeban untuk maju.

Bidau Masau, Dinihari, 27 Juni 2005.

[1] Judul ini hanya pelesetan dan bukan sequel dari buku George Junus Aditjondro yang berjudul: In the Shadow of Mount Ramelau: The Impact of Indonesian Occupation of East Timor, Leiden. Diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan HAK dan Fortilos pada tahun 2000 dengan judul : Menyongsong Matahari Terbit di Puncak Ramelau: Dampak Pendudukan Timor Lorosae dan Munculnya Gerakan Pro Timor Lorosae di Indonesia.
[2] Malae adalah sebutan orang Timor untuk orang asing atau segala sesuatu yang berasal dari luar. Kemungkinan berasal dari kata “melayu” yang mengindikasikan kontak-kontak awal orang Timor dengan kebudayaan asing yang dipahami sebagai yang berasal dari Melayu. Malae dapat juga merupakan kata keterangan misalnya kambing di sebut bibi, sedangkan domba yang kemungkinan dikenal lebih kemudian disebut bibi malae. Orang Indonesia pun disebut malae dan lebih luas digunakan terutama setelah pembebasan Timor Leste. Untuk membedakan dengan ras kulit putih, ras Asia seperti Indonesia atau ras Afrika disebut malae metan (malae hitam), sedangkan ras kulit putih di sebut malae muti (malae putih).
[3] Quintal adalah kata Portugis untuk halaman sekitar rumah yang juga digunakan untuk menanam palawija dan tanaman produktif seperti jagung, kentang dan ketela rambat. Kata quintal kemungkinan merujuk kepada seberapa besar ukuran hasil bumi yang dihasilkan saat panen.
[4] Pousada adalah kata Portugis untuk penginapan atau Inn. Di Timor Leste terdapat sejumlah pousada peninggalan jaman Portugis yang di jaman Indonesia dimanfaatkan secara beragam, mulai dari kantor pemerintah, penginapan milik gereja ataupun tempat penyiksaan.
[5] Forças Armadas de Libertaçao Nacional de Timor Leste, Tentara Pembebasan Nasional Timor Leste.
[6] Nestor Paz adalah seorang pastor yang mengangkat senjata melawan penguasa dukungan US di Columbia.
[7] Roti khas Timor.
[8] La bele fuma = Dilarang Merokok, saude=kesehatan. Selma yang kini lancar berbahasa Tetun, mengaku La bele fuma adalah kalimat bahasa Tetun yang pertama ia kenal saat tiba di Timor beberapa tahun lalu. Saya menduga Selma mengkhotbahi anak-anak ini soal bahaya rokok. Tentu saja tak akan mempan karena ia sendiri perokok lumayan berat.
[9] Loro = matahari, Sa’e = naik. Loro sae berarti matahari terbit. Timor Lorosae secara harfiah berarti Timor Matahari terbit atau Timor bagian Timur.

2 comments:

Anonymous said...

Just change the spelling of the following greetings:

Bom dia

Boa Tarde

Boa Noite

theny said...

senang membacanya...

Today in History